Opini: Kelas dan Public Truth

KETIKA Cheung Tin-chi yang diperankan oleh Zhang Jin dalam film laga sekuel ketiga “IP Man” meminta kepada seorang wartawan untuk memublikasikan tantangannya untuk duel terbuka dengan IP Man, wartawan itu menolaknya karena menganggap dunia kungfu memandang dirinya belum memenuhi syarat untuk melawan sang grandmaster Wing Chun itu. 

Memang Cheung bukanlah tokoh kungfu yang terkenal saat itu, tetapi pada akhirnya dalam film itu ia tersohor setelah setiap adegan jurus-jurus wing chun-nya melumpuhkan para guru kungfu diabadikan jurnalis. 

Setelah dirinya menjadi ‘raja kungfu yang baru’ serta mendirikan perguruan silat Wing Chun, pada saat itulah ia merasa telah memenuhi syarat dan mendapat ‘pengakuan publik’ untuk bertarung secara terbuka dengan IP Man untuk membuktikan siapa grandmaster yang sesungguhnya. Ia pun mengumumkan tantangannya di hadapan awak media, meskipun pada akhirnya ia takluk di hadapan IP Man setelah duel tertutup.   

Baca Juga: Demokrasi itu Bawel

Layaknya dalam film kungfu, adu gagasan dan tarung argumentasi adalah perangkat dialektis yang menyatu dalam kehidupan manusia sebagai salah satu jalan otoritatif untuk mengungguli dan mendominasi yang lain. Kendatipun manusia selalu mengumandangkan tentang kebersamaan dan rada anti persaingan, sadar atau tidak, hidup memang penuh persaingan, dan manusia selalu ingin unggul dari yang lain.

Dukungan, pengakuan dan akseptabilitas publik adalah fondasi yang ikut mengukuhkan sebuah supremasi seorang atau sekelompok orang dari yang lainnya. Dalam arena diskursus, kelas adalah salah satu variabel yang dapat meyakinkan publik untuk mengakui superioritasnya.

Baca Juga: Psikodigital: Medsos dan Perang Opini

Jika kelas atau stratifikasi sosial dalam sosiologi banyak dibentuk oleh kekuasaan, kekayaan atau pendidikan, maka dalam pergumulan wacana publik komposisi kelas lebih dominan berupa kompetensi akademis atau kapabilitas yang lahir dari pengalaman. 

Dalam dunia kepenulisan terdapat istilah “kredensial”. Ketika seseorang memublikasikan pendapatnya dalam bentuk tulisan, maka pembaca akan bertanya, memangnya penulis itu siapa? Apakah penulis dianggap cukup eksper berbicara tentang topik yang diulas dalam tulisan itu?. Dalam hal ini biasanya ada dua alat ukur yang digunakan, yaitu kompetensi dan otoritas. Sebuah tulisan akan diragukan jika penulis tidak sesuai dengan latar belakang bidang keilmuannya atau posisi strategisnya yang relevan.  

Tak jarang sebuah gagasan atau pendapat seorang figur yang menjadi konsumsi publik dibantah melalui diskusi-diskusi ‘pinggiran’ wong cilik, seperti di pasar, di sawah, di tempat hajatan atau di atas angkot. Sehebat apa pun kedengarannya, argumentasi itu akan tercecer begitu saja. Selain karena tidak ada kanal untuk mengonfrontasi argumentasi itu, juga bantahan-bantahan itu akan dianggap bukan kelasnya atau bukan levelnya.

Baca Juga: Psikodigital: Medsos dan Perang Opini

Dalam dialektika publik, memang adakalanya ‘percuma’ seorang tamatan pendidikan rendah mendebat pikiran seorang doktor atau profesor. Mungkin ia ada benarnya, tetapi orang-orang akan menilai ‘bukan kelasnya’ untuk melawan sang pemilik takhta akademik itu. 

Akhirnya pendidikan memiliki andil dalam mobilitas sosial, selain karena faktor ilmu pengetahuan, titel akademik juga dapat berfungsi sebagai ‘karcis’ agar dianggap cakap dan layak untuk berbicara dan berpolemik di ruang publik.

Sekalipun jaminan kebebasan berpendapat dan era medsos saat ini menambah luas penampang saluran berpendapat, faktor kelas dapat menjadi filter dalam meladeni setiap bantahan. Jika saja semua omongan kontra tidak tersangkut pada neraca kelas, akan menyibukkan pemilik otoritas kompetensi. Salah satu alasan yang biasa digunakan pakar studi perbandingan agama, Zakir Naik jika ditantang oleh ‘bukan tokoh’ untuk menyediakan waktu secara khusus untuk berdebat, adalah ia kerap kali mengatakan bahwa meladeninya hanya akan membuat sang penantang itu ‘numpang’ terkenal. 

Kelas dan peran media juga erat kaitannya. Publikasi khususnya melalui media mainstream sangat membantu mengukuhkan sebuah kelas. Sebagai contoh, meskipun ada sejumlah akademisi di Indonesia yang mumpuni dalam bidang filsafat, sebut saja F. Budi Hardiman atau A. Setyo Wibowo, tetapi apa boleh buat, Rocky Gerung terlanjur mendapat space di publik karena selalu tampil di media dan dimoderasi sebagai pemilik kompetensi filsafat. 

Kelas walaupun seumpama dekorasi dalam lalu lintas percakapan publik, ia dapat sangat mengganggu hak dasar menyatakan pendapat.
  
Ibarat Cheung Tin-chi dalam “IP Man 3” yang sebelum tenar dianggap bukan kelasnya untuk menantang sang grandmaster, tetapi toh jurus-jurus wing chung yang dikuasainya memang sanggup membuat keok para guru kungfu. Argumentasi orang-orang tak berkelas bisa jadi berbobot, tetapi harus memenangkan sejumlah ‘bentrokan’ di ruang publik untuk membuktikan keandalannya. 

Walaupun argumentasi kita kuat jika kita dianggap bukan kelasnya, kita harus ‘berdarah-darah’ agar kita didengar. Maka, berkelaslah jika ingin omongan kita diperhitungkan publik.

Allahul Muwaffiq.

Penulis: Muhlis Pasakai

Bagikan