Psikodigital: Medsos dan Perang Opini

DEMOKRASI itu adalah tentang mengelola pikiran, kakinya adalah kesementaraan opini rakyat. Reputasi seorang pemimpin di-challenge setiap saat melalui opini. Kata salah seorang politisi yang pernah dijuluki ‘Singa Senayan’.

Memang opini itu adalah Queen of the world, ratu dunia, menurut Jean Jacques Rousseau, salah seorang tokoh yang juga dikenal dengan teori kontrak sosialnya (meskipun dalam literatur disebutkan bahwa pemikir politik Islam, Al-Mawardi telah mengemukakan teori kontraknya pada abad XI, sedangkan di Eropa teori kontrak sosial baru muncul untuk pertama kalinya pada abad XVI).

Dinamika opini publik sangat strategis dalam menjaga stabilitas politik. Bagi pemerintah, opini publik perlu dikendalikan untuk menjaga citranya yang positif, jika perlu ‘memainkan’ isu bahkan melakukan ‘manipulasi’ demi menciptakan opini yang baik di masyarakat.

Hal ini telah dipraktikkan penguasa sejak zaman dahulu, peristiwa dipenjarakannya Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah contoh ‘kepentingan’ rezim untuk menjaga opini publik. Nabi Yusuf dijebloskan ke dalam penjara dengan isu bahwa Yusuflah yang telah menggoda istri* sang Menteri (al-Aziz), meskipun pada kenyataannya dalam Surah Yusuf istri al-Azizlah yang menggoda Nabi Yusuf. Memenjarakan Yusuf adalah rekayasa rezim untuk menjaga opini positif demi marwah istana. Karena itulah, ketika Yusuf akan dibebaskan, Ia meminta agar namanya dibersihkan terlebih dahulu (bahwa dirinya tidaklah seperti yang dituduhkan sebelumnya).

Tentang opini, hak atas kebebasan pikiran serta menyatakan pendapat dianggap sebagai hak asasi manusia. Hal tersebut termuat dalam Universal Declaration of Human Rights Pasal 18 dan 19. Pada Pasal 19 bahkan menjamin orang untuk bebas memiliki pendapat tanpa mendapatkan gangguan atas pendapatnya itu.

Menarik untuk Anda:

Di era digital, orang semakin agresif mengekspresikan pikiran dan pendapatnya, karena fitur-fitur teknologi informasi dengan konektivitas tinggi menyediakan ruang untuk mengartikulasikan isi kepala/ pikiran, nyaris sebebas-bebasnya.

Era digital memang masa depan manusia. Dalam Homo Deus, Harari menyebut manusia tidak lebih unggul dibanding binatang jika bukan karena kemampuannya mengubah pengalamannya menjadi data, mengunggahnya secara daring dan memperkaya sistem pemrosesan global. Bukan lagi semata-mata tentang tren, tapi masalah survivalitas. Nilai manusia terletak pada pengubahan pengalaman menjadi data yang bebas mengalir.

Apa yang ditulis Harari nampaknya semakin nyata hari ini. Eksistensi manusia seperti sangat ditentukan melalui media sosial. Hampir segala aktivitas manusia direkam dan dipublikasian untuk menunjukkan survivalitas. Seakan-akan yang nyata saat ini adalah dunia maya.

Di alam demokrasi, benar bahwa media sosial kini telah menjadi pilar kelima. Dalam politik berbasis kekuatan elektoral, media sosial telah banyak ‘bicara’. Dalam berbagai even demokrasi, media sosial menjadi primadona baru untuk memengaruhi preferensi pemilih, mengingat jumlah pengguna yang semakin besar dan menjangkau semua kalangan.

Tren visualisasi terkini menjadikan medsos sebagai mesin kampanye kreatif yang masif menyasar para netizen. Mulai dari kemenangan Obama di Amerika Serikat, Jokowi-Ahok di Jakarta, hingga revolusi Timur Tengah dianggap sebagai ‘buah’ dari kekuatan social media. Kunci kesuksesan Obama di media sosial berkat bergabungnya mantan direktur Facebook, Chris Hughes dalam tim kampanye sehingga disebut sebagai “bocah yang membuat Obama menjadi presiden”, yang oleh Obama disebut “my internet man”.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

New Normal itu Bukan “Old Normal”

Menikah di Era New Normal

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar