Iran Desak Amerika Serikat Hentikan Kecanduan Beri Sanksi!

Iran Desak Amerika Serikat Hentikan Kecanduan Beri Sanksi!

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Teheran – Iran desak Amerika Serikat hentikan kecanduan beri sanksi! Selama ini, selaku negara adikuasa yang memposisikan dirinya sebagai ‘polisi dunia’, Amerika Serikat (AS) getol memberikan sanksi ke berbagai negara yang dianggap tidak mematuhi prinsip mereka.

Hal itulah yang membuat pemerintah Iran mendesak Amerika Serikat menghentikan kecanduannya menjatuhkan sanksi terhadap negaranya, usai Kementerian Keuangan AS mengumumkan sanksi finansial terhadap empat warganya.

“Washington harus memahami, mereka tidak memiliki pilihan lain selain melepas kecanduannya terhadap sanksi dan menunjukkan rasa hormat, baik dalam pernyataanya maupun dalam perilakunya, terhadap Iran,” terang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, seperti dilansir dari AFP via CNNIndonesia, Minggu 5 September 2021.

Seperti diketahui, pada Jumat 3 September 2021 lalu, Kemenkeu AS mengumumkan sanksi terhadap empat operasi intelijen Iran yang dituduh merencanakan penculikan terhadap salah satu jurnalis keturunan Iran di AS.

Menurut dakwaan pemerintah AS, para perwira intelijen mencoba memaksa kerabat jurnalis blasteran Amerika-Iran, Masih Alinejad yang berbasis di Iran untuk memancingnya pergi ke negara ketiga.

Baca Juga

Hal itu dilakukan agar ia bisa ditangkap dan dibawa ke Iran untuk dijebloskan ke penjara. Namun, saat itu gagal. Pihak Iran kemudian diduga menyewa penyelidik swasta AS untuk memantau selama dua tahun terakhir.

Khatibzadeh menyangkal tuduhan itu. Ia menyebut hal tersebut sebagai, ‘skenario Hollywood, tak berdasar dan tak masuk akal’.

Iran dan AS memang kerap berselisih. Di bawah kekuasaan Donald Trump, Washington secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir 2015.

Kesepakatan itu menawarkan bantuan kepada Iran dari sanksi yang menjeratnya sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir.

Teheran bersedia masuk lagi ke Pakta Nuklir 2015, jika AS kembali ke kesepakatan dan mencabut sanksi terhadap Negeri Mullah itu.

Bulan lalu, Prancis, Jerman, dan Inggris menyatakan keprihatinannya mengenai laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengonfirmasi Iran memproduksi uranium hingga 20 persen fisil murni, dan menambah kapasitas produksi uranium yang diperkaya menjadi 60 persen.

Iran mengaku program nuklirnya damai. Mereka mengklaim telah memberi tahu pengawas mengenai kegiatannya.

Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan, mereka mencoba kembali menghidupkan kesepakatan nuklir 2015.

“Ada dalam agenda pemerintah, tetapi tidak di bawah tekanan (Barat),” bebernya, kepada media pemerintah, Sabtu 4 September 2021.

Raisi menyatakan, pembicaraan kelanjutan Wina soal menghidupkan kembali pakta nuklir ada dalam agenda.

“Tetapi bukan pembicaraan demi pembicaraan, atau negosiasi demi negosiasi. Dalam pembicaraan ini, kami berusaha untuk mendapat pencabutan sanksi yang menindas. Kami tidak akan menyerah pada kepentingan bangsa Iran yang besar,” tegas Raisi.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.