Mental Bangsa dan Revolusi Mental

Presiden Jokowi melihat pembangunan jalan tol

SAYA provokasi cucu saya, Aufar agar dia makan yang banyak. Saya katakan, “Aufar kalau makannya banyak, nanti cepat gede. Kalau gede bisa pintar.”

Dia perhatikan saya dengan wajah tanya “Babo, orang makan karena lapar. Orang pintar karena dia belajar.” Katanya polos. Cucu saya ini belajar di Sekolah Alam. Dia diajarkan berpikir praktis dan logika.

Kalau bicara selalu menggunakan bahasa indonesia yang baik. Dan cara penyampaiannya terstruktur. Jelas alur berpikirnya. Beda dengan kakaknya yang sekolah di sekolah Agama (boarding school).

Pernah saya dengar mereka berdebat. Kakaknya bilang, kalau kita meninggal kita akan masuk sorga. Tetapi Aufar menjawab “orang kalau mati dikubur”.

Kakaknya Nazwa diajarkan berpikir konsepsual di sekolah. Sementara Aufar diajarkan berpikir logika.

Orang yang cenderung berpikir dengan logika selalu melihat persoalan itu dengan rasional. Dia tidak mungkin berpikir hal yang sepele. Dia selalu memikirkan hal yang besar. Apa yang besar itu? Orang kalau engga makan, ya lapar. Maka dia fokus gimana cari makan. Agar bisa bertahan hidup.
Baginya, itu masalah besar. Saking besarnya, etos kerjanya jadi tinggi. Akhlaknya baik. Itu bukan karena provokasi tetapi alasan rasional. Agar dapat uang dan dukungan dari orang lain.

Kalau ada orang menceritakan soal kehidupan besok, harapan tentang sorga, dan segala kemudahan kalau sistem pemerintahan berganti, dia tidak akan terpengaruh. Mengapa? masalah besok itu bukan masalah. Itu masalah sepele.
Bahkan nothing kalau hari ini engga makan. Musuh banyak.

Dalam hal politik, juga sama. Orang memilih presiden bukan masalah janji politik. Itu bukan masalah besar. Itu masalah sepele. Karena engga ada kaitannya dengan hari ini. Yang besar itu adalah memilih seorang presiden berdasarkan kehidupan pribadi dari calon presiden pada hari ini. Ini masalah rasionalitas. Sama seperti anda beli mangga. Anda tidak akan tertarik membeli mangga kalau hanya ditulis “mangga ini manis”. Kecuali anda punya kesempatan mencicipi mangga itu sebelum membeli.

Orang China pernah dijajah AS, Inggris dan Jepang. Namun mereka tidak pernah mendendam masa lalu. Mereka justru menemukan pijakan rasionalitas dari orang asing.

Bahwa mereka harus belajar hari ini dengan orang asing dan harus lebih hebat, kalau enggak mereka akan kembali dijajah. Rasional sekali.

Setelah bergaul dengan banyak bangsa di luar negeri, salah satu sifat rakyat Indonesia yang saya amati adalah sifat demogogisch. Apa itu? adalah sifat berkilah atau ngeles.

Sifat doyan mempertentangkan masalah sepele (kecil) dengan melupakan hal hal yang besar.

Makanya jangan kaget, pas diberi kebebasan politik, maka partaipun bermunculan seperti cendawan di musim hujan. Bukannya gimana membangun bisnis dan mengembangkan IPTEK. Sebentar sebentar demo bawa massa ribuan. Padahal agendanya masalah sepele. Soal “Ide”. Bukannya menggalang massa untuk gerakan Koperasi. Agama pun banyak sekali mazhabnya. Bahkan saling ribut merasa paling benar. Jadilah debat pepesan kosong. Apapun dibaperin. Padahal hanya ide dan opini tetapi ributnya sudah seperti mau perang.

Dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan ide ekonomi, politik dan sosial, jangan dibuat rumit dengan beragam dialektika sehingga menjadi masalah besar.

Itu masalah sepele. Tirulah cara ibu di rumah menyelesaikan masalah. Kalau bayi nangis langsung dia buka kancing baju, keluarkan teteknya. Bayi diam. Kalau uang dapur engga ada, dia teriak. Suami engga ngasih, dia kerja. Tirulah Jokowi. SBY membuat ide MP3I, dan Jokowi membangunnya. Ide MP3I itu masalah sepele, yang besar itu kerja membangun. Enggak ada duit APBN, dia kerahkan BUMN dan Swasta. Simple.

Masalah besar diselesaikan dengan cara sederhana. Berpkir itu masalah kecil tetapi bekerja itu masalah besar. Tuhan menilai orang dari kerjanya, bukan dari pikirannya. Pahamkan sayang.

Berita Terkait
Komentar
Terkini