Ibadah Tanpa Lelucon

Video berdurasi singkat merekam kegiatan tarawih yang digelar di rumah. Bapak menjadi imam diikuti anggota keluarga lainnya sebagai jemaahnya.

Sayangnya, seorang anak perempuan usia kanak-kanak dibiarkan berada di tengah-tengah mereka. Praktis mengganggu. Dia masuk dalam sarung sang imam.

Seketika suara ketawa meledak dan salat tarawih berjamaah di rumah itu pun bubar.

Baca Juga: Aksi Maling Terekam CCTV Saat Beraksi di Dalam Masjid, Periksa...

Peristiwa serupa, beredar video anak laki-laki berusia belia ikut salat bersama ayah dan ibunya, tapi si anak laki itu justru bermain sambil peragakan gerakan karate, bukan gerakan salat.

Akibatnya, celananya robek hingga sang ibu tertawa terbahak, salat tarawih berjamaah itu juga bubar.

Baca Juga: Merinding, Pekerja Salat di Atas Crane Tinggi Viral di Medsos

Kedua kasus dari tayangan video yang viral itu memberi kesan bermain-main dalam ibadah salat. Beribadah dengan lelucon.

Kelakuan sang anak tidak salah dilihat dari usianya, masih kanak-kanak. Wajar kelakuannya serba main-main. Itu natural sesuai nalurinya.

Masalahnya, kelakuan mereka direkam dan disebar hingga viral. Lagi, kesan ibadah penuh lelucon, jadi candaan.

Baca Juga: Merinding, Pekerja Salat di Atas Crane Tinggi Viral di Medsos

Reaksi netizen beragam, ada yang membiarkan karena hal itu lumrah terjadi. Tapi lainnya berpandangan berbeda, keliru karena beribadah tapi tidak khusyu apalagi bubar, salatnya batal.

Titik kelirunya karena disebar padahal tidak pantas, karena konten ibadah apalagi salat.

Maka kita berharap agar masyarakat tidak membagikan video serupa, bermain-main dalam beragama, ibadah jadi lelucon, bahan tertawaan. Ini penting demi menjaga marwah wibawa agama.

Apapun bentuknya, ibadah tidak dapat dijadikan lawakan. Justru sebaliknya, menjaga kekhusyuan karena posisi menghadap menyembah Allah sang khalik.

Menyiapkan kamera dan merekam dalam video untuk disebar menunjukkan kesengajaan pelakunya untuk dia sebar, semata untuk lelucon. Tentu pelaku tidak memiliki niat melecehkan agama tapi tindakan itu tidak etis.

Beribadah di rumah apalagi di bulan ramadan bersama keluarga adalah hikmah lain dari situasi sekarang ini. Sejatinya bersama-sama menjaga kesucian ramadan dengan memperbanyak ibadah penuh kekhusyuan karena ibadah bukan lelucon.

Firdaus Muhammad (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel)

Bagikan