Dari Mubah’ ke ‘Wajib’: Jalan Menyelamatkan Makassar dari Krisis Sampah

Dari Mubah’ ke ‘Wajib’: Jalan Menyelamatkan Makassar dari Krisis Sampah

A
HZ
Admin
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Pengalaman dari berbagai kota menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang berhasil selalu menempatkan masyarakat sebagai bagian utama, bukan pelengkap. Partisipasi warga bukan pilihan, melainkan kewajiban yang diatur secara tegas.
Makassar perlu bergerak ke arah itu.

Pelibatan masyarakat harus ditingkatkan dari “mubah” menjadi “wajib”. Artinya, setiap warga memiliki tanggung jawab yang jelas dalam mengelola sampahnya.
Langkah ini tentu harus diterjemahkan dalam kebijakan yang konkret. Salah satunya adalah kewajiban memilah sampah di tingkat rumah tangga. Setiap rumah diharapkan memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu. Dengan pemilahan ini, beban yang masuk ke TPA dapat berkurang secara signifikan.

Selain itu, perlu ada sistem penghargaan bagi warga yang patuh. Misalnya melalui insentif bank sampah, pengurangan retribusi, atau bentuk penghargaan lainnya. Ini penting untuk mendorong perubahan perilaku secara positif.
Di sisi lain, perlu juga ada konsekuensi bagi yang tidak menjalankan kewajiban.

Sanksi administratif atau mekanisme pengawasan berbasis komunitas dapat menjadi pilihan. Tujuannya bukan untuk menghukum, tetapi untuk membangun disiplin bersama.

Semua ini tentu membutuhkan dasar hukum yang kuat, baik dalam bentuk peraturan daerah maupun aturan turunan yang lebih teknis. Tanpa itu, kebijakan hanya akan kembali menjadi imbauan.

Baca Juga

Perubahan ini memang tidak mudah. Akan ada tantangan, baik dari sisi kebiasaan masyarakat maupun kesiapan sistem. Namun jika tidak dimulai sekarang, maka krisis seperti yang terjadi pasca Lebaran akan terus berulang.

Makassar sebenarnya memiliki modal yang cukup. Komunitas lingkungan sudah banyak bergerak, kesadaran publik mulai tumbuh, dan pemerintah memiliki pengalaman dalam mengelola berbagai program. Yang dibutuhkan adalah menyatukan semua potensi itu dalam satu sistem yang jelas dan terarah.

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang cara kita memandang tanggung jawab sebagai warga kota. Sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat. Jika tidak dikelola dengan baik, ia akan kembali menjadi masalah di ruang hidup kita sendiri.

Karena itu, solusi tidak cukup hanya dengan mempercepat pengangkutan atau menambah armada. Yang lebih penting adalah mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Di sinilah peran masyarakat menjadi sangat penting. Ketika setiap rumah tangga mulai memilah dan mengelola sampahnya, maka beban kota akan berkurang secara nyata. TPA tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan, dan sistem pengangkutan dapat bekerja lebih efisien.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.