Cek Fakta : Benarkah Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Komentari Pendidikan Di Indonesia

Cek Fakta : Benarkah Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Komentari Pendidikan Di Indonesia

AT
Admin Terkini
Oliviane Nuah

Tim Redaksi

Terkini.id, – Sebuah kutipan dari mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohammad ramai beredar di media sosial dan tersebar sejak akhir pekan ini. Salah satu akun Facebook Peter F. Gontha memposting di Facebooknya pada Minggu, 22 November 2020 dengan menambahkan caption, “ Apa betul ini tulisan Mahathir?

Cek Fakta : Benarkah Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Komentari Pendidikan Di Indonesia
Tangkapan layar Facebook Peter Gontha berisi pernyataan Mahathir Mohamad (Cek Fakta)

Dalam postingan tersebut terdapat foto Mahathir Mohamad dengan narasi sebagai berikut,

“…PELAN-PELAN anak-anak sekolah negeri di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains. umurnya habis untuk menghafal ayat-ayat dan doa, belajar soal haram, dosa, bidadari, menghitung pahala, mencari dalil, memikirkan akerat. Setelah kalah bersaing lalu memusuhi pemerintah dan mendirikan negara syariah sebagai solusi semuanya…” (Mahatir Muhammad).

Postingan tersebut mendapat ratusan komentar dan telah dibagikan lebih dari seratus kali.

Namun benarkah kutipan tersebut dari Mahathir Mohamad seperti yang tersebar di media sosial?

Baca Juga

Cek fakta melalui Liputan 6.com menelusuri fakta dan tidak menemukan artikel yang menyebutkan jika Mahathir Mohamad mengomentari Pendidikan di Indonesia.

Yang ada adalah artikel terkait Pendidikan di Malaysia, tayang pada 3 Januari 2019 berjudul, “Mahathir Kurangi Jam Belajar Agama di Sekolah Malaysia”

Ada juga artikel yang diterbitkan Kompas.com berjudul, “ Malaysia Berencana Kurangi Fokus pada Pelajaran Agama” tayang pada 11 Januari 2019.

Jawapos.com juga menerbitkan artikel pada 24 Desember 2018, berjudul, “Mahathir Kurangi Pelajaran Agama Islam di Sekolah, Ini Alasannya.”

Berikut isi artikel yang dikutip dari JawaPos.com :

JawaPos.com – Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan, kurikulum sekolah nasional di Malaysia akan dirombak. Hal itu dilakukan karena menurutnya, sekolah-sekolah sekarang lebih menekankan mata pelajaran soal Islam dan tidak dengan mata pelajaran lainnya, seperti bahasa Inggris.

Menurutnya, keseimbangan ini penting dilakukan agar nantinya para siswa bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. “Mereka semua belajar tentang agama Islam dan tidak belajar hal lain,” katanya dilansir dari Straits Times.

“Akibatnya, mereka yang lulus di sekolah tidak terlalu fasih dengan mata pelajaran yang berguna bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi mereka jadi ulama yang sangat baik,” tambahnya.

Rencananya ini jelas akan menimbulkan perdebatan di negara konservatif tersebut. Apalagi, pada pemerintahan sebelumnya Malaysia menjalankan saluran TV yang memunculkan ulama konservatif.

Namun, Mahathir mengatakan, apa yang dia lakukan semata-mata agar anak-anak di Malaysia bisa mendapat kehidupan yang lebh baik.

Sistem sekolah dasar Malaysia dibagi menjadi sekolah-sekolah nasional yang dihadiri oleh sebagian besar Muslim Melayu. Sementara sebagian besar etnis Tiongkok dan India bersekolah di sekolah-sekolah bahasa Cina dan Tamil.

Mahathir menjelaskan, dia ingin mengurangi pengajaran mata pelajaran yang terkait dengan Islam di sekolah-sekolah nasional.

“Kami akan mengubah jadwal dan kurikulum di sekolah-sekolah, kami masih akan belajar agama, tetapi tidak semua periode dalam satu hari, mungkin satu atau dua periode dalam seminggu,” katanya.

“Jika kita ingin maju, orang Malaysia harus berpendidikan, tidak hanya dalam membaca Quran, tetapi juga dalam bahasa lain. Jika tidak, kita akan menjadi sangat terbelakang.”

Dari penelusuran tersebut tidak ditemukan pernyataan Mahathir menyoal Pendidikan di Indonesia, jadi bisa dipastikan meme tersebut adalah HOAX/TIDAK BENAR/SALAH

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.