China Meradang Ancam Beri Balasan Usai Amerika Jual Artileri ke Taiwan

Terkini.id, Beijing – China meradang ancam beri balasan usai Amerika jual artileri ke Taiwan. Pemerintah China gusar terhadap langkah Amerika Serikat (AS) yang menyetujui penjualan 40 sistem artileri howitzer ke Taiwan.

Seperti diketahui, Beijing selama ini mengklaim Taiwan adalah bagian dari wilayahnya dan bersumpah akan merebut bahkan dengan kekerasan jika perlu.

Kementerian Luar Negeri China mengecam penjualan senjata itu dan mengancam akan mengambil tindakan balasan.

Baca Juga: China Beberkan Babak Belur ‘Dihajar’ Banyak Krisis, Indonesia Kena Apesnya?

Beijing menganggap langkah penjualan senjata dari Amerika Serikat itu mencampuri urusan dalam negeri China.

“Sangat menentang penjualan tersebut dan telah mengajukan pernyataan serius dengan Amerika Serikat,” terang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Kemlu China dalam pernyataan di situs resmi kementerian, seperti dikutip dari Reuters, Kamis 5 Agustus.

Baca Juga: Meninggal Karena Bunuh Diri, Abu Selebgram Ini Dicuri Abunya Untuk...

Kantor Urusan Taiwan di China meminta AS menghentikan semua penjualan senjata ke Taiwan agar tidak mengirim sinyal yang salah kepada pasukan pro kemerdekaan.

Kemenlu AS sendiri, seperti dilansir dari CNNIndonesia, Jumat 6 Agustus 2021, sebelumnya menyetujui penjualan 40 sistem artileri howitzer dengan nilai 750 juta dolar AS atau sekitar Rp 10,7 triliun.

Persetujuan itu akan menjadi penjualan senjata pertama pemerintahan Presiden Joe Biden ke Taiwan. Kini rencana penjualan itu menunggu persetujuan Kongres.

Baca Juga: Meninggal Karena Bunuh Diri, Abu Selebgram Ini Dicuri Abunya Untuk...

Howitzer yang digadang-gadang menjadi kunci utama menghentikan invasi, memungkinkan militer Taiwan mengarahkan tembakan ke kapal pengangkut pasukan yang masuk ke wilayah itu.

Howitzer menembak dalam sudut tinggi dan memiliki daya penghancur yang sangat besar karena proyektil yang dilontarkan.

Taiwan memiliki pemerintahan sendiri, namun mereka hidup di bawah ancaman invasi China.

Kesepakatan itu juga disebut akan membantu pulau itu menghadapi invasi China.

Sementara itu, Kemenlu Taiwan menyebut senjata itu juga akan membantu memperkuat pertahanan diri serta perdamaian dan stabilitas kawasan.

Kendati tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan lantaran kebijakan ‘Satu China,’ Washington dan Taipei memiliki perjanjian kerja sama. Pakta kerja sama itu meliputi bidang ekonomi hingga pertahanan.

Dalam perjanjian itu, AS memiliki tanggung jawab membantu Taiwan melindungi diri dari ancaman agresi China.

Hubungan China dan Taiwan terus memburuk setelah Taipei dipimpin Presiden Tsai Ing-wen.

Ia merupakan Presiden Taiwan yang pro demokrasi. Sejak memimpin pada 2016, Tsai terus berupaya mencari pengakuan internasional bagi Taiwan, termasuk dengan mendekatkan diri ke AS.

Namun, Presiden China Xi Jinping berkeras tidak akan membiarkan Taiwan merdeka. Ia bahkan bersumpah akan melakukan segala cara, termasuk perang militer guna mempertahankan Taiwan.

Bagikan