Fakta Betapa Ganasnya Gagal Ginjal Akut! Warga Indonesia Perlu Tahu

Fakta Betapa Ganasnya Gagal Ginjal Akut! Warga Indonesia Perlu Tahu

SW
R
St. Wahidayani
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Gagal Ginjal Akut adalah suatu kondisi dimana saat ginjal tiba-tiba tidak dapat menyaring limbah dari darah.

Selain ituz Gagal ginjal akut bahkan diketahui berkembang pesat selama beberapa jam atau hari dan dapat berakibat fatal. Kondisi ini paling umum terjadi pada mereka yang sakit kritis dan sudah dirawat di rumah sakit.

Lantas seberapa ganasnya Gagal Ginjal Akut?

Soliha, ibunda salah satu pasien pengidap gagal ginjal akut misterius menceritakan gejala-gejala penyakit yang diderita anaknya sebelum dinyatakan gagal ginjal akut misterius.

Menurut Soliha, Azkia, anaknya yang berusia 3,8 tahun, awalnya mengalami demam. Kemudian Soliha memberikan obat sirup penurun panas dan pilek kepada anaknya, tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Baca Juga

Namun, kondisi anak Soliha saat itu berangsur membaik.

“Panasnya saya kasih paracetamol biasa (sirup), terus pileknya saya itu kasih rhinos (sirup). Enggak lama, hari Jumat itu panas dan pileknya sudah reda, makanya Azqia itu enggak saya bawa ke dokter,” kata Soliha.

Berselang satu hari kemudian, Soloha kondisi Azqia (anaknya) kembali memburuk.

Dia muntah-muntah hingga 15 kali, sehingga dibawa Soliha ke Klinik Bakti Jaya pada pukul 09.00 WIB.

Saat itu, menurut Soliha, dokter memberikan resep obat penurun panas, obat pilek serta oralit. Akan tetapi dokter menekankan, jika anak Soliha tak kunjung sembuh harus dibawa ke rumah sakit.

“Akhirnya saya pulang ke rumah dan dikasih obat itu. Di situ anak saya masih mau makan dan minum banyak, tapi apa yang masuk ke dalam perutnya itu keluar lagi, sampai-sampai muntah kuning dan hijau itu keluar semua,” ujar Soliha.

Selanjutnya, ujar Soliha, sang suami memutuskan membawa anaknya ke Intalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Bunda Aliyah untuk mendapatkan tindakan dokter dan perawat. Dikutip Terkini.id dari jaringan Suara.com. Jumat, 21 Oktober 2022.

Namun, saat mendapatkan perawatan di RS Bunda Aliyah, gejala lain dari penyakit anaknya Soliha muncul, yakni belum buang air kecil semenjak sakit.

Selain itu, selama dirawat di Rumah Sakit Bunda Aliyah, anaknya Soliha masih mengalami muntah-muntah yang tak kunjung berhenti.

“Nah kebetulan di situ saya buka pampersnya dan saya bilang kalau anak saya belum pipis juga dari muntah muntah pas awal,” kata Soliha.

“Di situ dokternya bilang akan dilakukan pengecekkan secara lanjut, soalnya takut anak saya gagal ginjal katanya,” sambung dia.

Soliha mengaku terkejut mendengar pernyataan sang dokter. Sebab, setelah pengecekan laboratorium, Azkia divonis menderita gagal ginjal akut stadium 3.

“Saya langsung merasa hancur kan. Kemudian dicek segala macam dan keluar hasil lab anak saya, yang menyatakan bahwa benar anak saya mengidap gagal ginjal akut, kalau enggak salah sudah stadium 3,” ujar Soliha.

“Habis itu dokternya bilang, ‘Karena anak ibu gagal ginjal harus cepat-cepat masuk ruang PICU (pediatric intensive care unit) detik ini’. Enggak lama kemudian anak saya masuk di ruang PICU di Rumah Sakit Bunda Aliyah,” sambung dia.

Dalam perawatan di ruang PICU pada hari pertama, kondisi anak Soliha semakin memburuk. Bahkan, Azkia langsung divonis stadium 6 gagal ginjal akut dalam sehari perawatan di ruang PICU.

“Prosesnya itu cukup cepat dari stadium 3 langsung ke stadium 6, sehari setelah PICU di Bunda Aliyah. Makanya dokternya bilang, ‘Anak ibu harus cepat-cepat dirujuk ke rumah sakit tipe A yang ada HD (hemodialisa) anaknya, karena kami di sini tidak lengkap’,” kata Soliha.

Sehari mendapat perawatan di RSCM, lanjut Soliha, kondisi kesehatan anaknya kembali menurun hingga tak mampu mengingat apapun.

Tak hanya itu, Soliha menuturkan, fisik anaknya pun turut mengalami perubahan kurang baik, ditandai dengan penglihatan yang mulai berkurang.

“Tidak lama sehari berselang, anak saya mulai proses perburukan kembali. Jadi perburukannya itu sangat cepat sekali, ingatannya sudah hilang, dia enggak ngenalin saya,” kata Soliha.

“Apa yang saya tanya enggak bisa jawab, terus matanya sudah mulai susah lihat gitu, kondisinya menurun drastis pokoknya,” sambung dia

Soliha mengaku, selama tiga hari anaknya mendapat penanganan khusus di RSCM, kondisinya masih belum stabil. Bahkan, dua hari setelah dilakukan penanganan jaringan di tubuh anaknya kian memburuk.

“Kalau enggak salah, di hari Kamisnya itu, anak saya harus buru-buru dipasang untuk cuci darah, tapi anak saya mungkin tubuhnya menolak atau apa saya kurang paham, sempat tidak ada detak jantungnya. Sampai dipakai alat picu jantung, alhamdulillah ada lagi,” kata dia.

Bahkan, kata Soliha, dokter juga mengambil tindakan cuci darah kepada anaknya. Namun, seusai mendapatkan penanganan cuci darah, kondisi anaknya masih belum stabil.

Hari berganti hari, kondisi anak Soliha semakin memburuk. Soliha mendapat kabar bahwa anaknya mengalami masa kritis dan harus mendapat bantuan pernafasan melalui ventilator.

“Dokter sebenernya mau ada tindakan tapi kritisnya semakin hebat semakin memburuk. Dari saya nemenin 06.30 WIB sampai anak saya jam 08.20 WIB tidak ada,” ujar Soliha.

“Akhirnya saya menemani dalam keadaan pakai ventilator, pendarahan jantung hebat atau apa karena semuanya sudah terserang,” sambung dia.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.