Terkini.id, Makassar – Dexa Group, kelompok perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia, berkomitmen membangun kemandirian obat nasional di Indonesia.
Corporate Affairs Director Dexa Group Krestijanto Pandji mengatakan selama ini pembuatan bahan baku herbal Dexa Medica 100 persen berasal dari dalam negeri atau domestik.
“Obat itu dipecah menjadi dua, ada obat kimia dan herbal. Obat kimia bahan baku memang masih impor 90 persen, tapi bahan baku herbal 100 persen domestik,” kata Krestijanto saat berpartisipasi dalam kegiatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia-Bangga Wisata Indonesia atau Gernas BBI-BWI yang digelar BI Sulsel di Pantai Losari, Kamis, 24 Februari 2022.
Dia menyebut pembuatan Herba Asimor, obat untuk melancarkan ASI, menggunakan bahan baku ikan gabus yang berasal dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
“Lalu ada Stimuno, bahan baku dari meniran, kerja sama dengan petani di Blora, Gresik, dan lain-lain,” tuturnya.
Keterlibatan Dexa Group dalam Gernas BBI-BWI adalah untuk meningkatkan kerja sama industri farmasi dengan pelaku UMKM.
“Tujuannya meningkatkan kesejahteraan UMKM. Kami berharap ke depan produk obat modern asli Indonesia (OMAI) ini bisa diterima dan masuk ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN, itu harapan kami,” sebutnya.
Bila hal itu terpenuhi, Krestijanto menuturkan akan terjadi ekosistem baru, di mana industri farmasi akan bekerja sama dengan UMKM, dan perbankan dalam melakukan investasi pembuatan bahan baku.
“Ini penting sekali untuk kesinambungan industri OMAI,” paparnya
Ia pun berharap pemerintah bisa menggunakan obat herbal untuk menekan ketergantungan terhadap obat impor. Di sisi lain, petani atau peternak yang bekerja sama dengan UMKM akan mengalami kesejahteraan.
“Pemerintah sudah membantu kami, produk sudah masuk di e-katalog inovasi melalui BRIN. Kita harapkan yang masih belum, bagaimana produk OMAI ini bisa masuk formularium nasional di Kemenkes. Kalau sudah masuk, otomatis bisa masuk ke dalam e-katalog formal medication yang dipakai dan diresepkan oleh dokter di JKN atau BPJS,” tuturnya.
Sementara, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku berkomitmen untuk mendukung Bangga Buatan Indonesia-Bangga Berwisata Indonesia.
“Ayo dukung UMKM dengan berwisata secara nyata,” tuturnya.
Saat ini, Bank Indoesia terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah. Selain itu, melakukan Jambore UMKM.
Perry mengatakan saat ini ada tiga inisiasi yang gencar dilakukan BI, yaitu On-Boarding UMKM, melakukan Business Matching sehingga UMKM bisa ekspor, dan sosialisasi kepada generasi Z agar ikut terlibat dalam gerakan UMKM.
“Ini untuk membangun karakter kecintaan terhadap produk UMKM,” kata dia.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Gernas BBI-BWI mampu menggerakkan masyarakat agar bangga membeli dan menggunakan produk dalam negeri, sekaligus mendorong UMKM untuk go digital.
“Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia bukan semata program yang menggaungkan tagar belaka. Gerakan ini terbukti mampu mengajak pelaku usaha, terutama dari sektor mikro, kecil, dan menengah untuk bisa dan mau mengembangkan usahanya melalui industri digital,” kata Luhut.
Menurutnya, hasil yang diperoleh dari program Gernas BBI ini tampak nyata. Sebelumnya, pada tahun 2019 jumlah UMKM yang onboarding hanya 8 juta UMKM.
Pasca diluncurkan Gernas BBI pada 2020, jumlah UMKM onboarding bertambah signifikan sejumlah 9,2 juta UMKM sehingga mencapai 17,2 juta UMKM pada akhir 2021, atau meningkat lebih dari 2 kali lipat dibandingkan sebelum peluncuran Gernas BBI dan BWI.
“Upaya peningkatan demand produk UMKM dan perluasan kecintaan produk lokal telah berjalan cukup sukses,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
