Generasi Pecinta al-Qur’an

Perkembangan generasi muda makin membaik dengan dukungan teknologi yang memadai. Mereka belajar secara online. Situasi yang jauh berubah dibanding 20 tahun silam.

Dalam situasi seperti ini perlu kesadaran membangun karakter mereka dengan menanamkan nilai-nilai agama, mempelajari al-Qur’an. Membangun generasi pecinta al-Qur’an.

Kini sejumlah anak-anak muda memiliki semangat belajar agama tinggi, bahkan lahir para hafiz 30 juz dalam usia belasan tahun. Pendidikan berbasis al-qur’an ditumbuhkan agar tetap menjadikannya sumber ilmu.

Baca Juga: Videokan Diri Tempel Kemaluan ke ‘Alquran’, Laki-Laki Ini Akhirnya Ditangkap...

Momentum ramadan ini sejatinya menjadi titik pijak merenungkan ihwal konstruksi dunia pendidikan dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan akhlak. Pendidikan berkualitas melahirkan sumber daya manusia yang baik. Tapi mengasah intelektualitas saja tidak memadai, melainkan nilai-nilai akhlak lebih utama.

Nabi menjadi teladan ilmu sekaligus teladan akhlak, uswatun hasanah. Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an. Kandungan al-Qur’an meliputi berbagai dimensi kehidupan manusia.

Baca Juga: Viral! Laki-Laki Gesekkan Kelaminnya ke ‘Alquran’ , Banjir Kecaman Netizen

Al-Qur’an perlu dimaknai secara kontekstual, menyingkap dimensi keilmuan keagamaan dan ilmu lainnya. Selama Ramadan ini, umat Islam “mewajibkan” dirinya untuk khatam sedikitnya sekali sepanjang Ramadan. Tetapi saatnya juga meluangkan waktu untuk memahami kandungan dan penafsran al-Qur’an untuk menyelami kandungan-kandungannnya.

Diantara kemuliaan bulan Ramadan karena didalamnya diturunkan al-Qur’an. Posisinya sebagai hudan lin nas memiliki dimensi pendidikan, tergantung kemampuan manusia menafsirkan dimensi-dimensi pendidikan yang terkandung di dalamnya.

Meskipun secara universal keseluruhan isinya bermuatan edukatif. Yakni, petunjuk bagi umat manusia dalam menempuh hidup yang paripurna.

Baca Juga: Viral! Laki-Laki Gesekkan Kelaminnya ke ‘Alquran’ , Banjir Kecaman Netizen

Meskipun tidak semua umat manusia mampu “berdialog” dengan al-Qur’an untuk mendapatkan pemahaman sesuai dengan kebenaran al-Qur’an. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan manusia menyingkap kandungan makna itu antara lain, disebabkan karena keterbatasan pemahaman tentang ilmu-ilmu al-Qur’an, terutama ilmu tafsir.

Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang dianugerahi pemahaman untuk menyingkap kebenaran al-Qur’an. Menguak dimensi pendidikan yang terkandung dalam al-Qur’an. Dimensi pendidikan al-Qur’an sejak awal dapat terdeteksi ketika Allah mengukuhkan umat manusia sebagai khalifah fil ardh (wakil Allah dimuka bumi).

Amanah tersebut sarat dengan konsep atau nilai-nilai pendidikan, yakni umat manusia memiliki tanggung jawab secara kolektif untuk membangun peradabannya sesuai dengan petunjuk al-Qur’an. Pendidikan menjadi pilar peradaban manusia, sehingga al-Qur’an tidak cukup ditadaruskan saja dalam bulan Ramadan ini, tetapi dimestikan ikhtiar menyelami kandungan maknanya dengan membumikan nilai-nilainya dalam kehidupan umat manusia.

Generasi pecinta al-Qur’an dirindukan ditengah ancaman demoralisasi yang mengancam mereka. Selama generasi muda kita menjadi generasi pecinta al-qur’an, maka masa depan agama terjaga. Bukan hanya ahli dalam bidang agama saja tapi mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai al-Qur’an, menjadi dokter yang menghayati agama dalam profesinya. Tugas kita semua membina anak-anak kita menjadi pecinta Al-Qur’an. Semoga.

Firdaus Muhammad, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel

Baca berikutnya
Ibadah Tanpa Lelucon
Bagikan