Terkini, Makassar – Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Mata JEC Orbita Makassar, Prof Dr dr Habibah S Muhiddin, Sp M(K) dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam bidang Vitreoretina, di Ruang Senat Gedung Rektorat Kampus Unhas Kota Makassar, Selasa 18 Februari 2025.
Pengukuhan berlangsung pada Rapat Paripurna Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Hasanuddin dan dipimpin oleh Rektor Unhas, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M Sc.
Penghargaan akademik tertinggi ini diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan ilmu retina yang bertajuk “Upaya Pencegahan Kebutaan Akibat Diabetik Retinopati dalam Menghadapi Bonus Demografi”, dalam upaya pencegahan kebutaan akibat Diabetik Retinopati, yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan di Indonesia.
Prof dr Habibah S Muhiddin mengatakan, salah satu ancaman utama pada kesehatan mata adalah tingginya prevalensi Retinopati Diabetik (RD) sebagai komplikasi serius diabetes melitus yang dapat menyebabkan kebutaan pada usia produktif.
Di Sulawesi Selatan (Sulsel) situasi RD masih perlu menjadi sorotan. Dengan populasi penduduk sekitar 9,4 juta jiwa, prevalensi diabetes melitus-nya mencapai 7,4 persen – atau berkisar 695.600 penderita.
- Kalla Toyota Cetak Rekor Penjualan Juni 2026, Sambut Juli dengan Event Hybrid Terbesar di Makassar
- Poltekpar Makassar Tembus Peringkat Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026
- Agropreneur Summit 2026 Perkuat Generasi Muda Wirausaha Pertanian
- Siapkan Tenaga Kerja Unggul, Bupati Jeneponto Buka Pelatihan Vokasi, Tekankan Kualitas SDM Kunci Kesejahteraan
- Gakkum Kehutanan Ungkap Aksi Perambahan Hutan Lindung di Luwu Timur, Dua Orang Diamankan
Studi pendukung yang dikumpulkan Juli 2023-Juni 2024 mendapati temuan menarik. Selama periode tersebut, RS Unhas dan Klinik Utama Mata JEC Orbita Makassar telah menjalankan tindakan operasi vitrektomi kepada 271 pasien RD – dengan 5,53 persen di antaranya berusia kurang dari 30 tahun.
“Di Sulsel tinggi sekali retina deabetes, dikarenakan makan kita manis semua, jadi resikonya sangat besar, bahkan kami banyak mendapatkan rujukan dari rumah sakit di daerah,” kata Prof dr Habibah.
Dia menambahkan, ini memperlihatkan potensi nyata ancaman RD kepada kalangan usia produktif yang sangat berdampak signifikan pada kualitas hidup. Selain risiko kebutaan, RD juga sangat bisa berdampak pada aspek pendidikan hingga pilihan karier penderitanya
Olehnya itu, Prof dr Habibah menekankan pentingnya melakukan upaya pencegahan Retinopati Diabetik (RD) dengan rutin melakukan skrining.
“Medical Check Up sangat penting. Diperusahaan swasta sudah jalan, kalau sudah ada RD harus segera kontrol matanya. Kadang-kadang orang sudah RD namun tidak kontrol matanya. Nanti sudah jelek baru datang ke kami,” ungkapnya.
Habibah menyampaikan harapannya agar upaya preventif ini dapat terus berkembang dan berdampak.
“Untuk mengatasi masalah kebutaan dan gangguan penglihatan RD perlu tata laksana dari hulu sampai ke hilir, terutama pada usia produktif agar bonus demografi memberi impak positif bagi Indonesia. Kita semua bertanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi mendatang memiliki akses ke layanan kesehatan mata yang berkualitas. Bersama, kita bisa membangun masa depan yang lebih cerah bagi bangsa ini,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
