Kendati Dikucilkan, Warga Jalan Buru Tetap Perjuangkan ADAMA

Kendati Dikucilkan, Warga Jalan Buru Tetap Perjuangkan ADAMA

K
FD
Kamsah
Fachri Djaman

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Nur Fitriati, warga Jalan Buru, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo mendapat perlakuan buruk di lingkungan tempat tinggalnya. Dia dikucilkan lantaran berbeda pilihan politik di Pilwalkot Makassar 2020 ini.

Fitri curhat di hadapan Moh. Ramdhan “Danny” Pomanto. Saat kampanye dialogis berlangsung di Jalan Laiya, Lorong 253, Kelurahan Ende, Kecamatan Wajo, Minggu, 25 Oktober 2020.

“Jadi saya ini pak, sama kayak bapak. Terzalimi di lorong saya. Dan saya seperti menyebrang pulau. Jadi saya ini pak, seandainya berdoa dan bapak menang nanti, kita lihat orang-orang di lorong saya. Kalau bapak menang, mereka bilang saya orangnya bapak. Padahal di belakangnya tidak,” kata Fitri.

Bahkan, kata Fitri, dia tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah karena dianggap merupakan pendukung Danny Pomanto-Fatmawati Rusdi.

“Sebelumnya ada masalah. Tapi lebih masalah lagi karena saya orangnya ADAMA (akronim Danny-Fatma.) Tambah terbenci saya. Begitulah mungkin saya dikucilkan. Karena kalau ada bantuan, tidak pernah dia mendata warga, seakan-akan dia kayaknya memilih. RT yang dibedah rumah, sedangkan kita yang rumahnya mau roboh tidak dibedah. Ini RT apa ini, nah kita memilih RT yang baik,” ujar dia.

Baca Juga

Ada pun permasalahan kecil yang dialaminya, lanjut Fitri, malah menjadi persoalan besar. 

“Ada sedikit masalah, bukan berbicara dengan baik malah dia kompa” (provokasi) satu lorong. Jadi saya ini pak bagaimana sebagai masyarakat kecil. Saya mau ajak bapak masuk sosialisasi, mereka kayaknya menolak,” ungkapnya.

Kendati begitu, Fitri tetap optimistis berjuang memenangkan ADAMA pada 9 Desember mendatang.

“Saya tidak bisa undangki pak di wilayahku, tapi cukup saya perjuangkan bapak sampai titik penghabisan. Hidup pak Danny, hidup nomor satu,” teriak Fitri dengan nada serak.

Masih di tempat yang sama, Hasnia Daeng Bollo juga menyampaikan keluh kesahnya. Ia mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

Padahal, kata Hasnia, dia adalah janda. Sudah 31 tahun ditinggal suami. Belum lagi, dia memiliki anak dua. Juga bertempat tinggal bukan di rumah sendiri.

“Saya ini pak 31 tahun janda, tidak pernahka dapat sembako. Uang dana harapan apa tidak pernahka dapat. Saya sering setor kartu keluarga dan KK, tidak pernah keluar (bantuan). Saya sering kasih masuk KTP di kantor lurah. Pernah saya daftar dana sosial, itu tidak pernah juga keluar,” ungkapnya.

Daeng Mami pun demikian. Warga Jalan Laiya, Lorong 253 itu juga tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah.

“Saya punya dua anak. Saya ibu rumah tangga. Suamiku sekarang tidak kerja. Tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah,” kata dia.

Dengan demikian, dia berharap Danny Pomanto lebih memperhatikan permasalahan itu jika kelak terpilih. Tidak hanya untuk keduanya. Tetapi, lebih ke masyarakat lainnya yang memang layak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Keluhan warga itu pun langsung ditanggapi Danny Pomanto. Danny menyebut akan mencari solusi dari permasalahan itu. 

“Ada ji akta kelahiran ta kah? surat nikah ada ji? semestinya kalau ada, tidak ada masalah. Mengenai bantuan ini memang pendataannya itu tidak melibatkan RT/RW. Ada warga yang mesti dapat, itu tidak dapat seperti kita,” kata Danny Pomanto.

“Yang meskinya tidak dapat, dapat. Sabara’ki bu, saya carikan solusi. Tungguma. Tusuk nomor satu. Menang, menang kita punya usulan nanti, Insya Allah,” tutupnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.