Duh, Pertentangan Terhadap Vaksin Covid-19 di Amerika Serikat Semakin Keras

Duh, Pertentangan Terhadap Vaksin Covid-19 di Amerika Serikat Semakin Keras

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, New York – Duh, pertentangan terhadap vaksin Covid-19 di Amerika Serikat semakin keras. Kehadiran vaksin dan program terkait vaksinasi di Amerika Serikat (AS) hingga kini masih menuai polemik. Pasalnya, parlemen negara bagian New York, AS mencoba agar tenaga medis wajib divaksin Covid-19 tanpa pengecualian dengan alasan agama.

Pada Selasa 14 September 2021 lalu, hakim federal memblokir negara bagian itu dari menegakkan peraturan untuk memberi waktu bagi sekelompok pegawai.

Hakim mengatakan peraturan tersebut ilegal lantaran tidak memberi opsi lain. Agustus 2021 lalu, jajak pendapat AP-NORC menemukan 58 persen warga kulit putih evangelis Protestan, 72 persen kulit putih Protestan arus utama, 80 persen Katolik, dan 73 persen yang tidak terafiliasi dengan agama apapun mengatakan telah divaksin.

Sekitar 70 persen koresponden Protestan bukan kulit putih mengatakan sudah divaksin. Termasuk 70 persen warga kulit hitam beragama Protestan.

Tokoh masyarakat, dokter, dan pejabat publik di Amerika Serikat mencoba membantu masyarakat untuk mencegah kebijakan wajib masker dan vaksin. Di Tulsa, Oklahoma, Pastor Jackson Lahmeyer menawarkan surat ‘pengecualian agama’ dari situs gerejanya.

Baca Juga

Pastor berusia 29 tahun itu maju dalam pemilihan anggota senat dari Partai Republik. Siapapun yang tertarik dengan surat dari pemuka agama atau Lahmeyer yang sudah ditandatangani bisa mendapatkannya dengan bergabung dengan gerejanya atau memberi sumbangan. Ia mengatakan surat itu sudah diunduh 35 ribu kali dalam tiga hari.

“Kami bukan anti-vaksin, kami pro-kebebasan. Banyak dari yang mendapat tanda tangan sudah menerima vaksin. Mereka hanya berpikir tidak benar seseorang dipaksa atau harus kehilangan pekerjaannya,” tegas Lahmeyer, Kamis 16 September 2021, sepert dilansir dari Republika.co.id, Jumat 17 September 2021.

Kendati demikian, untuk bisa menghindari vaksinasi dengan alasan agama tidak bisa hanya dengan mendapatkan surat dari pemuka agama. Campak yang mewabah di sekolah dalam beberapa dekade terakhir memaksa sejumlah negara bagian mengubah kebijakan mereka.

Kini beberapa negara bagian mensyaratkan pernyataan tertulis yang ditandatangani pemuka agama bukan hanya surat daring. Kalifornia sendiri sudah mencabut pengecualian vaksin non-medis pada 2015 lalu.

Sejumlah perusahaan mengambil pendekatan yang lebih tegas. United Airlines pekan lalu mengumumkan, siapapun yang mengajukan pengecualian vaksin atas alasan agama akan diskors tanpa gaji sampai prosedur tes virus corona yang baru dilakukan.

Kepala Kepolisian Los Angeles Michel Moore mengatakan menunggu pedoman dari departemen sumber daya manusia kota mengenai pengecualian tersebut.

Los Angeles sendiri sudah mewajibkan semua pegawai pemerintah daerah divaksin pada 5 Oktober kecuali mereka mendapatkan izin atas alasan medis dan agama. Sekelompok pegawai LAPD menggugat kebijakan tersebut.

“Biar saja perjelas, kami tidak akan menoleransi penyalahgunaan pengecualian yang dilakukan orang-orang yang hanya tidak ingin divaksin,” terang Wali Kota Los Angeles Eric Garcetti.

Menurutnya, siapapun yang hendak mengizinkan permintaan pengecualian yang tidak jujur, maka ia meminta mereka dengan sangat untuk mempertimbangkannya kembali.

Gubernur Washington Jay Inslee mewajibkan sekitar 60 ribu pegawai pemerintah negara bagian untuk sudah menerima dua dosis vaksin pada 18 Oktober, atau akan kehilangan pekerjaan mereka. Kecuali mereka memiliki surat pengecualian atas alasan medis atau agama dan menerima akomodasi yang membiarkan mereka dapat dipekerjakan.

Hingga Selasa lalu, lebih 3.800 pekerja sudah mengajukan pengecualian atas alasan agama. Sejauh ini sudah 737 di antaranya yang disetujui, tetapi pemerintah menekankan pengecualian ini tidak menjamin mereka tetap dipekerjakan.

Setelah pengecualian disetujui, setiap lembaga harus mengevaluasi apakah pekerja itu dapat terus bekerja dengan akomodasi sementara memastikan tempat kerja aman dari virus. Sejauh ini, sudah tujuh akomodasi yang telah disetujui.

“Proses ini mungkin dapat membedakan antara keyakinan pribadi dengan keyakinan beragama dengan tulus,” ungkap juru bicara Inslee Tara Lee.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.