Cerita Udin, Bisa Sekolahkan Adiknya dari Hasil Jualan Kue Tradisional Buroncong

Penjual kue tradisional buroncong di Maros, Udin. (Foto: Rahmatullah)

Terkini.id, Makassar – Di pagi hari apalagi di musim hujan yang dingin, enaknya menghangatkan perut dengan makanan ringan, salah satu yang bisa jadi pilihan adalah kue tradisional khas Makassar Buroncong.

Buroncong juga disebut baroncong serupa kue pancong di tanah Jawa terbuat dari campuran tepung terigu, santan, parutan kelapa muda, gula pasir dan garam di bakar dengan cetakan khusus di atas tungku kayu, bentuk buroncong cukup unik mirip kue pukis, menyerupai setengah lingkaran tapi agak lonjong.

Kue ini bercita rasa manis dengan sensasi renyah, yang berasal dari kelapa parut, buroncong sudah menjadi pilihan makanan ringan di Makassar sejak masa lampau, biasanya kue ini mudah ditemukan di pinggir jalan dengan gerobak, terutama pada pagi hari.

Udin (24) asal Pangkep ini mencoba wirausaha menjual baroncong di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ia berbekal pengetahuan membuat buroncong dari sang bapak yang juga penjual buroncong.

Waktu penjualannya mulai jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Udin berjualan di tepi jalan dekat Pasar Batangaseh Kecamatan Mandai, Maros.

Menarik untuk Anda:

Udin mengaku dapat menghabiskan 25 kg adonan baroncong per harinya dengan keuntungan yang lumayan dapat menyaingi gaji pegawai.

Sudah 4 tahun Udin berjualan baroncong. Ia juga memiliki banyak langganan tetap. Udin bisa membangun rumah, membeli motor dan menyekolahkan adiknya dari hasil berjualan kue buroncong.

Awalnya, ia malu berjualan kue yang katanya ini sudah terkesan jadul, namun setelah dirinya mendapatkan hasilnya, ia tidak malu lagi berjualan kue buroncong, karwna ternyata pendapatan dari berjualan buroncong dapat menyaingi gaji pegawai.

’Dalam sehari berjualan bisa ka dapat keuntungan bersi Rp 220.000 di kali 30 hari kita mi jumlahki,” ujar Udin sambil tersenyum.

Rachman (30) salah satu pelanggan setianya mengakui bahwa kue buroncong yang dijual oleh Udin ini tergolong beda dari kue buroncong pada umumnya.

Pasalnya, kue ini begitu terasa kelapa serta ciri khas rasa yang tidak dimiliki pedagang kue buroncong lainnya.

“Ada rasa yang beda dari pedagang buroncong yang lain, kalau ini ada rasa-rasa yang bikin kita mau nambah kalau kue yang kita beli sudah habis, kalau yang lain kalau sudah habis ya sudah,” ujarnya.

Itulah sedikit cerita dari Udin, pedagang kue buroncong dari Kabupaten Maros.

Semoga pengalaman dari Udin ini bisa memotivasi untuk kalian kaum muda agar semangat dalam bekerja dan menciptakan lahan kerja baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Penulis : Rahmatullah. J (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Makassar)

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Lomba Makan Cepat Pangsit Mie Palu Berlangsung Seru, Ini Juaranya

Olympic Bakery Siapkan Tujuh Varian Kue Bulan untuk Sambut Festival Musim Gugur 2020

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar