Masuk

Pengusaha Logistik Protes Tarif Pelayaran Bertambah: Bayar Uang Kebersihan, Tapi Kita yang Bersihkan

Komentar
DPRD Kota Makassar

Terkini.id, Makassar – Sejumlah perusahaan pelayaran yang melayani rute Kawasan Timur Indonesia diketahui membebankan komponen biaya baru kepada pengguna jasa yang diberlakukan serentak pada awal Juni 2021 nanti.

Komponen tersebut adalah pemberlakuan tarif cleaning & maintenance container yang wajib dibayarkan pengguna jasa, di luar biaya freight forwarding atau uang tambang pelayaran.

Adapun perusahaan pelayaran yang memberlakukan tarif pembersihan dan perawatan kontainer itu adalah PT Salam Pacific Indonesia Lines, PT Temas Shipping dan PT Meratus Line dengan besaran tarif yang serupa.

Baca Juga: Akses Jalan Menuju MNP Belum Memadai, Ketua ALFI Sulselbar Minta Perhatian Pemerintah

Ketiga perusahaan itu menarik biaya cleaning & maintenance container sebesar Rp200.000 untuk ukuran 20 feet dan Rp400.000 peti kemas berukuran 40 feet.

Anehnya, karena ketiga perusahaan tersebut seperti bersepakat menaikkan harga sehingga tidak ada pilihan lain bagi pengguna jasa.

Kalangan pelaku logistik dan forwarder yang tergabung dalam ALFI menolak aturan baru tersebut.

Baca Juga: Industri Logistik di KTI Mulai Ikut NLE, Pengiriman Barang Makin Efisien

Hal itu karena biaya pembersihan dan perawatan kontainer tidak semestinya menjadi komponen baru yang selanjutnya menjadi beban bagi pengguna jasa.

Hal ini karena pengguna jasa sudah membayar beberapa komponen biaya, seperti biaya uang tambang, administrasi, hingga biaya low sulfur surcharge (penggunaan bahan bakar rendah sulfur).

“Ibaratnya Anda naik pesawat, sudah bayar tiket, lalu harus bayar lagi uang kebersihan, uang ke toilet dan lain lain. Harusnya itu sudah menjadi tanggungan penyedia jasa,” ungkap Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Sulselbar Syaifuddin ‘Ipo’ Saharudi saat dimintai pandangannya oleh media, Selasa 25 Mei 2021.

Dia mengungkapkan, bisa-bisanya biaya kebersihan dan perawatan kontainer dibebankan kepada coustumer. Padahal itu bagian dari fasilitas pelayaran.

Baca Juga: Sistem Logistik Terpadu Diterapkan, ALFI Sulselbar: Kita Sudah Terbiasa

Sebagai saran, lanjut Ipo, perusahaan pelayaran sebaiknya segera menghapus komponen baru tersebut yang terkesan mengada-ada serta aneh dengan besaran tarif yang kompak ditentukan perusahaan pelayaran.

Apalagi, selama ini, banyak pengguna jasa pelayaran yang justru membersihkan sendiri fasilitas untuk angkut kontainer tersebut.

“Jadi begini, pelayaran tak usah malu naikkan saja uang tambang, jangan membuat komponen tarif baru yang berdampak pada kenaikan biaya logistik,” tegas dia.