Mutasi Virus Corona Kemungkinan Bisa Jadi Varian Super yang Ganas

Terkini.id, Jakarta – Mutasi virus corona kemungkinan bisa jadi varian super yang ganas. Menurut pakar penyakit menular atau epidemiolog dan dosen di Griffith University Australia, Dicky Budiman, hingga saat ini ada empat varian virus corona yang masuk kategori paling ‘ganas’ yang dikhawatirkan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), yaitu varian Alpha, Beta, Gamma, dan Delta.

Semua varian itu pertama kali terdeteksi di negara-negara dengan pengendalian penyebaran Covid-19 yang dianggap lemah dan belum mumpuni, antara lain Inggris, Afrika Selatan, Brasil, dan India.

“Ada tiga indikator yang dapat membuat varian baru tersebut masuk menjadi kategori varian yang mengkhawatirkan. Pertama, seberapa cepat menularnya. Kedua, apakah virusnya menyebabkan gejala parah bahkan mengakibatkan kematian. Ketiga, apakah menurunkan efikasi antibodi yang tercipta di tubuh setelah divaksin,” papar Dicky di Jakarta, Rabu 14 Juli 2021.

Baca Juga: Kasus Covid-19 di Sulsel Mulai Melandai dan Dibawah Standar WHO,...

Lebih lanjut, seperti dilansir dari detikhealth, Rabu 14 Juli 2021, Dicky menjelaskan jika sebuah varian virus corona mempengaruhi ketiga indikator tersebut, berarti namanya ‘Varian Super’. Varian Delta yang pertama kali dideteksi di India mendekati varian itu.

“Mendekati saja bisa sudah seperti ini (dampaknya terhadap dunia). Varian di Indonesia memang belum masuk kategori Varian Super, tetapi itu saja sudah membuktikan (penyebaran) di wilayah kita tidak terkendali, otomatis bisa tercipta varian baru yang berbahaya dan mendekati super. Ini perkara waktu saja,” beber Dicky.

Baca Juga: Plt Gubernur Sulsel Dapat Bantuan 20 Unit Oksigen Konsentrator

Ia mengklaim Covid-19 mudah bermutasi, namun cara yang terpenting untuk mencegah terciptanya varian baru yang berpotensi lebih ganas adalah menghambat penyebarannya dalam masyarakat dengan membatasi pergerakan dan memenuhi semua protokol kesehatan.

Oleh karena itu, Dicky menganjurkan agar isolasi mandiri (isoman) tidak hanya dilakukan warga yang datang dari luar negeri atau tertular Covid-19.

Masyarakat yang melakukan perjalanan antarkota atau provinsi perlu melakukan isolasi mandiri guna memastikan, mereka tidak tertular dalam perjalanan atau menjadi orang tanpa gejala (OTG) atau penderita Covid-19 tanpa gejala, sehingga dapat memutus mata rantai penularan.

Baca Juga: Plt Gubernur Sulsel Dapat Bantuan 20 Unit Oksigen Konsentrator

“Dalam wabah seperti ini, karantina perlu dilakukan oleh orang yang pulang dari Bali ke Jakarta misalnya. Kalau dia belum divaksin perlu isoman (isolasi mandiri) selama 10-14 hari sedangkan bagi yang sudah divaksin cukup karantina di rumah selama tujuh hari sebelum masuk kantor lagi. Jangan kurang dari itu,” imbau Dicky.

Sementara itu, ahli penyakit menular Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan genome sequencing merupakan upaya untuk mengetahui penyebaran mutasi virus SARS-CoV-2 atau Covid-19.

“Pengujian genom sangat berperan dalam pemetaan varian baru. Menurut saya, aturan (perihal testing) di Indonesia cukup memadai tapi implementasinya belum optimal. Testing jumlahnya masih terbatas. Tracing masih lemah. Karantina masih lemah. Jadi antara aturan dan implementasi ada gap (celah) selalu,” ungkap Pandu.

Seperti diketahui sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui pada akhir 2020, hanya 30 ribu hingga 400 ribu sampel Covid-19 yang diuji per hari. Kini 200 ribu sampel diuji per hari dan jumlahnya ini akan dinaikkan menjadi 400 ribu sampel per hari.

Akhir tahun lalu, hanya 420 sampel melalui genome sequencing setiap hari. Telah ada 12 laboratorium di bawah naungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset dan Teknologi yang melakukan lebih dari tiga ribu genome sequencing dalam enam bulan terakhir.

“Kita menyadari bahwa genome sequencing sangat mahal dan sulit untuk dilakukan. Pekan lalu kita berdiskusi dengan pakar penyakit menular Indonesia dan menemukan mekanisme ‘genome sequencing’ yang memudahkan (peneliti) untuk mengidentifikasi apakah mutasi varian Delta sudah menyebar di suatu wilayah dengan melihat tingkat CT (Cycle Threshold),” imbuh Menkes Budi.

Bagikan