Soal Mie Sedaap Kandung Etilen Oksida, Ahli Farmasi UGM: Penyebab Kanker Kalau…

Soal Mie Sedaap Kandung Etilen Oksida, Ahli Farmasi UGM: Penyebab Kanker Kalau…

I
R
Indah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Salah satu mie instan merek Indonesia yang bernama Mie Sedaap Rasa Korean Spicy Chicken ditarik peredarannya dari negara Hongkong karena mengandung senyawa bernama Etilen Oksida.

Etilen Oksida yang ada di Mie Sedaap Rasa Korean Spicy Chicken ini membuat Badan Pengawas dan Makanan Hongkong (CFS) mengeluarkan ultimatum kepada masyarakatnya untuk tidak mengkonsumsi salah satu produk mie instan ternama di Indonesia ini.

CFS sebelumnya telah melakukan tes terhadap Mie Sedaap Rasa Korean Spicy Chicken di supermarket Hongkong bernama Lok Fu.

Dari hasil tes itu ditemukan pestisida Etilen Oksida dalam bumbu, cabai dan mie dari produk Mie Sedaap Rasa Korean Spicy Chicken.

Setelah mengetahui hasil tes ini, CFS langsung memberi perintah kepada seluruh penjual untuk tidak memperjualbelikan produk Mie Sedaap Rasa Korean Spicy Chicken yang berasal dari Indonesia.

CFS menambahkan bahwa Etilen Oksida termasuk dalam kategori Karsinogen tingkat 1 yang mengakibatkan kanker.

Disisi lain, Ahli Farmasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zullies Ikawati Apt  juga memiliki pendapat yang sama dengan CFS di Hongkong.

Prof Zullies Ikawati membenarkan jika Etilen Oksida bersifat Karsinogenik yang menyebabkan kanker.

Lebih lanjut, efek kanker dari senyawa Etilen Oksida akan berbahaya jika dikonsumsi terlalu sering.

“Bisa mengarah ke Karsinogenik juga, menyebabkan kanker kalau nanti terakumulasi banyak. Dia memang memiliki sifat Karsinogen,” ujar Prof Zullies Ikawati, dikutip terkini.id dari suara.com, Kamis 29 September 2022.

Prof Zullies Ikawati menuturkan bahwa senyawa Etilen Oksida tidak hanya terdapat pada makanan tapi juga bisa dalam bentuk gas yang dihirup manusia.

Karena Etilen Oksida memiliki dampak yang mengkhawatirkan jika terakumulasi maka ia menyarankan agar Etilen Oksida sebaiknya hanya dipakai sesekali saja.

“Tujuannya regulasi itu untuk menjaga keamanan, karena ada kemungkinan orang terakumulasi menggunakannya. Kalau dia hanya diminum sekali, makan sekali mungkin tidak akan berefek apa-apa. Tapi kalau orang itu akan menggunakan secara terus-menerus, dipakai terus-menerus, khawatir akan terjadi akumulasi,” tutur Prof Zullies Ikawati.

Ia menegaskan semua produk makanan Indonesia mengandung pengawet namun harus sesuai dengan batas maksimum yang ditentukan pemerintah.

Pengawet berfungsi untuk menjaga agar makanan tidak busuk dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Prof Zullies Ikawati mengatakan jika penggunaan Etilen Oksida telah dilarang di beberapa negara, pihak perusahaan makanan dapat mengganti jenis pengawet yang dipakainya.

“Tapi beberapa negara mungkin ada beberapa aturan yang sangat ketat, kalau sudah mengandung ini walaupun sekian mereka sudah akan melarang. Sehingga sebetulnya tinggal switch ke pengawet yang lain, itu bukanlah satu-satunya pengawet,” pungkas Prof Zullies Ikawati.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.