Terkini.id, Jakarta – Presiden Jokowi baru-baru ini menyampaikan pidatonya yang bernarasikan masyarakat harus mengkritik dan memberi masukan kepada kinerja pemerintah.
Penuturan dari Presiden Republik Indonesia ini sontak membuat banyak masyarakat berkomentar kurang baik alih-alih mendukung.
Pasalnya, sudah banyak kasus yang mengkritisi kinerja pemerintah namun malah berakhir di tahanan.
Pernyataan ini juga ramai dikaitkan dengan buzzer. Buzzer adalah orang yang memiliki pengaruh tertentu untuk menyatakan suatu kepentingan.
Buzzer dapat bergerak dengan sendirinya untuk menyuarakan sesuatu, atau bisa jadi ada sebuah agenda yang telah diatur.
- Buku Bahasa Makassar Karya Prof Kembong Guru Besar FBS UNM, Resmi Diterbitkan Yudhistira
- 30.369 Peminat SNBT 2026, Plt Rektor UNM Ingatkan Waspada Joki dan Penipuan
- DPRD Makassar Soroti Pentingnya Akta Kematian dalam Validitas Data Pemilih
- Pendaftaran Pangkalan LPG 3 Kg Gratis, Pertamina Sulawesi Tegaskan Isu Berbayar Hoaks
- Ketua DPRD Sulsel Ikuti Retret Nasional, Asah Visi Kepemimpinan
Dalam menyuarakan suatu kepentingan ini dapat dilakukan secara langsung dengan identitas pribadi atau secara anonim.
Buzzer bertugas untuk menggiring opini tentang suatu isu demi suatu kepentingan.
Buzzer biasanya akan bekerja secara kolektif untuk menyuarakan hal yang sama dan juga dipergunakan oleh tokoh-tokoh politik demi kepentingan masing-masing.
Pernyataan Jokowi dalam pidatonya yang disampakan Senin, 8 Februari 2021 ini dikaitkan dengan buzzer. Banyak yang menduga pemerintahan Jokowi menggunakan buzzer untuk menggiring opini publik.
Sujiwo Tejo salah satu dari sekian banyak pihak yang menyinggung hal ini. Ia berkata jika Jokowi minta dikritik, buzzer harus ditertibkan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
