Meski demikian, Andi Luhur mengakui bahwa dalam tradisi Golkar, ketua umum memiliki privilege besar dalam mengarahkan kebijakan dan kepentingan partai. Namun ia berharap, ke depan Golkar membangun tradisi politik yang lebih terbuka.
Terkait figur-figur yang mengemuka di Sulawesi Selatan, Andi Luhur menyebut terdapat beberapa nama yang memiliki potensi, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Dia menilai, tradisi kekaryaan Golkar yang kuat membuat figur yang sedang memegang kekuasaan biasanya memiliki peluang lebih besar.
“Golkar terbiasa mensinergikan sumber daya kekuasaan dengan kerja-kerja politiknya,” jelasnya.
Di Sulsel sendiri, ia menilai setidaknya ada dua figur yang patut diperhatikan oleh DPP Golkar, yakni Munafri Arifuddin (Appi) dan beberapa kader lainya.
“Kita lihat bagaimana pergerakan mereka. Mana yang lebih bergerak, itu yang seharusnya diperhatikan oleh DPP,” imbuh Luhur.
- BPBD Makassar Hadirkan Tiga Terobosan Sekaligus: 23 Ribu Relawan, SIGAP PESISIR, dan Siaga Kekeringan
- Salam Sehat Indonesia di Makassar Besok, Wahdah Islamiyah Gelar Talkshow hingga Layanan Kesehatan Gratis! Yuk Ramaikan
- Mubes Perdana MHDC Perkuat Fondasi Organisasi, Rolling Thunder Tebarkan Semangat Persaudaraan
- LP2M UNM Dampingi UMKM Pulau Lakkang Kembangkan Produk Bernilai Tambah
- Andi Hakim Nilai Hasil Hak Angket Harus Berujung Kepastian Hukum, Bukan Sekadar Formalitas
Selain itu, Andi Luhur menekankan bahwa pengaruh elite DPP dan tokoh-tokoh panutan di Golkar memang tidak bisa dihindari dalam menentukan arah suara. Namun ia mempertanyakan jika pertimbangan elit semata menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Ia berharap Golkar tidak lagi mengulang pola lama yang terlalu mengandalkan diskresi elite, melainkan lebih membuka ruang pada konsolidasi yang dibangun oleh kader di daerah.
“Siapapun calon yang sudah membangun konsolidasi dengan DPD-DPD II, itu penting untuk diperhatikan dan dikembangkan sebagai arah dukungan DPP,” harapnya.
Lebih jauh, Andi Luhur mengingatkan bahwa penentuan kepemimpinan Golkar tidak boleh hanya melihat posisi dan kondisi saat ini, tetapi harus mempertimbangkan agenda dan tantangan politik ke depan.
“Golkar tidak bisa melihat posisi sekarang saja. Penentuan kepemimpinan sebaiknya mempertimbangkan agenda masa depan, karena arena persaingan partai ke depan akan berubah,” katanya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
