Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

Debat Cawapres dan Otentisitas Pencalonan

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Berbeda dengan debat Capres/Cawapres di Amerika yang biasanya memang kandidat itu menguasasi semua lini bidang yang akan diperdebatkan. Tapi, di Indonesia ada kekakuan spesialitas (speciality rigidity) para calon.

Prof. Mahfud MD dengan seabrek keilmuan dan pengalaman yang dimilikinya nampak sangat kaku dan kurang mampu mengkomunikasikan ide-ide besar yang ingin disampaikan kepada konstituen.

Bahkan, terasa hampir semua isu yang diperdebatkan dibelokkan menjadi isu hukum yang memang menjadi spesialisasinya.

Gibran nampak cukup percaya diri. Komunikasi lancar tidak lagi irit kata seperti yang selama ini kita lihat.

Hanya saja, jika didalami secara substantif poin-poin yang disampaikan Gibran menjadi hambar bak debate anak remaja yang saling bertujuan menjatuhkan lawannya. Sehingga walaupun selalu menyampaikan “permintaan maaf” sebagai tradisi Jawa seolah tidak bermaksud menyerang, tapi tetap tidak bisa disempunyikan dia memang ingin menyerang lawan mencari titik lemah untuk menjatuhkan.

Baca Juga

Cawapres nomor satu, Gus Muhaimin nampak sangat santai. Walaupun terkadang tidak menyadari bahwa setiap detik berlalu jatah berbicara juga berlalu. Sehingga kadang keinginan menghibur didahului dengan candaan menjadikannya kehilangan momentum.

Saya kira, ini menggambarkan kepribadian Muhaimin yang memang riang dan senang bercanda. Secara substantif penyampaian Muhaimin cukup baik. Hanya sering kehilangan momentum untuk menyampaikan poin-poin yang ingin disampaikan.

Saya tidak bermaksud membahas semua isu yang terkait dengan debat cawapres kali ini. Tapi seperti pada debat Capres, selain aspek substansi, juga aspek komunikasi dan dan penataan emosi para calon menjadi sangat penting.

Komunikasi menjadi penting karena pemimpin harus berkarakter tablig, yang salah satunya berarti mampu menyampaikan (mengkomunikasikan) ide dan gagasan baik kepada rakyatnya maupun ke dunia internasional.

Kontrol emosi menjadi penting karena pemimpin akan menghadapi berbagai tantangan atau sebaliknya godaan dalam kepemimpinan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.