Terkini.id, Jakarta – Pakar budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Abdul Jawat Nur menanggapi soal kasus tukang bakso yang kedapatan meludahi mangkuk makanan pelanggan. Pelaku mengaku melakukan aksi tersebut sebagai penglaris.
Jawat menyebut bahwa praktik penglaris itu biasa digunakan oleh para pedagang.
“Ada kan kalau kita makan di warungnya enak banget, tapi kalau (makanan) dibawa pulang, rasanya hambar. Itu salah satu cirinya,” kata dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM ini, Jumat, 26 Juni 2020 seperti dikutip dari detikcom.
Jawat mengungkapkan, praktik meludahi makanan sudah lama digunakan.
Kendati demikian, ia enggan menyebut daerah mana saja yang melakukan praktik ini.
- Membangun Kekuatan, Membuka Jalan Kesejahteraan, Satgas TMMD ke-128 Bangun Talud, Jamin Infrastruktur Desa
- Membangun Dasar Pemerintahan Bersih, Kolaborasi Pemkab Jeneponto dan KPK Gagas Pencegahan Korupsi
- Perkuat Mitigasi Kebakaran, Pertamina Patra Niaga Sulawesi Latih Masyarakat Gunakan APAR
- Kepala Bapenda Makassar Dampingi Wali Kota Terima Penghargaan Nasional di Hari Otda 2026
- Satu-satunya dari Luar Jawa, Makassar Raih Predikat Kinerja Tertinggi di Hari Otda 2026
“Saya tidak bisa tunjuk daerahnya ya. Banyak pedagang makanan yang menggunakan mantra penglaris,” ujarnya.
Selain makanan, Jawat menceritakan ada juga praktik pengobatan yang menggunakan ludah.
Ia menjelaskan, ludah dari tokoh atau yang disebut guru itu digosokkan ke kedua tangannya lalu diusapkan ke pasien yang sakit.
Adapun penggunaan mantra seperti itu, kata Jawat, sudah dikenal di Indonesia sejak lama.
“Mantra itu macam-macam. Sebelum agama masuk ke Indonesia, bangsa kita sudah punya mantra. Mereka percaya pada hal-hal yang metafisik di luar kemampuan manusia, dan mereka meminta bantuannya melalui mantra,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
