Bulukumba Tahun 2100

Bulukumba Tahun 2100

EP
Andika Mappasomba
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Di tengah kota, pasar lama telah disulap menjadi museum yang megah. Koleksinya yang dari Belanda dan benda-benda antik sumbangan masyarakat di museum tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan membuatnya selalu ramai dikunjungi. 

Di museum itu tersimpan dengan lengkap tentang rekam sejarah Bulukumba. 

Nama-nama mantan Bupati pun terpajang di  sana, diantaranya, Besse Amelia, Khidir Manggorai, Hamzah Pangki, Edi Manaf, A. Mahfud, Zainuddin Hasan, AM Syukri, A. Patabai Pabokori, dan puluhan nama lainnya, yang berderet rapi di sisi dinding sebuah ruangan yang diberi nama, Mantan Bupati. 

Sayangnya, di ruangan tersebut tak dijelaskan tentang nama-nama mantan Wakil Bupati dan Kepala-Kepala Dinas. Apalagi nama camat, lurah atau pun kepala desa.

Di depan museum tersebut terdapat sebuah prasasti bertuliskan, Museum Pinisi, dibangun tahun 2098, atas bantuan sukarela (BUKAN APBD) oleh H. A. Abdul Karim SS.

Baca Juga

Di belakang museum tersebut, berdiri megah juga sebuah gedung kesenian yang selalu ramai dengan pertunjukan-pertunjukan seni. Baik seni tradisi lokal yang khas, juga pertunjukan seni moderen yang menggunakan teknologi yang rumit. 

Sementara itu, di Lapangan Pemuda, depan kantor pemerintah yang berlantai 25, terdapat sebuah taman kota yang dilengkapi dengan wahana air yang bersambung ke laut. 

Kantor pemerintah yang dipusatkan dalam satu bangunan megah tersebut, selalu terasa adem. Apalagi diperindah dengan wahana air yan dibangun bersama taman kota yang juga megah.

Di halaman gedung tersebut juga terdapat sebuah prasasti bertuliskan Gedung Pemerintah dibangun tahun 2097, atas bantuan sukarela (BUKAN APBD) oleh H. A. Abdul Karim SS. 

Pasar Sentral yang terletak di Dusun Ponci (pinggiran kota Bulukumba), juga berlantai tinggi. 

Halamannya luas dan sangat bersih. Tak ada bau tak sedap dan sampah yang berserakan. Puluhan orang berpakaian LIMNAS selalu tersenyum menyambut siapa saja yang datang di pasar tersebut. 

Di sebuah pertigaan jalan, terdapat sebuah bangunan tua yang menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dulunya, bangunan tua tak terurus itu adalah sebuah Mal.

Mal yang dibangun oleh seorang bupati, pada tahun 2011. Namun karena terlalu sering terjadi kecelakaan, Mall tersebut akhirnya ditutup karena kehabisan pengunjung pada tahun 2019an. 

Sebuah Bandara juga dibangun di pinggiran kota. Umumnya yang mendarat di sana adalah helikopter. Itu pun, hanya penjual ikan dan sayur dari pedalaman saja yang memanfaatkannya.

Entah apa lagi yang dijabarkan oleh kawan saya dengan imajinasinya. Saya tidak tahu lagi dengan hal apa yang dibahasnya saat mata saya sudah terlelap. 

Saya juga tak tahu apakah dia masih bicara atau tidak, saat saya sudah lelap.

Saat saya terbangun, saya mendapatinya sedang berlumuran air mata dan tersedu-sedu dalam tidurnya yang tampak lelap. 

Saya mencoba menenangkan diri dan mencoba mengingat-ingat tentang pembicaraan kami semalam menjelang tidur. 

Yah, saya ingat. Dia sedang berimajinasi Bulukumba di tahun 2100. Mungkin dia menangis karena mengetahui, pada tahun itu, dia telah wafat dan mungkin kuburannya telah digusur dan dibanguni Mall-Mall baru. 

Atau mungkin saja, dia sadar bahwa imajinasinya adalah kritik tentang kenyataan tentang kebudayaan dan kotanya yang kehabisan akar humanitas.
 
Bulukumba, 18 November 2011
Andhika Mappasomba, Pegiat Sastra dan Literasi Budaya, Alumni Fakultas Sastra Universitas Islam Makassar.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.