Terkini.id, Jakarta – Duh, Sri Mulyani beberkan ekonomi global RI rugi 2,5 triliun dolar AS gegara ini! Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan ekonomi global Indonesia rugi sebesar 2,5 triliun dolar AS lantaran adanya pandemi Covid-19 yang menekan mobilitas masyarakat.
“Dari sisi kontraksi ekonomi itu minus tiga persen dari PDB (produk domestik bruto), itu berarti kerugian ekonomi sekitar 2,5 triliun dolar AS,” beber Menkeu Sri Mulyani dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu 1 September 2021 kemarin.
Sementara itu, Sri Mulyani menyatakan langkah countercylical global untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19 adalah sebesar 11 triliun dolar AS. Anggaran tersebut digunakan untuk melindungi masyarakat menstabilkan implikasi dampak sosial dari Covid-19 serta memulihkan ekonomi kembali.
Ia menegaskan, seperti dilansir dari Antara, Kamis 2 September 2021, suatu negara bahkan yang maju dan kuat sekalipun, tidak akan mampu memerangi pandemi secara mandiri sehingga dibutuhkan kolaborasi dan koordinasi seluruh negara.
Ia menjelaskan, syarat yang diperlukan setiap negara untuk dapat menekan kasus pandemi adalah memiliki sistem kesehatan yang baik dan andal.
- Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono Sesal Terkait Tapera
- Benny Rhamdani Minta Sri Mulyani Tak Menunggu Aturan Relaksasi Pajak untuk Mengeluarkan 120 Barang PMI
- Pemerintahan Jokowi Habiskan Rp 2.778 Triliun Bangun Tol Hingga Bandara, Said Didu: Ini Kebohongan Publik
- Ungkap Proses Pemulihan Ekonomi, Sri Mulyani Sebut Ini Faktor Geopolitik dan Geo-ekonomi
- Isi Surat PPATK Terkait Transaksi Janggal Rp 349 Triliun Akhirnya Terbongkar, Begini Isinya
Di sisi lain, sebut Sri Mulyani, menciptakan sistem kesehatan yang baik tidak mudah direalisasikan karena membutuhkan berbagai sumber daya seperti anggaran, kualitas tenaga kesehatan, maupun insentif, agar masyarakat bisa mendapat akses dengan mudah.
“Indonesia mengamanatkan minimal lima persen dari anggaran belanja untuk kesehatan, tetapi tidak sertamerta menjamin membangun sistem kesehatan nasional itu mudah,” imbuhnya.
Tak hanya itu, menurutnya kesiapan industri farmasi serta kemampuan pemerintah dalam menarik pihak swasta agar berkontribusi membiayai layanan kesehatan juga menjadi aspek penting.
“Sebenarnya banyak sekali ilmu yang bisa dipetik dari negara maju tentang bagaimana membangun pelayanan kesehatan yang baik dan sehat di dalam negeri,” imbau Sri Mulyani.
Selain itu, peran lembaga multilateral seperti World Health Organization (WHO) dan Bank Dunia (World Bank) turut menjadi aspek sangat penting guna menciptakan sistem kesehatan yang baik termasuk memberikan jalan dalam mengakses vaksin Covid-19.
“Mereka memiliki pengetahuan dan capacity building agar mampu memberikan technical assistance bagi banyak negara terutama negara berkembang. Bahkan, terkadang negara maju pun belum tentu memiliki sistem kesehatan yang baik,” terang Sri Mulyani.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
