Oleh: Imam Shamsi Ali
BEBERAPA hari ini dunia maya jadi heboh bahkan gaduh akibat pernyataan seorang pendeta Kristiani yang bernama Gilbert Lumoindong.
Dalam video itu, si Pendeta sedang menyampaikan khotbah kepada jamaahnya dan mengolok-olok ajaran Islam, khususnya zakat, salat dan wudhu.
Perlakuan pendeta itu, kontan mendapat sambutan luas dari masyarakat Muslim, termasuk saya sendiri.
Maklum agama dan segala hal yang terkait dengannya memang sarat dengan keyakinan, sesuatu yang inheren (mendasar) dalam hidup seseorang.
Karenanya wajar jika agama selalu menjadi isu yang “highly sensitif” dan memerlukan sikap bijak dari semua pihak.
- Semifinal AAS Cup II 2026 Digelar Hari Ini, Alumni Unhas Berebut Tiket Final
- Haji Mabrur Tak Hanya Ritual, Tetapi Juga Kepedulian Sosial
- Semarak Pasar Murah di Lokasi TMMD, Warga Arungkeke Palantikang Bersyukur Kebutuhan Pangan Terjangkau
- Momen Mengharukan, 16 Tahun Menanti, Syifa Akhirnya Dipeluk Sang Ibu
- Tingkatkan Kesehatan Mental, Tim BK S2 UNM Uji Program Psikososial-Spiritual Murid SD di Makassar
Saya tidak bermaksud merespon kepada isu-isu yang disampaikan dalam khotbah itu. Karena menurut saya amalan-amalan agama, baik pada tataran “imaniyah” khususnya teologis (ketuhanan), ibadah-ibadah ritual, hingga ke amalan-amalan yang sifatnya mu’amalat pastinya memiliki landasan keagamaan yang jelas.
Tak satupun amalan agama (dalam Islam) yang merupakan amalan yang “dibuat-buat” (innovated).
Asumsi saya berbeda dengan agama Pendeta itu yang boleh jadi justeru agama merupakan kompilasi keyakinan dan amalan yang sarat dengan “mengada-ngada” (made up).
Dari keyakinan tentang ketuhanan yang penuh misteri yang tak pernah terjawab hingga bentuk amalan-amalan ritual yang “diada-ada” sejak ribuan tahun.
Maka wajar saja membandingkan Islam dan agamanya tidak akan nyambung dan relevan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
