China Tuding Amerika dan Sekutunya Lakukan Pelanggaran HAM di Afghanistan

Terkini.id, Kabul – China tuding Amerika dan sekutunya lakukan pelanggaran HAM di Afghanistan. Utusan China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Chen Xu menegaskan Amerika Serikat (AS) dan sekutu militernya seperti Inggris, Jerman, dan Australia harus bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di Afghanistan.

Menurutnya, kekacauan itu tidak akan terjadi seandainya AS tidak gegabah melakukan operasi militernya di Afghanistan pasca peristiwa ’11 Septermber 2001’ atau ‘9/11’.

“Amerika, Inggris, Australia, dan negara-negara sekutunya harus bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang dilakukan militernya di Afghanistan,” tegas Chen Xu dalam sesi darurat di Dewan HAM PBB, dikutip dari Reuters via tempo.co, Selasa 24 Agustus 2021.

Baca Juga: Atasi Kelaparan di Afghanistan, PBB Butuh Dana Rp3,1 Triliun Per...

Menurut Xu, pelanggaran yang dilakukan AS dan sekutunya adalah memaksakan prinsip pemerintahannya pada negara yang memiliki kondisi geopolitik, sosio kultural, serta historis yang berbeda.

Kendati pemaksaan tersebut diklaim sebagai upaya demokrasi dan penegakan HAM, Xu menganggapnya sebagai langkah yang salah, dan hanya sebuah alasan untuk intervensi.

Baca Juga: Taliban Penggal Kepala Atlet Perempuan, Guntur Romli Sindir JK: Apa...

Seperti diketahui, AS memulai operasi militernya pada 2001 lalu, tidak lama setelah insiden runtuhnya gedung World Trade Center (WTC). Amerika Serikat sendirinya menyebutnya sebagai ‘War on Terror’, untuk memburu jaringan Al-Qaeda dan kelompok pemberontak Taliban.

Dalam waktu relatif singkat, AS berhasil menjatuhkan Taliban yang berkuasa di Afghanistan dari tahun 1996-2001. Selanjutnya, mereka bertahan di Afghanistan selama dua dekade dengan klaim untuk membentuk pemerintahan yang demokratis di sana. Sekaligus, melatih tentara lokal untuk siap melawan kelompok pemberontak atau teroris.

Pada 2020, militer Paman Sam itu memutuskan untuk meninggalkan Afghanistan. Penarikan pasukan terwujud di 2021. Namun, penarikan itu diikuti dengan serbuan balasan Taliban. Dalam hitungan bulan, Taliban mengambil alih Afghanistan yang menyatakan akan menghapus demokrasi.

Baca Juga: Taliban Penggal Kepala Atlet Perempuan, Guntur Romli Sindir JK: Apa...

Tak ayal, Amerika Serikat menjadi sasaran kritik atas peristiwa itu. Mereka dianggap gegabah, memanfaatkan warga Afghanistan untuk kepentingan pribadi, selanjutnya menelantarkannya ketika sudah tak dibutuhkan.

Presiden AS Joe Biden membantah tudingan itu, menyakini penarikan pasukan bisa dijustifikasi lantaran perang tidak bisa berlarut-larut.

Kini, Amerika dan sekutu-sekutunya sibuk mengavakuasi warga negaranya dan warga lokal dari Afghanistan. Ribuan warga Afghanistan yang tidak mau dipimpin Taliban melarikan diri ke luar negeri.

Dikutip dari kantor berita Reuters, militer Amerika Seikat sudah mengevakuasi sekitar 37 ribu warga Afghanistan dan ekspatriat sejak 14 Agustus 2021 lalu.

Bagikan