Terkini.id, Jakarta – Pernyataan mantan teroris Ali Imron, terkait pengajian berbau radikalisme banyak dibagikan di tengah ramainya pemberitaan terkait teroris.
Terpidana seumur hidup kasus terorisme itu pada 2016 silam mengungkapkan, gerakan gerakan radikal di Indonesia bisa dilihat dari pengajian pengajiannya.
Kata dia, oleh karena itu masyarakat diminta mewaspadai kelompok pengajian dengan ciri-ciri tertentu.
“Sebenarnya sudah cukup, rakyat Indonesia yang latar belakangnya NU ngaji saja ke NU, yang Muhammadiyah mengikuti pengajian Muhammadiyah. Jangan pernah nyempal ke mana-mana. Kalau ada yang ajak pengajian yang aneh-aneh, itu awal daripada penyakit,” kata Ali Imron di Malang, saat itu kepada wartawan, seperti dikutip dari merdekadotcom.
Kedua organisasi itu sudah terbukti berjalan puluhan bahkan ratusan tahun, tanpa ada teror sampai sekarang. Amalannya sudah luar biasa yang menjauhkan diri dari rasa kebencian dan mengafirkan orang lain.
- Densus 88 Kembali Meringkus 5 Pelaku Terorisme di Riau, Hingga Saat Ini 13 Orang Telah Diamankan
- Heboh Bendera Khilafah di Acara Pernikahan, Warganet: Tamunya Teroris?!
- Disebut Terhubung Dengan Teroris NII dan JI, Masyarakat Harus Waspada Terhadap Khilafatul Muslimin
- Serangan Kapak! Polisi Israel Tangkap 2 Warga Palestina Pelaku Penusukan Masal
- Himbau Warganya Hati-Hati Jika Pergi ke Indonesia, Amerika: Teroris Bakal Menyerang!
“Ormas itu macam-macam. Teroris saja ada versinya. Ada yang lembut ada yang agak lembut,” katanya.
Imron mengingatkan, bahwa orang-orang atau organisasi radikal bergerak dengan membawa misi dan visi. Sehingga siapa pun akan berusaha dijangkau, tidak peduli guru maupun polisi sekali pun. Cara mendekatinya dengan segala macam upaya dilakukan.
“Teroris tidak dapat dicirikan dengan celana cingkrang, rambut gondrong. Itu tidak bisa. Karena, Ali Imron pernah ngecat rambut saat akan ngebom di Bali, untuk kamuflase,” katanya.
Banyak sekali kelompok dengan celana cingkrang dan jenggotan, tetapi belum tentu kelompok radikal atau teroris. Ali Imron mencontohkan jemaah tabliq dan jemaah salafi, yang tegas bukan kelompok di dalamnya.
“Kalau ekslusifnya Salafi itu kan hanya urusan bidah. Tetapi kalau yang itu pemikirannya mengkafirkan kelompok lain, itu tanda-tanda teroris,” katanya.
Lihat juga kalau mereka bertemu polisi. Kalau seperti anjing ketemu kucing, itu juga tanda-tandanya. Mereka biasanya juga menjaga hubungan, tidak akan mau bersalaman dengan orang lain, sesama laki-laki sekali pun. Karena dianggap kafir.
“Ketika seperti itu, cepat lapor ke RT RW. Jangan lebai, nanti mendirikan Densus 99. Kita jangan menjadi teroris baru, kalau sampai mengambil tindakan sendiri,” urainya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
