Menurutnya, meski sebagian besar peserta berasal dari generasi senior, mereka justru sangat terbuka terhadap masukan.
“Ternyata para kepala desa ini sangat open, mereka sangat terbuka sekali dalam menerima masukan,” tambahnya.
Dalam penilaiannya, kemampuan para kepala desa cukup beragam. Ada yang unggul dalam komunikasi namun masih lemah dalam perencanaan, atau sebaliknya.
“Misalnya leadership-nya bagus, tapi planning-nya rendah. Berarti dia berani membuat gebrakan tapi gebrakannya kurang terkonsep dengan baik,” jelasnya. Karena itu, pelatihan ini dirancang agar para kepala desa bisa mengenali aspek mana yang perlu diperbaiki dalam memimpin dan berkomunikasi dengan masyarakat.
Sebagai psikolog, ia menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan umum harus berawal dari pemahaman diri.
- Wali Kota Makassar Raih Pemimpin Daerah Award 2026, Satu-satunya dari Sulsel
- Ketua BK DPRD Jeneponto Laporkan Dugaan Pencemaran Nama Baik ke Polres Jeneponto, Terlapor Membantah
- DPRD Sulsel Setujui MYP Tahap Dua Rp5 Triliun, Infrastruktur Jadi Prioritas
- Bupati Jeneponto Buka Kegiatan PKM Berbasis Roadmap PPG UIN Alauddin Makassar
- Dinkes Jeneponto Gelar Aksi Bergizi di MTsN 1 Jeneponto, Libatkan Ratusan Siswa
“Orang itu bisa berubah kalau dia bisa tahu siapa dirinya,” katanya. Ia menjelaskan, dalam pelatihannya, peserta terlebih dahulu diajak mengenali kemampuan komunikasi masing-masing sebelum diberikan materi dan praktik public speaking.
Ia menilai kegiatan seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Some dari mereka sudah bagus, tapi menurut saya tidak cukup dari program ini saja, harus continue dan membutuhkan waktu yang lebih intens,”tandasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
