Terkini.id, Makassar – Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga 21 Desember 2020, warga akan menghadapi cuaca ekstrim seperti curah hujan tinggi ditambah angin kencang.
Akibatnya, menimbulkan peningkatan tinggi gelombang, terutama di wilayah perairan spermonde.
Kota Makassar dan beberapa daerah di Sulawesi Selatan kini tengah memasuki musim penghujan.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amin meminta Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah agar memperhatikan kehidupan warga kepulauan.
Mengingat, cuaca ekstrim akan sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat kepulauan terutama bagi perempuan dan anak-anak.
- Living Lab Ekonomi Sirkular: Kemitraan Universitas Negeri Makassar dan TPS3R Karebosi Didukung oleh Program Bestari Saintek 2026
- MAF Polbangtan Kementa Vol. 7 Edisi 25 Dorong Transformasi Pengendalian OPT Modern untuk Produktivitas Pertanian Nasional
- Yayasan AHM Berikan Penghargaan kepada Tiga Bengkel Binaan Berprestasi
- Perkuat Budaya Keselamatan Laboratorium, Polbangtan Kementan Gelar Workshop Pengelolaan Limbah B3
- New Honda BeAT Tampil Lebih Ekspresif dengan Warna dan Striping Baru
“Saat ini, banjir tidak hanya terjadi di jalan-jalan dan di perumahan Kota Makassar, melainkan terjadi juga di pemukiman warga yang tinggal di pulau-pulau kecil. Di Pulau Kodingareng, warga harus mengungsi di rumah keluarga mereka,” kata Amin, Minggu, 20 Desember 2020.
Sebab itu, Gubernur Sulsel tidak boleh mengabaikan masalah masyarakat di pulau yang saat ini terdampak banjir.
Amin mengungkapkan bahwa hujan lebat dan angin kencang di perairan spermonde membuat nelayan kembali berhenti melaut.
Akibatnya, para nelayan tidak memperoleh pemasukan, begitupun para juragan dan pedagang yang tinggal di pulau-pulau kecil.
Menurut Amin, gubernur juga harus memperhatikan keberlangsungan hidup para nelayan dan perempuan pulau saat ini.
“Saya heran saja, kenapa tidak ada sedikit pun kepedulian gubernur terhadap masyarakat kepulauan, terutama para nelayan yang berada di Pulau Kodingareng? Apa karena mereka menolak tambang pasir laut, gubernur harus sebegitu bencinya dengan para nelayan?” jelas Amin.
Ia menerangkan bahwa seluruh profesi, terkhusus para nelayan dan pedagang kecil yang ada di Pulau Kodingareng dan pulau-pulau kecil lainnya sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat tambang pasir laut.
Saat ini masalah mereka bertambah, masyarakat merasa ketakutan dalam menghadapi cuaca ekstrim. Para nelayan tidak dapat melaut karena ombak tinggi dan hujan lebat.
“Pertanyaan saya, di mana Prof Nurdin Abdullah? Seharusnya saat-saat seperti ini, gubernur hadir memberi perlindungan kepada nelayan, punggawa, juragan, pengepul ikan, pedagang kecil dan perempuan-perempuan pulau. Saya minta jangan biarkan masyarakat hidup dalam kesulitan seperti ini,” pintanya.
Berdasarkan peringatan dini BMKG, diprediksi peningkatan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter hingga 4 meter. Sementara kecepatan angin diprediksi mulai dari 4 hingga 25 knot.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
