Penulis:
(Mahasiswa Program Pascasarjana Prodi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Alauddin Makassar)
Di era digital saat ini, opini publik terbentuk bukan lagi di ruang-ruang diskusi formal, tetapi di layar ponsel yang kita genggam setiap hari.
Konten keislaman hadir dalam berbagai bentuk ceramah singkat di YouTube, kutipan hikmah di Instagram, hingga podcast dakwah di Spotify.
- DPRD Sulsel Dalami Polemik Seleksi Paskibraka, Kesbangpol Bantah Tes Bahasa Daerah Jadi Penentu
- Wali Kota Makassar Dukung Penuh Delegasi Paskibraka Menuju Seleksi Nasional 2026
- Gubernur Sulsel Apresiasi Polda dan TNI Bongkar Jaringan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Wilayah Sulsel
- Laba Tumbuh 32 Persen, PT Vale Lanjutkan Transformasi sebagai Perusahaan Mineral Berkelanjutan
- Komisi IX DPR RI Himpun Masukan RUU Ketenagakerjaan di Sulteng, BPJS Tekankan Perlindungan Pekerja
1. Islam di Tengah Arus Informasi
Kemudahan akses informasi membuat siapa pun dapat berbicara tentang agama. Hal ini memberi dampak positif karena ilmu semakin mudah disebarkan, namun juga memunculkan persoalan baru validitas sumber.
Tidak semua yang viral memiliki dasar keilmuan yang kuat banyak informasi yang belum tervalidasi kebenarnnya.
Karena itu, persepsi publik terhadap isu keislaman kerap terbentuk secara cepat, emosional, bahkan tanpa kajian mendalam.
2. Pergeseran Dakwah dari Mimbar ke Media
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
