Terkini.id, Jakarta – Pakar budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Abdul Jawat Nur menanggapi soal kasus tukang bakso yang kedapatan meludahi mangkuk makanan pelanggan. Pelaku mengaku melakukan aksi tersebut sebagai penglaris.
Jawat menyebut bahwa praktik penglaris itu biasa digunakan oleh para pedagang.
“Ada kan kalau kita makan di warungnya enak banget, tapi kalau (makanan) dibawa pulang, rasanya hambar. Itu salah satu cirinya,” kata dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM ini, Jumat, 26 Juni 2020 seperti dikutip dari detikcom.
Jawat mengungkapkan, praktik meludahi makanan sudah lama digunakan.
Kendati demikian, ia enggan menyebut daerah mana saja yang melakukan praktik ini.
- Jalan Lingkar Unhas Masuki Tahap Betonisasi, Gubernur Sulsel: Demi Kelancaran Mobilitas Warga
- Asmo Sulsel Perluas Roadshow in Cafe, Dekatkan Beragam Motor Honda ke Masyarakat di Berbagai Kota
- Rappo Indonesia Gelar 'Beyond The Waste', Libatkan 115 Relawan Tanam 500 Mangrove di Untia di Momen HUT Ke-6
- BSI Sambut Penempatan Dana SAL Pemerintah ke Perbankan, Perkuat Pembiayaan Produktif untuk Ekonomi Rakyat
- 350 Bikers Meriahkan Vario Street Nation 2026, Kontes Modifikasi dan Night Ride Warnai Makassar
“Saya tidak bisa tunjuk daerahnya ya. Banyak pedagang makanan yang menggunakan mantra penglaris,” ujarnya.
Selain makanan, Jawat menceritakan ada juga praktik pengobatan yang menggunakan ludah.
Ia menjelaskan, ludah dari tokoh atau yang disebut guru itu digosokkan ke kedua tangannya lalu diusapkan ke pasien yang sakit.
Adapun penggunaan mantra seperti itu, kata Jawat, sudah dikenal di Indonesia sejak lama.
“Mantra itu macam-macam. Sebelum agama masuk ke Indonesia, bangsa kita sudah punya mantra. Mereka percaya pada hal-hal yang metafisik di luar kemampuan manusia, dan mereka meminta bantuannya melalui mantra,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
