Terkini, Makassar – Pegiat konservasi laut dan terumbu karang asal Italia, Marco Bastaroli ikut menghadiri rapat dengar pendapat membahas penyusunan naska akademik Ranperda pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat, di DPRD Sulsel, 30 April 2024.
Rapat yang dipimpin Anggota DPRD Sulsel, Andi Januar Jaury Darwhis selaku ketua pansus, rapat itu menghadirkan NGO dan pengiat Terumbu karang.
Marco diundang mewakili organisasi GAIA One Restoration. Dengan memakai baju kaos dan berambut gondrong, Marco memberikan sejumlah masukan penting terhadap Pansus Ranperda Terumbu Karang Berbasis Masyarakat.
“Kenapa kita undang mister Marco karena kita ingin perspektif pemerhati terumbu karang. Menurut dia, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga terumbu karang akan sia-sia tanpa regulasi,” ujar Januar Jaury di kantor DPRD Sulsel.
Menurut Januar, Marco banyak berpartisipasi dalam mempergatikan terumbu karang di Kabupaten Bulukumba, khususnya di Bira. Bahkan dia bersedia pulang-balik Bira dan Makassar karena sedih melihat kondisi terumbu karang di Bulukumba yang 50 persen sudah rusak.
- KAMPAS Diminta Perluas Gerakan, Kajian Zona 1 Dipandu Ketua Pemuda Muhammadiyah Bulukumba
- Kebakaran Mal Nipah Park Makassar Berhasil Dipadamkan, Operasional Tetap Berjalan Normal
- Paradoks Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik: Membaca Arah Kekayaan di Era Turbulensi
- Semarak 17 Agustus, Warga BTN Makkio Baji Ubah Perayaan Kemerdekaan Jadi Gerakan Peduli Lingkunganmk
- Astra Motor Sulsel dan FIFGroup Salurkan Bantuan untuk Petani Terdampak Kekeringan di Sidrap
“Dia menyarankan partisipasi masyarakat dalam hal edukasi sejak dini, terhadap pemanfaatan ekonomi dan ekologi terumbu karang secara berkelanjutan,” jelas Januar.
Secara umum Januar Jaury menyebut, 70 persen terumbu karang di perairan Sulsel mengalami kerusakan parah. Hanya 7 persen sangat sehat dan selebihnya berstatus sehat.
Minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem laut, disebut sebagai salah satu sebab tingginya kerusakan terumbu karang di wilayah perairan Sulsel.
Akibatnya, lanjut Januar, ikan-ikan berimigrasi ke perairan lain karena terumbu karang tidak lagi menghasilkan makanan untuk organisme di bawa laut.
“Di Sulsel yang terjadi terumbu karang tidak lagi menghasilkan makanan untuk ikan sehingga berimigrasi ke perairan lain. Coba lihat, seperti ikan tuna dan lain sudah jarang karena makanannya tidak ada,” jelas Januar.
Ranperda Pengelolaan Terumbu Karang ini disebut Januar sebagai langkah serius pemerintah memulihkan kembali terumbu karang yang rusak.
“Tidak ada cara lain selain memulihkan terumbu karang yang rusak ini untuk dapat kembali berproduksi. Karena mata rantai ekologi itu ada, terumbu karang ini memproduksi makanan untuk ikan-ikan,” tutur anggota Fraksi Demokrat ini.
Pertemuan selanjutnya, Pansus Ranperda Pengelolaan Terumbu Karang Sulsel akan mengundang 19 pemerintah kabupaten kota yang memiliki garis pesisir untuk menyusun beleid tersebut.
“Kita berharap pengelolaan terumbu karang ini, juga menghadirkan zona-zona terumbu karang tapi tidak membatasi akses masyarakat untuk memanfaatkan ekonomi dan ekologi,” pungkas Januar.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
