Terkini.id, Makassar – Alarm berbunyi, waktu menunjukkan pukul 2.30 WITA. Zainuddin, di usia yang memasuki 53 tahun bergegas meninggalkan kediamannya. Ia menghembuskan asap rokok ke udara sekadar memperjelas larut.
Tubuhnya yang ringkih melangkah menembus udara dingin, menjauh dari rumah. Suaranya perlahan menggelegar bersama toa digenggamannya. Sekilas, ia tampak seperti aktivis yang protes terhadap kebijakan negara yang tak berpihak pada masyarakat.
Sesekali suara tiang dan pagar rumah melengking akibat pukulan tongkatnya. Kacamata Ray-Ban yang ia kenakan tampak berkilau di bawah cahaya lampu lorong.
Kakinya yang mungil mengenakan sandal jepit menyusuri tiap lorong untuk membangunkan warga di Kelurahan Malimongan, Kecamatan Wajo, Makassar.
Tongkat yang menemani perjalanan selama lebih dari separuh hidupnya seakan mampu mengenali bau rumput, jalan berlubang, dan air yang menggenang. Peci putih yang melekat di kepalanya perlahan menghilang dari mata cahaya lampu.
“Sahur, sahur,” kata Zainuddin di tengah gerimis.
Meskipun cuaca buruk, Zainuddin tetap membangunkan warga sahur dan menggunakan jas hujan untuk menutupi toanya.

Sebelumnya, ia membuat proposal untuk mencari bantuan dana untuk membeli toa, agar ia tidak hanya menggunakan seng dan berteriak saat membangunkan warga.
Zainuddin melakukannya bukan untuk mencari keuntungan, tetapi semata-mata mencari pahala. Warga pun merasa senang dan bahagia ketika dibangunkan oleh Zainuddin.
Meskipun ada warga yang memberikan beras, uang, atau sedekah, ia tidak pernah memintanya. Warga sendiri yang ingin memberikan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
