Kenapa Perayaan Valentine Sering Dikaitkan Dengan Seks Bebas, Ini Penjelasan Dosen Sosiologi

Berhubungan Badan
Foto: ilustrasi

Terkini.id, Makassar – Hari Valentine atau peringatan hari kasih sayang di Indonesia sering diidentikkan dengan hal yang berbau seks. Di Kota Makassar, menjelang 14 Februari, pemerintah melarang toko menjual bebas kondom.

Dosen Sosiologi Universitas Hasanuddin Nuvida RAF mengatakan, bila diperhatikan model perayaan tersebut sangat mirip di negeri asalnya.

Pemaknaan kasih sayang kemudian seolah menjadi sempit dalam arti hubungan seksual saja. “Karenanya alat kontrasepsi menjadi laku sekali menjelang valentine,” kata Nuvida kepada Makassar Terkini, Jumat 14 Februari 2020.

 

Di sini pula, kata dia, produsen kontrasepsi berkepentingan untuk dapat meraih untung yang banyak. Iklan-iklan kasih sayang akhirnya identik dengan alat kontrasepsi.

Dia menilai ada kesalahan dalam memaknai kasih sayang seperti itu. Terlebih banyak anak usia sekolah yang ikut-ikutan tren Valentine tanpa memahami lebih dalam.

Di tengah kehidupan masyarakat yang terbuka akan berinteraksi dengan berbagai budaya yang berbeda. Dia mengatakan Globalisasi dan kemajuan teknologi media sosial memberi kesempatan yang luas masyarakat mengenal dan saling mempengaruhi.

Valentine di sini bisa dilihat sebagai budaya barat yang kemudian telah menjadi budaya sebagian anak muda di Indonesia. Sebagian orang Indonesia merayakannya. Perayaan ini kemudian dimaknai sebagai simbol eksistensi di era milenial.

“Khususnya untuk generasi milenial,” kata dia.

Sebagai akademisi, Nuvida mengingatkan bahwa kebudayaan barat tak selamanya bisa diterima oleh masyarakat. Bagi mereka yang memegang budaya ketimuran akan melihat Valentine sebagai budaya yang mengancam budaya lokal.

Terlebih lagi, kata dia, dengan adanya pemaknaan yang sempit akan Valentine hanya dalam hal hubungan seksual.

“Masyarakat menolaknya karena itu merupakan tindakan yang bertentangan dengan norma dan adat kita. Dan itu tidak bisa ditolerir,” paparnya.

Dia pun mengapresiasi sikap Pemerintah Kota Makassar yang mengakomodir keinginan masyarakat dengan mengeluarkan surat edaran untuk tidak merayakan Hari Valentine.

Kendati demikian, Nuvida memberi catatan pada tindakan pemerintah yang terkesan lambat. Dia mengatakan, bila ingin menghindarkan generasi muda dari perayaan Valentine yang salah kaprah, seharusnya pemerintah sedari dulu melakukan sosialisasi.

“Saya pikir seharusnya sedari jauh-jauh hari sudah disosialisasikan bahwa Valentine bukan budaya kita. Kemudian para orang tua juga mengedukasi anak-anaknya di rumah,” kata dia.

Selain itu, ia menyebut ada kegiatan yang bisa mengalihkan anak sekolah dari perayaan Valentine. Bentuknya, kata dia, hal yang bisa menyibukkan diri dan positif seperti lomba- lomba kreativitas.

“Saya pikir, pasti anak sekolah akan lebih tertarik,” kata dia.

Sementara di tingkat masyarakat, Nuvida mengatakan harus ada edukasi yang disampaikan penuh kasih sayang bukan edukasi yang penuh hujatan.

“Bukan malah membuat anak remaja malah jadi antipati dan berpikir mereka yang menentang perayaan Valentine termasuk generasi kolot,” ungkapnya.

Nuvida berpendapat  perlu ada dialog antar generasi dalam memaknai Hari Valentine. Dengan begitu, semua pihak bisa saling membuka diri untuk menerima alasan.

Pemkot Makassar Larang Perayaan Valentine

Sebelumnya, Pemerintah Kota Makassar melarang pemuda merayakan Hari Valentine atau hari kasih sayang yang jatuh pada 14 Februari 2020.

Alasannya, banyak pelajar yang menerjemahkan Hari Valentine sebagai momentum untuk melakukan seks bebas dan pesta narkoba.

Penjabat Wali Kota Makassar, M Iqbal Samad Suhaeb mengatakan telah mengimbau pemuda untuk menolak Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari 2020.

“Valentine itu bukan budaya kita, bukan budaya timur. Hindari sifat hura-hura, jangan terperosok ke dalam pergaulan bebas, jauhi minuman keras, jangan rusak moral yang tertanam di dirimu,” ujar Iqbal Suhaeb, Rabu 12 Februari 2020.

Kendati Hari Valentine telah menjadi budaya global dan menyasar generasi muda, Iqbal mengatakan bila memang harus dirayakan seyogyanya disalurkan pada kegiatan yang positif.

“Jika memang tetap ingin dirayakan, salurkanlah secara cerdas. Kasih sayang itu bukan selalu terhadap pasangan,” kata dia.

Hari Kasih Sayang, menurut Iqbal, bisa dalam bentuk lain, seperti memberi santunan anak yatim, memberi makan fakir miskin, memberi makan orang-orang jompo, memberi perhatian kepada saudara-saudara kita kaum duafa.

“Itulah kasih sayang yang jauh lebih hakiki,” paparnya.

Komentar

Rekomendasi

Dokter Sekaligus Komandan Penanganan Corona Jatim Ungkap Kelemahan Covid-19

Tanpa Gejala, Kepala Bandara Hasanuddin Makassar Positif Corona

Imbas Corona, Maskapai di Indonesia Terancam Bangkrut dan PHK Karyawannya

Beredar Video Satpam Terkapar di Pinggir Jalan, Ternyata Hipertensi Bukan Corona

Salut, Sejumlah Pemuda Beri Bantuan Uang untuk Tunawisma di Tengah Wabah Corona

Update Kasus Corona di Sulsel, 33 Positif, 4 Meninggal Dunia

Sempat Tulis Pesan untuk Jokowi, Satu Jurnalis PDP Corona Meninggal Dunia

Badan Gemetar dan Tak Sadarkan Diri, Pria Ini Dievakuasi Petugas Medis Corona

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar