Masjid sebagai ‘Istana’

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

RASULULLAH menjadi pemimpin negara dan menata kehidupan sosial, masjid menjadi “istananya”. Masjid menjadi pusat peradaban.

Masjid tempat bersujud. Jumlah masjid di kota ini tak terhitung. Terus bertambah. Masjid tua banyak direnovasi. Masjid baru terus bertumbuh, bertambah jumlahnya.

Bangunan masjid megah, proses pembangunan masjid cepat terselesaikan dengan biaya milyaran.

Di ramadan ini, kita menjumpai masjid-masjid cukup semarak. Menjelang buka puasa jamaah berdatangan, menjelang isya jumlahnya makin bertambah, tentu sekaligus menunaikan shalat tarwih berjamaah. Ceramah menggema di mana-mana.

Semua menjadi bukti, kita berada dalam masyarakat religius, kita menjadi bagian dari mereka. Sejatinya dengan menyadari itu, kita makin tersadarkan ihwal nilai-nilai agama mewarnai tutur kata, sikap dan perlakuan pada sesama.

Menarik untuk Anda:

Mengedepankan persaudaraan dan kedamaian sebagai spirit agama, damai.

Menjadi kaum berakhlak. Menjadi pribadi shaleh dan shalehah. Membaur dalam masyarakat khairu ummah menuju terwujudnya baladatun tayyibatun warabbun ghafur. Hadir dalam negeri yang damai, penuh penghormatan dan penghargaan pada yang lain.

Belajar dari masjid, semua kita bersaudara dan setara. Berdiri membangun shaf sejajar tanpa status sosial, shaf diatur sesuai dengan ketepatan waktu.

Siapapun yang belakangan hadir, entah dia pejabat atau orang kaya. Tetap mengatur shafnya dibelakang orang miskin yang datangnya lebih awal. Indahnya kebersamaan dalam masjid, kita semua setara.

Rasulullah menjadikan masjid pusat peradaban, bukan sekedar untuk ibadah mahdah. Indahnya jika para pemimpin, penguasa selalu hadir masjid berbaur dengan rakyatnya seperti diteladankan Nabi. Kehidupan pemimpin dimulai dari masjid.

Dulu sempat sekilas melihat spanduk bertuliskan dilarang politisasi masjid. Itu benar, tapi bukan berarti politisi dilarang masuk masjid. Tentu tidak. Justru sebaliknya, politisi sebaiknya lebih memaksimalkan ibadahnya di masjid, sebab kelak akan menjadi pemimpin yang memiliki spirit amanah dan terpercaya.

Setiap insan sejatinya menjadikan masjid sebagai pusat peradaban, titik sentral seluruh aktifitas. Yakni memulai dari masjid dengan shalat shubuh berjamaah hingga menutup aktifitasnya dengan shalat isya berjamaah, lalu istrahat.

Sebuah pola kehidupan yang sangat indah, kala rotasi aktifitas bermula dan berakhir di masjid sehingga keseluruhan aktifitasnya memiliki dimensi ilahiyah.

Betapa setiap orang beraktifitas senantiasa dipengaruhi dari bekas sujudnya, tidak kecuali seorang politisi yang selalau membersihkan dirinya agar selaras ucapan, janji politik dengan pembuktiannya.

Tidak menjanjikan sesuatu yang mustahil ia tunaikan. Nabi mengajarkan, orang yang dirindukan sorga adalah mereka yang selalu mementingkan waktu shalat.

Sejatinya momentum puasa menjadi titik tolak para calon pemimpin yang bergiat di dunia politik semakin mendekatkan diri di masjid dengan memaknai puasa untuk menahan diri dari hawa nafsu kekuasaan.

Sebaliknya, mereka mengawali niatnya untuk meraih kekuasaan semata untuk kemaslahatan umat seperti diteladankan Nabi bersama para sahabatnya.

Betapa indah Islam mengajar nilai-nilai keduniaan berselaras dengan ukhrawi. Setiap muslim memadukan duniawi dan ukhrawi sehingga setiap langkah dan keputusannya semata untuk kebaikan bersama, kepentingan orang banyak.

Jika ini menjadi bagian kesadaran para calon pemimpin, kira-kira masihkah ada yang korupsi jika setiap jedah waktunya dimanfaatkan untuk memaksimalkan ibadah shalat yang akan mencegahnya melakukan kemungkaran.

Nabi telah mencontohkan, dalam kesederhanaannya, Nabi mengembang amanah sebagai kepala Negara yang menjadikan masjid sebagai “istananya”.

Jadi masjid menjadi pusaran spirit pemerintahan bukan justru politisasi masjid, sekadar mendulang pencitraan semu guna meraup popularitas. Sejatinya para pemimpin itu juga menjadi jamaah, warga masjid. Wallahu alam.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Maulid Rasul, Ekspresi Kemanusiaan dalam Kerinduan

Dunia Merindukan Muhammad SAW

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar