Opini: Akankah Dunia Lebih Baik Tanpa ISLAM?

Terkini.id, Makassar – Kita coba menelisik isu yang tengah booming dijagat maya, tidak lain adalah isu ‘Islam’ dan stigma negatif-nya. Isu ini tiba-tiba menyeruak menjadi perbincangan khalayak ramai dan tentu dengan konotasi tak meng’enakan bagi Islam dan penganutnya. Yaitu dengan istilah “Radikal”. Ada apa dengan kata ini, sehingga menjadi momok paling laku untuk digoreng dan digiring di negeri +62?

Menurut KBBI makna radikal adalah ‘secara mendasar, amat keras menuntut perubahan, maju dalam bersikap atau bertindak, sehingga dapat digaris bawahi bahwa kata radikal bisa bermakna ganda, bisa bermakna positif atau negatif.

Bahkan kata itu terkesan netral dan tidak mengandung aroma threat (ancaman) dan juga tak berbau bahaya (danger) seperti yang distigmakan. Maka dalam hal ini tergantung dari sudut pandang yang digunakan oleh pemikirnya.

Saat ini penanaman makna negatif terhadap istilah radikal kian menemukan momentumnya, pada tahun 2016 mantan kepala badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT), Saud Usman Nasution menyatakan terdapat 19 pondok pesantren terindikasi mengajarkan doktrin bermuatan radikalisme, tak terkecuali Kampus pun disasar.

Direktur pencegahan Badan Nasinal Penanggulangan Terorisme (BNPT), Hamli menyatakan semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar faham radikalisme.

Berangkat dari pernyataan menteri agama yang mencanangkan agar dilarang pemakaian cadar dan celana cingkrang diinstansi pemerintahan Pak Fachrul Razi mantap akan memberantas radikalisme pada tanggal 31 Oktober, lengkapnya beliau mengungkapkan “Larangan aparat Negara bercadar, larangan aparat Negara bercelana cingkrang, doa berbahasa Indonesia, tinggalkan penceramah yang membodohi, larangan penyebaran paham Khilafah”.

Kita melihat fakta, bahwa sepanjang 2 tahun ke belakang banyaknya ditangkap terduga teroris dengan beberapa bukti yang ditemukan oleh pihak polisi dan pihak densus 88. Yang lebih mencengangkan, lagi-lagi pihak tertuduh adalah Muslim, seperti kasus bom di Sarinah di ibu kota (Sindo, 14 Januari 2016). Selanjutnya juga pernah di gegerkan dengan beberapa berita ledakan bom panci.

Masalah Negeri ini seolah berputar dari perkara-perkara itu saja. Selanjutnya beberapa Ustadz/ulama terduga faham radikal mencuat di public dipersekusi habis-habisan.

Beberapa fakta di atas adalah realita yang bisa kita indra ditanah Air. Faktanya kini Islam adalah pihak tertuduh dan terpojokkan serta diperlakukan tak adil dari berbagai pihak.

Muslim dianggap sebagai pengancam keutuhan NKRI, bila getol mendakwahkan ide Negara khilafah dan syariahnya. Apakah benar bahwa ide khilafah dan seruan taat syariat benar benar menjadi benalu bagi negeri ini ?
Ternyata, Masih banyak khalayak ramai yang belum tahu bahkan muslim sendiri bahwa Islam pernah memiliki peradaban dan sumbangsih besar terhadap ilmu pengetahuan dunia.
Sehingga banyak yang menganggap Islam hanya agama barbar dan tanpa sumbangsih pengetahuan, sebagaimana yang sudah terlanjur mendunia dan viral bahwa Islam lekat dengan stigma perang dan teror.

Ditambah lagi dengan banyaknya kelompok anti Islam yang menyebarkan fitnah dan gambaran negatif terhadap Islam hingga dunia maya geger atas lapisan-lapisan fakta yang ada.
Beberapa fakta yang perlu kita tahu perihal peradaban Khilafah Islam yang pernah menguasai 2/3 dunia menjadi negeri inspirasi dan melahirkan generasi atau tokoh ilmuwan berpengaruh.

Hingga kini nama mereka dicatat sebagai muslim paling dikagumi dunia.
Betapa tidak, peran dan karya mereka mampu merubah dunia menjadi lebih berarti, dan ilmuwan keren ini lahir dari rahim daulah khilafah.

Islam sendiri adalah agama yang berlandaskan ilmu, ketika nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi Rasul yaitu pada abad ke-VI Masehi peradaban dunia saat itu dipenuhi dengan ketidakadilan dan stagnasi ilmu pengetahuan, pasca jatuhnya Romawi Barat pada abad ke-V.

Dunia Eropa mengalami stagnasi ilmu pengetahuan, ilmuwan Eropa pada masa ini hampir semuanya para teolog yang hanya membahas masalah agama dalam sejarah. Era ini disebut masa kegelapan Eropa, pada abad ke-5 dan masa ke 12 M sama sekali tidak ada sumbangsih dunia Eropa terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu di dunia Islam Timur Tengah berjalan sebaliknya. Dunia melahirkan peradaban ilmu pengetahuan yang tinggi di zaman-nya yang menjadi cikal bakal dan dasar dari ilmu pengetahuan modern. “Hutang barat terhadap islam“ (the wes’st debt to islam) itulah tajuk satu bab dari sebuah buku berjudul “what Islam did for us: Understanding islam’s Contribution to western civilization“ (London: Watkins publishing, 2006) karya Tim Wallace Murphy.

Di tengah gencarnya berbagai serangan terhadap Islam melalui berbagai media di kancah dunia kini, berbeda dengan kebanyakan tipikal Barat lainya yang justru phobia dan antipati terhadap Islam penulis buku di atas justru secara jujur mengakui bahwa Barat berhutang banyak pada Islam.

Barat bisa bangkit dari keterpurukan peradabanya karena menerjemahkan karya-karya Muslim. Jadi jelaslah sebagaimana yang dikatakan oleh pakar sejarah Islam Indonesia Budi Ashari, beliau menyatakan bahwa “Islam ketika dulu menjadi Negara Adikuasa tidak akan kita temukan pada mereka selain membawa kebaikan pada Negeri yang mereka masuki, dan bahkan mereka mampu mencetak generasi terbaik dunia hingga nama-nama mereka kini masih harum dalam tinta sejarah para sejarahwan”.

Hari ini muslim dicitraburukan oleh media, wacana publik seolah didesain untuk mempertajam ide sekuler yang bertujuan untuk meniadakan eksistensi agama dalam kehidupan dan negara. Konfrontasi Barat nyatanya berhasil menikam Islam secara perlahan.
Buktinya Isu yang tengah dimainkan yaitu mengkredilkan ide Islam seperti ide khilafah dan syariah, sentiment religi dan melabeling radikalisme yang tak jauh dari penunjukan pada muslim. Itulah tanda bahwa kini muslim sedang diperangi habis habisan agar muslim dan ide khilafah tidak bisa eksis dalam kancah peradaban dunia. Musuh Islam terus meramu bius berbahaya atas nama agama sehingga muslim phobia dengan ajaran Islam yang mereka yakini.
Sadarlah duhai manusia, bahwa kita sedang dijadikan kelinci percobaan.

Muslim tidak akan menemukan jati dirinya kembali dan tak akan bisa menjadi orang besar selama Islam hanya diaplikasikan oleh person dan minus wadah kekuasaan yang mampu mewadahi mereka dalam ketaatan pada Allah.

Muslim dulu mampu menguasai dunia dengan Islam dan mampu menjadi generasi terbaik karena berpegang pada Islam. Maka kini saatnya kita kembali pada Islam sehingga sejarah keemasan dulu Nampak di depan mata. Wallahu a’lam… (irp).

Citizen : Yayu Sulastri Latifah (Koordinator Yuk Ngaji Nisa Makassar).

Berita Terkait