Singgung Anies Baswedan Soal Perubahan Nama Jalan, Guntur Romli: Itu Modal Anies Buat Nyapres

Terkini.id, Jakarta- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menjadi sorotan publik terkait kebijakan perubahan nama jalan yang baru diresmikan. 

Kebijakan Anies Baswedan tersebut lantas ramai menjadi perbincangan netizen di media sosial. 

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli turut berkomentar melalui aku Twitternya yang diunggah pada Minggu 26 Juni 2022. 

Baca Juga: Anies ke Jepang Bertemu Gubernur Tokyo, Bahas Apa?

Guntur Romli dengan tegas mengatakan bahwa perubahan nama jalan merupakan politisasi isu SARA yang dilakukan Anies Baswedan. 

Guntur Romli lantas menjelaskan bahwa politisasi isu SARA dari Anies Baswedan digunakan untuk modal dirinya menjadi Capres Pemilu 2024. 

Baca Juga: Anies Baswedan Undang Gubernur Tokyo Hadiri Urban 20 di Jakarta:...

“Politisasi isu SARA dari Anies melalui perubahan nama jalan itu modal Anies buat nyapres,” tulis Guntur Romli. 

Selanjutnya, Guntur Romli menyinggung Anies Baswedan saat Pilkada DKI Jakarta 2017. 

Dia menyebut, saat Pilkada, Anies Baswedan menggunakan politik identitas. 

Baca Juga: Anies Baswedan Undang Gubernur Tokyo Hadiri Urban 20 di Jakarta:...

“Seperti halnya di Pilkada DKI 2016-2017, juga pakai politik identitas,” ungkapnya. 

Guntur pun lantas menyebut Anies telah meneguhkan dirinya sendiri sebagai Bapak Politik Identitas. 

“Dan Anies meneguhkan dirinya sendiri sebagai Bapak Politik Identitas,” pungkasnya.

(Twitter/GunRomli)

Sebelumnya, Guntur Romli juga menyatakan bahwa perubahan nama jalan hanya dari tokoh Betawi justru meneguhkan Anies Baswedan sebagai Bapak Politik Identitas. 

“Perubahan nama-nama jalan hanya dari tokoh-tokoh Betawi, bagi saya semakin meneguhkan Anies sebagai Bapak Politik Identitas,” tulis Guntur Romli. 

Guntur Romli menyatakan bahwa di balik perubahan nama-nama jalan menggunakan nama tokoh Betawi terdapat politisasi isu SARA. 

“Ini politisasi isu SARA di balik perubahan nama jalan,” ujarnya. 

Menurut Guntur Romli, seharusnya sebagai ibukota Indonesia, Jakarta mesti mencerminkan kebhinekaan. 

Dia menambahkan agar perubahan nama jalan tersebut tidak diidentikkan dengan satu suku saja. 

“Harusnya Jakarta mencerminkan kebhinnekaan, ini ibu kota, jangan diidentikkan dengan satu suku saja,” jelas Guntur. 

Lebih lanjut, Guntur Romli meragukan Anies Baswedan peduli terhadap tokoh Betawi. 

Pasalnya,  perubahan nama-nama jalan tersebut dilakukan pada jalan-jalan kecil yang padat pemukiman. 

Menurut Guntur, perubahan nama-nama jalan kecil yang padat pemukiman justru akan menyusahkan warga. 

“Kalau bener Anies peduli pada tokoh Betawi kenapa yang diubah hanya nama jalan-jalan kecil yang padat pemukiman sehingga menyusahkan warga-warga di sana,” ungkapnya. 

“Kenapa tidak ubah JIS menjadi MH Thamrin Stadion misalnya,” sambungnya. 

Selanjutnya, Guntur pun mencontohkan penamaan nama-nama jalan yang ada di sejumlah wilayah di DKI Jakarta. 

Dia menyebutkan nama-nama jalan utama di DKI Jakarta, seperti MH Thamrin tokoh dari Betawi, Jend. Soedirman dari Jawa, Sisingamangaraja dari Batak, Panglima Polim dari Aceh dan Fatmawati dari Bengkulu. 

“MH Thamrin, tokoh Betawi nama jalan utama. Selanjutnya Jend Soedirman dari Jawa, Sisingamangaraja dari Batak, Panglima Polim dari Aceh, Fatmawati Melayu Bengkulu. Ini contoh penamaan jalan-jalan,” sebut Guntur. 

Dari nama-nama jalan yang dicontohkan, Guntur kembali mengingatkan untuk tidak mengambil dari satu suku saja. 

Hal tersebut, kata Guntur, dikecualikan jika memang Anies Baswedan sengaja ingin politisasi SARA. 

“Jangan cuma ambil dari satu suku saja. Kecuali Anies memang sengaja mau politisasi SARA,” pungkasnya.

(Twitter/GunRomli)
Bagikan