Komitmen Lahirkan Agrosociopreneur, Dr. Syaifuddin Terapkan Kurikulum Berbasis Kewirausahaan di Kampus Polbangtan Gowa

Direktur Polbangtan Gowa, Dr. Syaifuddin

Data BPS (2015) menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor pertanian mengalami penurunan menurun sebesar 3,13 persen. Menurut Kementerian Pertanian (2015), penurunan ini merupakan hal yang wajar dan alamiah ketika sektor lain mengalami kemajuan. Kebanyakan masyarakat  golongan usia muda lebih memilih sektor perdagangan dan jasa dibandingkan sektor pertanian, meskipun pertanian adalah sektor usaha yang sangat bergengsi, karena sangat berperan dalam menyediakan bahan pangan bagi ummat manusia.  Namun rupanya hal ini tidak secara otomatis menarik perhatian masyarakat terutama generasi usia muda untuk menekuni bidang usaha pertanian.  Generasi muda mulai asing dengan pertanian, terlihat dengan semakin berkurangnya anak muda yang bergerak di bidang pertanian.  Disamping itu, sekitar 84 persen petani Indonesia berusia lanjut, jumlah petani berkurang sebanyak 500.000 orang per tahun, rendahnya lulusan pendidikan pertanian yang bekerja di sektor pertanian termasuk wirausahaan muda pertanian.  

Berangkat dari pemarmasalahan inilah Dr. Ir. Syaifuddin, MP selaku Direktur Polbangtan Gowa melakukan inovasi dengan mengubah kurikulum umum yang selama ini diterapkan di Kampus Polbangtan Gowa kedalam bentuk kurikulum pendidikan yang bervisi kewirausahaan. Dengan diterapkannya kurikulum ini, Polbangtan Gowa mampu memberikan proyeksi positif mengenai generasi muda yang berwirausaha di sektor pertanian atau lebih dikenal dengan agrosociopreneur di Indonesia nantinya. Rancangan mengenai konsep kurikulum ini sebelumnya telah mendapat apresiasi dan dukungan dari Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. Sejalan dengan Direktur Polbangtan Gowa, Kabadan Prof. Dedi menegaskan bahwa inovasi ini selaras dengan utama dari Politeknik Pembangunan Pertanian yaitu menyiapkan SDM pertanian untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Melalui pembinaan dan pengarahan generasi muda kepada sektor pertanian, Indonesia tidak hanya akan memiliki SDM pertanian yang berkualitas tetapi juga akan melahirkan agrosociopreneur yang kelak akan membawa Indonesia setara dengan negara-negara maju lainnya. “Kami akan menjadikan Polbangtan Gowa sebagai benchmark dari kurikulum berbasis kewirausahaan ini, dan kemudian akan kami terapkan ke seluruh enam polbangtan  yang tersebar di Indonesia jika Polbangtan Gowa berhasil dalam implementasinya” ujar Prof Dedy.

Konversi kurikulum ini dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak baik internal maupun eksternal dan dengan melalui beberapa tahapan diantaranya pertemuan dengan tim efektif, evaluasi, serta perancangan dari konsep, draft hingga terbentuknya kurikulum itu sendiri. Sebagai media sosialisasi, Polbangtan Gowa melakukan Forum Group Discussion (FGD), dan juga melalui berbadai media diantaranya media cetak, elektroni dan media sosial. Penderasan informasi mengenai penerapan kurikulum berbasis wirausaha ini sebagai strategi komunikasi yang dilakukan Polbangtan Gowa ke publik bahwa Polbangtan Gowa kini memiliki komitmen tinggi untuk melahirkan wirausahawan-wirausahawan muda pada sektor pertanian. 

“Kita tidak hanya berhenti dengan penerapan kurikulum berbasis kewirausahaan saja, tetapi kita akan kawal mereka hingga benar-benar terjun langsung di lapangan sebagai pengusaha. Kami akan bina mereka mulai dari bimbingan teknis, pengembangan wirausaha, membangun jejaring usaha hingga pemandirian usaha” ucap Dr. Ir. Syaifuddin, MP. Pembinaan dari mahasiswa hingga sebagai alumni adalah upaya membentuk wirausahawan muda yang berkualitas dan matang, baik dari segi konsep hingga penerapan di lapangan nantinya. 

Seperti yang telah kita ketahui bahwa para tenaga pendidik di Kampus Polbangtan Gowa juga sebelumnya telah mengikuti sertifikasi pendamping kewirusahaan yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Menbiska Nusantara. Selain sertifikasi, Polbangtan Gowa juga telah mengadakan kerjasama dalam rangka Pelaksanaan Uji Kompetensi Pelaku Bisnis dan Kewirausahaan dan Pembentukan TUK (Tempat Uji Kompetensi) di lingkungan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa. “Dosen, Calon Dosen dan PLP sebagai entrepreneurship coaching harus memiliki dasar kompetensi di bidang pendamping kewirausahaan sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang berlaku tentang kewirausahaan industri” ucap Direktur Polbangtan Gowa pada saat pembukaan kegiatan ini. Dengan adanya bekal pengalaman dan sertifikasi ini, tidak sulit bagi Poblangtan Gowa dalam implementasi kurikulu berbasis kewirausahaan ini.

Menarik untuk Anda:

Sebagai penutup, Polbangtan Gowa sejauh ini juga telah menjalankan beberapa program dari Kementerian Pertanian yang berorientasi pada penciptaan wirausahawan muda di sektor pertanian. Kedua program ini adalah Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) yang diperuntukkan untuk mahasiswa dan alumni Polbangtan, serta program Youth Enterpreneurship and Employement Support Services (Yess Program) yang diperuntukkan bagi mahasiswa atau alumni Polbangtan dan bagi pemuda tani. Dengan adanya kurikulum berbasis kewirausahaan ini, diharapkan dapat melengkapi strategi-strategi pemerintah dalam mengarahkan generasi muda untuk menentukan masa depan mereka sebagai wirausahawan di sektor pertanian.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Komitmen Cegah Korupsi dan Tingkatkan Transparansi Kementerian Pertanian

Gelar Webinar, Pendidikan Akuntansi UNM Kembangkan Minat Wirausaha Mahasiswa

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar