Terkini.id, Makassar – Salah satu Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Makassar yakni Koordinator Divisi Tekhnis Penyelenggara KPU Makassar, Gunawan Mashar berbagi cerita setelah dirinya dinyatakan positif terpapar Covid-19.
Dia mengaku pada akhirnya menyerah. Demam dan dada yang kian sakit memaksa untuk meninggalkan isolasi mandiri di rumah, dan mau tak mau harus dirawat.
Cerita itu dia bagikan di media sosial pribadinya yakni di Facebooknya @Gunawawan Madhar di pada Kamis 31 Desember 2020 kemarin.
Berikut ini cerita Gunawan Mashar yang berhasil dia bagikan dan memberi izin kepada redaksi terkini.id untuk diberitakan. Simak ceritanya:
Pasien Isolasi Covid-19
(Catatan 1)
- Innalillahi, Putra Mantan Gubernur HZB Palaguna, Mawang Palaguna Meninggal Dunia
- Bupati Andi Utta Apresiasi KM Bulukumba di Rantau yang Konsisten Berkurban untuk Kampung Halaman
- Perjalanan Telkomsel Selama 31 Tahun Menjaga Semangat 'Melayani Sepenuh Hati'
- Kisah Haru Opa Liu, Warga Kelahiran Makassar yang Bangun "Indonesia Kecil" di Tiongkok
- MaxOne Hotel & Resort Makassar Gelar Salat Ied dan Salurkan Daging Kurban ke Warga Sekitar
Pada akhirnya saya menyerah. Demam dan dada yang kian sakit memaksa untuk meninggalkan isolasi mandiri di rumah, dan mau tak mau harus dirawat.

Hari masih sangat pagi, istri saya ngebut menuju RS Dadi, membawa saya yang terbaring di kursi belakang.
Setelah tiba di sana, saya langsung ditangani perawat yang berpakaian hazmat, sementara istri saya mengurus administrasi dan mengisi form kesepakatan: kerelaan ‘melepas’ saya sendirian untuk ditangani tim kesehatan dan tentu saja mengikuti prosedur Covid-19 jika terjadi apa-apa pada saya.
Saya diisolasi di rumah sakit, dengan kondisi yang cukup serius sulit bernapas, tubuh yang melemah karena trombosit saya turun terus, batuk, dan nafsu makan yang hilang.
Justru indra penciuman dan perasa saya masih tetap berfungsi.
Sejak masuk, saya dipakaikan alat bantu pernapasan dengan selang kecil dipasang di dua lubang hidung, yang terhubung dengan regulator oksigen. Tapi hanya sebentar, karena tak mempan.
Napas saya tetap ngap-ngapan. Selang saya diganti seperti selang nebu, dengan ditambahi pelampung udara. Bukaan oksigennya juga maksimal.
Di dua hari pertama di rumah sakit, masa tersulit bagi saya. Alat bantu yang dipakaikan belum bisa membuat saya lega bernapas. Masih putus-putus.
Perawat selalu mengukur kadar oksigen dalam darah saya dengan memakai oximeter.
Alat itu membaca bahwa kadarnya masih normal, karena di atas 90. Rata-rata pasien yang ‘selesai’ di bawah 90.
“Tapi ini tergantung pasien. Kalau cemas berlebihan, ini yang akan membuat semakin drop dan sulit bernapas. Tapi kalo semangat hidupta besar, ini yang akan melawan virus,” kata salah seorang perawat yang tak henti menyemangati saya.
Ia seperti malaikat saya saat itu, yang membaluri sekujur tubuh saya dengan minyak kayu putih sambil mengajar saya mengatur napas.
Malam itu, terasa sangat panjang. Saya merasa kian tercekik, napas saya kadang terhenti.
Di saat-saat itu, semua kenangan terentang di ingatan saya. Saya ingat almarhum ayah saya, ibu saya, saudara-saudara saya.
Saya seperti melihat kembali ekspresi istri saya di ruang bersalin saat melahirkan anak pertama kami, Cani. Saat-saat Cani mulai tumbuh, pertama kali ia bisa berbicara, benyanyi.
Kala mengantar Cani pertama bersekolah, dan pulangnya hendak makan es krim, tapi uang saya tak cukup.
Sayup-sayup juga saya mendengar suara anak kedua saya, Abi bernyanyi ‘Bella Ciao’. Seakan ajakan untuk melawan dan tak menyerah.
Semua kenangan yang muncul, seolah diorama yang saya susuri jelang menyudahi hidup.
Saya pasrah. Saya berserah diri pada Tuhan. Saya ucapkan selamat tinggal pada bumi yang indah. Terlintas pula suara lirih James Labrie menyanyikan The Spirit Carries on.
“But please never let
Your memories of me disappear.”
Napas yang tersengal-sengal, justru membuat saya tertidur. Saat bangun pukul 03.00 WITA pagi, saya perlahan bisa mengatur napas.
Gunawan kemudian menceritakan awal dirinya positif terpapar Covid-19. Berikut pengakuannya:
Saya merasa mulai terserang virus di tanggal 10 Desember 2020, sehari setelah pemungutan suara.
Celakanya, virus menyerang di saat saya kelelahan, setelah tahapan persiapan pemilihan wali kota dan wakil walikota Makassar yang cukup panjang.
Di tanggal 12 Desember 2020, kaki saya dingin dan menggigil, badan saya panas.
Saya mulai tidak kuat berjalan. Bawaannya mau berbaring. Tanggal 13 Desember 2020 saya istirahat full, berharap bisa baikan besoknya, di saat rekapitulasi tingkat kota dimulai.
Saya ikut pembukaan rekap tingkat kota hingga sore, tapi malamnya saya tak kuat lagi. Demam saya kian menjadi, dan saya mulai lemas.
Tanggal 16 Desember 2020 saya ke RS Siloam. Awalnya disangka kelelahan. Saya di swab, hasilnya positif. Dokter lalu memberikan pilihan, mau isolasi mandiri atau langsung dirawat.
Saya memilih isolasi mandiri, anak saya ungsikan ke rumah mertua. Berharap kondisi membaik, malah sebaliknya.
Tiga hari isolasi mandiri kesehatan saya memburuk. Di pagi hari yang masih gelap, di tanggal 20 desember istri saya ngebut membelah jalanan Makassar, membawa saya yang terbaring di kursi belakang ke rumah sakit.
Demikian unggahan Gunawan di dinding Facebook pribadinya yang dia lengkapi dengan sebuah foto alat pernapasan di sebuah ruang perawatan rumah sakit.
Dari pantauan redaksi terkini.id, unggahan milik Gunawan tersebut banjir komentar. Ada yang mendoakan, ada pula yang menyemangatinya.
Salah satunya datang dari mantan Jubir Wakil Presiden Jusuf Kalla, Husain Abdullah.
Tidak tau mau menulis apa di sini, semua doa pun sudah tertuliskan. Tapi ijinkan menuliskan rasa sedih piluku membaca Gunawan sedang sulit-sulitnya bernafas.
Ia membayangkanmu sedang diombang ambing gelombang air bah mengapung terhempas dan tenggelam hingga tidak mampu menarik napas pun menatap, hidup terasa sesak, gelap-gulita.
Yang membuatmu hidup kini, adalah kamu masih menulis, itulah pengganti paru paru, denyut jantungmu hingga kamu masih berhak untuk hidup.
“Karena tulisan ini membuatmu didoakan banyak orang. Semoga Allah mendengar satu diantara doa sahabat sahabat pencintamu itu. Aamiin YRA,”tulisnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
