Terkini.id, Jakarta – Kubu Moeldoko menyebut bahwa Partai Demokrat paling terpuruk sepanjang sejarah ketika dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad sebagai tanggapan atas pernyataan kubu AHY bahwa Demokrat KLB Deli Serdang menempuh jalan sesat politk.
Sebelumnya, pernyataan soal ‘sesat politik’ itu dilontarkan oleh Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani.
Rahmad menganggap bahwa pihak yang menempuh jalan sesat justru adalah SBY dan AHY serta para pendukungnya.
Mereka, kata Rahmad, telah mengubah Partai Demokrat yang awalnya sangat demokratis, merakyat, dan milik rakyat menjadi partai tirani, otoriter, sewenang-wenang, dan pura pura merakyat.
- Kubu Moeldoko Tuntut Ganti Rugi 100 M, Demokrat: di Otaknya Hanya Duit Saja
- Kubu Moeldoko Sarankan SBY Dirikan Partai Baru, Andi Mallarangeng Ngakak
- Bersyukur Keluar dari Demokrat Kubu Moeldoko, Razman Arif: Untung Gak Terjebak Jadi Lumpur
- Santai Sikapi Mundurnya Razman, Darmizal: Persoalan Remeh-Temeh
- Mundur dari Kubu Moeldoko, Razman: Saya Punya Reputasi untuk Jaga Nama Baik
“Inti dari kesuksesan sebuah partai politik adalah menang pemilu dan jumlah perolehan kursinya di DPR RI meningkat,” ujarnya pada Kamis, 20 Mei 2021, dilansir dari Sindo News.
“Maka Pemilu 2019 adalah titik nadir terendah bagi Partai Demokrat. Partai Demokrat paling terpuruk sepanjang sejarah, ketika dipimpin SBY dan AHY,” tambahnya.
Dia mengungkapkan baha Partai Demokrat yang berdiri pada tahun 2001 mengikuti Pemilu pertama kali pada tahun 2004 dan memperoleh 57 kursi di DPR RI.
Saat itu, Ketua umum (Ketum) Partai Demokrat adalah Profesor Subur Budhisantoso.
Berikutnya, pada 2019, Demokrat mengikuti pemilu ke-empat kalinya dan hanya memperoleh 54 kursi di DPR.
“Padahal, pengelola Partai pada Pemilu 2019 adalah SBY sebagai Ketua Umum dan AHY sebagai Ketua Kogasma (Komando Satuan Tugas Bersama) dan Ibas sebagai Ketua Pemenangan Pemilu,” ungkap Rahmat.
Bahkan, menurut Rahmad, perolehan kursi Demokrat pada Pemilu 2019 lebih rendah lagi dari Pemilu 2014.
Katanya, pada Pemilu 2014, Demokrat masih mendapat 61 kursi di DPR, lantaran waktu itu Ketua Umumnya adalah Anas Urbaningrum yang dikudeta oleh SBY.
“Logika sehat politik siapapun akan berkata bahwa semestinya titik nadir itu terjadi pada Pemilu 2014 dan rebound atau naik pada Pemilu 2019 ketika SBY dan anak-anaknya full team mengelola Demokrat,” kata Rahmat.
“Ternyata faktanya terbalik. Justru ketika ditangani keluargais Cikeas, perolehan suara Demokrat terendah sepanjang sejarah,” tandasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
