Meski demikian, Andi Luhur mengakui bahwa dalam tradisi Golkar, ketua umum memiliki privilege besar dalam mengarahkan kebijakan dan kepentingan partai. Namun ia berharap, ke depan Golkar membangun tradisi politik yang lebih terbuka.
Terkait figur-figur yang mengemuka di Sulawesi Selatan, Andi Luhur menyebut terdapat beberapa nama yang memiliki potensi, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Dia menilai, tradisi kekaryaan Golkar yang kuat membuat figur yang sedang memegang kekuasaan biasanya memiliki peluang lebih besar.
“Golkar terbiasa mensinergikan sumber daya kekuasaan dengan kerja-kerja politiknya,” jelasnya.
Di Sulsel sendiri, ia menilai setidaknya ada dua figur yang patut diperhatikan oleh DPP Golkar, yakni Munafri Arifuddin (Appi) dan beberapa kader lainya.
“Kita lihat bagaimana pergerakan mereka. Mana yang lebih bergerak, itu yang seharusnya diperhatikan oleh DPP,” imbuh Luhur.
- Browcyl Hadirkan Promo "Road to 14 Tahun", Warga Gowa Antusias Serbu Paket Spesial
- Wujudkan Kemandirian Pangan, Bupati Jeneponto Hadiri Panen Raya Jagung Nasional dan Peresmian Fasilitas Pangan
- Untuk Pertama Kalinya, Pupuk Subsidi Hadir di Rongkong Luwu Utara
- Momen Pertemuan Fadil Imran dan Ashabul Kahfi di Jakarta, Hangat dan Sarat Makna
- Kisah Mengharukan, Ibu Di Mana? Syifa Rindu, 16 Tahun Menanti Pelukan Sang Ibu
Selain itu, Andi Luhur menekankan bahwa pengaruh elite DPP dan tokoh-tokoh panutan di Golkar memang tidak bisa dihindari dalam menentukan arah suara. Namun ia mempertanyakan jika pertimbangan elit semata menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Ia berharap Golkar tidak lagi mengulang pola lama yang terlalu mengandalkan diskresi elite, melainkan lebih membuka ruang pada konsolidasi yang dibangun oleh kader di daerah.
“Siapapun calon yang sudah membangun konsolidasi dengan DPD-DPD II, itu penting untuk diperhatikan dan dikembangkan sebagai arah dukungan DPP,” harapnya.
Lebih jauh, Andi Luhur mengingatkan bahwa penentuan kepemimpinan Golkar tidak boleh hanya melihat posisi dan kondisi saat ini, tetapi harus mempertimbangkan agenda dan tantangan politik ke depan.
“Golkar tidak bisa melihat posisi sekarang saja. Penentuan kepemimpinan sebaiknya mempertimbangkan agenda masa depan, karena arena persaingan partai ke depan akan berubah,” katanya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
