Makassar Terkini
Masuk

Pemimpin Pejuang Anti Taliban Ini Bilang Tak Ingin Perang, tapi Siap Lawan Taliban!

Terkini.id, Kabul – Pemimpin pejuang anti Taliban ini bilang tak ingin perang, tapi siap lawan Taliban! Kendati pasukan pemerintah Afghanistan telah ditaklukkan kelompok Taliban, namun sisa-sisa pejuang anti Taliban, melalui pemimpinnya, Ahmad Massoud mengungkapkan jika pasukan mereka siap berperang dengan Taliban.

Ahmad Massoud menambahkan, kendati siap perang melawan Taliban namun pihaknya terlebih dulu ingin mengadakan pembicaraan damai dengan Taliban.

“Kami ingin membuat Taliban menyadari, satu-satunya jalan ke depan adalah melalui negosiasi,” paparnya kepada Reuters melalui sambungan telepon dari Panjshir, seperti dilansir dari republika.co.id, Senin 23 Agustus 2021.

Massoud sendiri telah mengumpulkan pasukan yang terdiri dari sisa-sisa unit tentara reguler dan pasukan khusus serta pejuang milisi lokal.

“Kami (sebenarnya) tidak ingin perang pecah,” tegasnya.

Narasi itu muncul ketika sebuah pernyataan di akun Twitter Alemarah Taliban mengatakan, ratusan pejuang menuju Panjshir setelah pejabat negara setempat menolak untuk menyerahkan diri secara damai.

Sebuah video pendek menunjukkan, barisan truk dengan bendera putih Taliban bergerak di sepanjang jalan raya.

Massoud, putra Ahmad Shah Massoud, salah satu pemimpin utama perlawanan anti Uni Soviet Afghanistan pada 1980-an, mengatakan para pendukungnya siap berperang jika pasukan Taliban mencoba menyerang lembah itu.

“Mereka (pejuang Afghanistan) ingin membela diri, mereka ingin bertarung, mereka ingin melawan rezim totaliter manapun,” imbuh Massoud.

Kendati demikian, ada beberapa ketidakpastian terkait apakah operasi pasukan Taliban telah dimulai atau tidak.

Seorang pejabat Taliban mengatakan, serangan telah diluncurkan di Panjshir. Namun, seorang ajudan Massoud mengatakan tidak ada tanda-tanda pasukan itu benar-benar memasuki celah sempit ke lembah dan tidak ada laporan pertempuran.

Satu-satunya pertempuran yang dikonfirmasi sejak jatuhnya Kabul pada Minggu 15 Agustus 2021, pasukan anti Taliban merebut kembali tiga distrik di provinsi utara Baghlan, yang berbatasan dengan Panjshir pekan lalu.

Namun Massoud mengatakan, ia tidak mengorganisir operasi perebutan kembali tiga distrik itu. Ia mengatakan, operasi tersebut dilakukan kelompok-kelompok milisi lokal yang bereaksi terhadap ‘kebrutalan’ yang mungkin bakal dilakukan Taliban di daerah tersebut.

Massoud menyerukan pemerintah yang inklusif dan berbasis luas di Kabul yang mewakili semua kelompok etnis Afghanistan. Ia mengatakan ‘rezim totaliter’ tidak boleh diakui masyarakat internasional.

Puing-puing kendaraan lapis baja Uni Soviet yang masih memenuhi lembah menunjukkan betapa sulitnya Panjshir dikalahkan di masa lalu. Akan tetapi, banyak pengamat asing mempertanyakan apakah pasukan Massoud akan mampu bertahan lama tanpa dukungan dari luar.

Massoud mengatakan, pasukannya yang menurut seorang ajudan berjumlah lebih dari enam ribu akan membutuhkan dukungan internasional jika harus berperang.

“Ada banyak orang lain dari banyak provinsi lain yang mencari perlindungan di lembah Panjshir, yang berdiri bersama kami dan yang tidak mau menerima identitas lain untuk Afghanistan,” tegasnya.