Ijazah dan Imajinasi Republik

Ijazah dan Imajinasi Republik

K
Kamsah

Penulis

Kita akan hidup dalam dunia di mana fakta dan fiksi bisa dipertukarkan. Dan di situlah republik benar-benar runtuh: bukan karena kudeta, tapi karena semua orang berhenti percaya.

Saya kira, inilah saatnya kita mengingat ulang apa yang pernah ditulis George Orwell: “Di masa tipu daya universal, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner.”

Dan saya percaya, bahkan di negeri yang makin alergi terhadap kritik, tugas intelektual bukan melindungi penguasa, melainkan menggugatnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak nyaman, tapi perlu.

Karena sekali lagi: republik bukan dibangun dari kesepakatan di atas podium. Ia tumbuh dari rasa percaya di dalam hati rakyat. Dan kepercayaan itu tak bisa dibeli, ditunda, atau dicetak ulang seperti lembar ijazah.

Tapi barangkali memang kita sedang hidup dalam zaman baru, zaman yang dikepalai oleh keheningan yang lihai. Sebuah masa ketika negara lebih percaya pada jasa konsultan media daripada lembar transkrip nilai. Ketika narasi tentang “merakyat” bisa dijadikan pengganti surat keterangan lulus. Ketika selfie dengan warga dianggap lebih penting daripada catatan akademik.

Baca Juga

Maka jangan heran, jika hari ini seorang presiden bisa dianggap sah bukan karena riwayat pendidikannya jelas, tapi karena elektabilitasnya tak tertandingi. Kita pun disuguhi pertunjukan demokrasi rasa sinetron: penuh kejutan, skrip rahasia, dan twist murahan di babak akhir.

Apa yang lebih menggelikan dari negara yang bersikeras bahwa presidennya alumni universitas, tetapi setiap kali diminta menunjukkan bukti, ia justru marah-marah atau mengalihkan isu?

Alih-alih menyuguhkan dokumen yang gamblang, kita malah dijejali pernyataan bernada emosional dari pejabat kampus, cuplikan video sambutan, hingga surat edaran yang lebih mirip brosur iklan. Dalam teater ini, bukti digantikan oleh testimoni, dan testimoni dijadikan alat pembenaran yang sakral. Padahal dalam ilmu hukum, bukti tetaplah bukti, bukan cerita rakyat.

Tapi tentu saja, kita terlalu bodoh untuk mengerti. Kita terlalu naif untuk memahami betapa mulianya orang-orang besar. Kita ini cuma rakyat yang suka curiga, gampang termakan hoaks, dan tak tahu diri. Bukankah begitu cara kekuasaan melihat kita?

Maka jangan heran kalau suatu hari nanti, ijazah bukan lagi soal belajar, tapi soal branding. Tak perlu kuliah, asal terlihat sibuk. Tak usah menulis skripsi, asal sering diwawancara. Pendidikan tinggi? Itu hanya formalitas. Yang penting punya tim buzzer dan cukup narasi untuk menenggelamkan kritik.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.