Gandeng Unhas, Dinas P3A Kota Sorong Gelar Diskusi Pemberdayaan Perempuan

Gandeng Unhas, Dinas P3A Kota Sorong Gelar Diskusi Pemberdayaan Perempuan

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkini.id, Sorong – Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tokoh perempuan, tokoh masyarakat Papua dan Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A)beserta staf, Rabu, 19 Juni 2019, bertempat di Aula Kantor Dinas P3A Kota Sorong, Jalan Jenderal Sudirman.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal perempuan Papua untuk mengoptimalkan perannya dalam rangka menyejahterakan masyarakat.

Kegiatan ini diikuti sekitar 20 orang dari tokoh-tokoh perempuan, pelaku usaha, LSM, LPM, Pengurus organisasi wanita dari IWAPI,Gabungan Organisasi Wanita,Perempuan Flabamora, Perempuan Waropen, Bunga Papua, fasilitator Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta tokoh-tokoh masyarakat seperti Pendeta, Advokat anak, dan dosen.

Hadir sebagai narasumber, Rektor Universitas Hasanuddin, yang diwakili oleh Prof Dr Ir Sutinah Made MSi dan Kepala Dinas P3A Kota Sorong, Drs Sephi Sangkek MM

Kadis P3A Kota Sorong mengatakan, melalui FGD ini diharapkan menemukan masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan dan memberikan solusi sesuai kebutuhan mereka.

Baca Juga

“Kebutuhan Perempuan Papua adalah Pelatihan Managemen dan kepemimpinan, Pelatihan wirausaha dan Keuangan, selain itu sarana dan prasarana, Teknologi, modal usaha serta jaringan pemasaran juga sangat penting untuk memajukan usaha kaum perempuan di Papua,” kata Sephi Sangkek.

“Semoga ke depan Unhas dapat bersinergis dengan pemerintah Papua Barat melakukan start up bagi usaha mama-mama agar bisa mengakses pasar yang lebih luas, baik Nasional maupun Internasional,” sambungnya.

Dosen Unismuh Sorong: Perempuan Papua kuat dan hebat tapi kurang spirit wirausahanya

Sementara itu, Advokat anak yang juga Dosen Unismuh Sorong, Muliadi SH MH menyatakan perempuan Papua itu paling kuat dan hebat tapi kurang spirit wirausahanya.

Hal senada dikatakan Pdt Debora I Mambrasar. Ia mengatakan perempuan Papua terlahir untuk kerja.

“Dominan suku-suku di Papua, perempuan yang kerja kebun mulai dari menanam, memanen, mengolah sampai memasarkan, perempuan merupakan tulang punggung keluarga, suami hanya tinggal di rumah, karena perempuan papua sudah dibayarkan mas kawinnya yang sangat mahal sampai ratusan juta rupiah sehingga wajib bekerja,” ujarnya.

“Ini sebenarnya merupakan kekuatan juga merupakan kelemahan karena terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” lanjutnya.

Pada kesempatan itu, Prof Sutinah Made mewakili Unhas mengatakan, pembinaan dan pendampingan baik modal, teknologi juga jejaring pemasaran dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.