Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Oleh: Shamsi Ali

Pagi kemarin waktu New York, saya tidak berkesempatan mengikuti (menonton) debat Cawapres secara langsung (live).

Kebetulan saya hadir di acara interfaith breakfast Walikota New York. Sebuah acara yang telah menjadi tradisi tahunan di kota New York sebagai rasa syukur atas segala kenikmatan tahun ini sekaligus harapan dan doa untuk yang lebih baik di tahun depan.

Acara ini diikuti oleh tokoh-tokoh agama senior di Kota New York, anggota DPRD, Kepolisian, dan pejabat lainnya.

Kebetulan pula hari ini adalah Jumat keempat di saat saya dijadwalkan untuk menyampaikan khutbah di kantor pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa New York.

Dalam khutbah kali ini saya menyampaikan lima permasalahan mendasar (foundational problems) yang dihadapi oleh umat manusia. Insya Allah tulisan ringkasan khutbah akan disusulkan dalam waktu dekat.

Baca Juga

Kembali ke isu yang ingin saya sampaikan kali ini, yaitu debat Cawapres pertama yang terjadi tadi malam waktu Indonesia atau pagi tadi waktu New York.

Sejujurnya saya belum mendengarkannya secara menyeluruh. Tapi telah menyimak beberapa bagian, sekaligus melihat perkembangan debat antar pendukung yang terjadi di beberapa media sosial.

Secara umum, seperti debat Capres debat Cawapres berjalan dengan baik. Tapi, saya masih mempertanyakan alasan tradisi membaca doa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya yang kini diganti dengan hening cipta.

Saya katakan hening cipta karena walaupun diakui doa tapi acara itu dimulai dengan kata-kata “doa dimulai” persis seperti dengan kata-kata “hening cipta dimulai”.

Lalu diakhiri juga dengan hal sama: “doa selesai” persis ketika pemimpin upacara mengatakan “hening cipta selesai”.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.