Korupsi Bansos BPNT di 4 Kabupaten Sulsel, ACC: Semoga Tak Bernasib Sama dengan Kasus di Makassar

Korupsi Bansos BPNT di 4 Kabupaten Sulsel, ACC: Semoga Tak Bernasib Sama dengan Kasus di Makassar

HZ
Isak Pasabuan
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Anti Corruption Committe (ACC) Sulawesi Selatan (Sulsel) berharap kasus dugaan penyimpangan penyaluran Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Kementerian Sosial (Kemensos) tidak bernasib sama dengan kasus dugaan korupsi mark up Bansos Covid-19 Makassar.

Kasus yang sedang dalam penanganan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel diminta agar ditangani dengan serius.

“Tentunya kami mendukung upaya pengungkapan dugaan korupsi BNPT yang dilakukan oleh polda Sulsel,” kata Direktur ACC Sulsel, Abdul Kadir Wokanubun, Senin 6 September 2021.

“Kami berharap penanganan kasus tersebut tidak bernasib sama seperti dugaan korupsi mark up bantuan sosial Covid-19 Makassar yang hingga saat ini tidak ada sama sekali perkembangannya karena menunggu hasil audit, padahal kasusnya sudah di tahap penyidikan. Polisi juga sudah memeriksa saksi-saksi terkait kasus tersebut,” tambahnya.

Lebih jauh Kadir mengatakan, adanya informasi jika Ditreskrimsus Polda Sulsel telah mengantongi nama tersangka kasus tersebut agar segera disampaikan pada publik.

Baca Juga

“Olehnya itu kami meminta keseriusan Polda untuk segera menuntaskan kasus tersebut, mengingat dua kasus tersebut di tengah situasi pandemi,” pesan Kadir.

Sebelumnya diberitakan Terkini.id, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sulsel, Kombes Pol Widoni Fedri menyampaikan dari hasil penyidikan terhadap kegiatan penyaluran BPNT Kemensos di empat kabupaten di Sulsel yakni Kabupaten Sinjai, Bulukumba, Bantaeng dan Kabupaten Takalar diperkirakan terjadi kerugian negara senilai Rp20 miliar lebih.

Kerugian itu sendiri ditimbulkan dari perbuatan pemotongan nilai barang sembako yang diberikan ke masyarakat yang ikut terdampak pandemi Covid-19.

“Terhitung dari total empat kabupaten yang jadi sampel penyidikan, menurut perkiraan penyidik tiap kabupaten itu kerugiannya ditaksir sekitar Rp3,4 hingga Rp5 miliar lah,” sebut Widoni.

Lebih jauh, Widoni mengungkapkan, dari hasil penyidikan terhadap kegiatan penyaluran BPNT Kemensos di 4 kabupaten di Sulsel itu juga masih sedang menanti audit dari BPK. Ditemukan dugaan pelanggaran atau menyalahi pedoman umum pengadaan sembako bantuan sosial yang ada. 

Dan itu juga disebut terjadi di 20 kabupaten/kota lainnya yang ada di Sulsel yang nantinya masuk dalam pengembangan penyidikan berikutnya.

“Hampir semua sama modusnya. Rata-rata mereka merubah isi dari pedoman pengadaan sembako bansos yang dimaksud. Misalnya, seharusnya yang tak ada ikan kaleng tapi mereka adakan,” sebut Widoni.

“Empat kabupaten itu hanya sampel dan akan melebar ke kabupaten lainnya di Sulsel. Ini menjadi atensi pusat dan kita fokusi,” tambahnya.

Bahkan kerugian negara yang ditimbulkan ditaksir ada sekitar Rp100 miliar dalam kegiatan penyaluran BPNT Kemensos tahun 2020 di 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulsel ini.

“Itu baru perkiraan penyidik. Nanti hasil dari BPK RI (Badan Pemeriksa Keuangan) yang jelasnya,” ujarnya.

Ada pun terkait penetapan tersangka Ditreskrimsus akan segera dilakukan setelah hasil audit dari BPK keluar.

“Itu tinggal tunggu audit dari BPK. Kalau sudah turun langsung kita tindaklanjuti dengan menetapkan tersangka,” terang Widoni.

Widoni sendiri berharap masyarakat dapat bersabar menunggu proses perampungan penanganan kasus dugaan korupsi penyaluran BPNT yang sedang menunggu hasil audit BPK tersebut.

“Nama-nama calon tersangka sudah ada dan jelas. Kita tunggu saja dulu audit BPK kita terima langsung kita tindaklanjuti menetapkan tersangka,” kuncinya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.