Penting! Ini yang Harus Diperhatikan ketika Menjalani Isolasi Mandiri

Terkini.id, Jakarta – Penting! Ini yang harus diperhatikan ketika menjalani isolasi mandiri. Penularan virus corona yang masif terjadi dalam masyarakat, tidak tercipta begitu saja. Ada sebab-sebab kontributif tertentu yang jelas, seperti melalaikan protokol kesehatan (prokes). Hal itu memang patut disesali. Pasalnya, Covid-19 yang sudah merundung hampir seluruh warga dunia, khususnya di Tanah Air tidak bisa diremehkan. Apalagi, hadirnya mutasi virus corona varian Delta yang diklaim para ahli kesehatan lebih cepat menular.

Untuk itu, peran dan kesadaran masyarakat sangat diperlukan saat ini. Tagar #BersatuLawanCovid19 harus diimplentasikan semua elemen masyarakat, tidak hanya ditumpukan kepada pemerintah, dalam hal ini tenaga kesehatan (nakes), akan tetapi juga harus melibatkan masyarakat itu sendiri. Mengampanyekan sekaligus mematuhi protokol kesehatan diniscayai dapat mengeradikasi Covid-19 demi kemaslahatan kesehatan, keamanan, dan kebangkitan dari keterpurukan ekonomi selama dirundung pandemi.

Sehingga, kepatuhan terhadap protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak aman, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas (5M) adalah harga mati jika ingin mereduksi atau melandaikan kurva penularan virus corona.

Baca Juga: Kasus Covid-19 di Sulsel Mulai Melandai dan Dibawah Standar WHO,...

Kendati demikian, jika pun ada yang sudah terpapar Covid-19, isolasi mandiri dianggap sebagai langkah solutif. Hal itu juga menjadi satu-satunya cara yang harus dilakukan pasien Covid-19, baik yang tanpa gejala maupun yang bergejala ringan.

Perlu dipastikan agar isolasi mandiri (isoman) dilakukan secara benar. Saat ini, pemerintah telah menyediakan tempat isolasi terpusat dengan total lebih dari 20 ribu tempat tidur di Pulau Jawa dan Bali. Apabila tidak memungkinkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah, maka masyarakat dapat melakukan isolasi di tempat isolasi terpusat yang telah disediakan pemerintah daerah (Pemda) masing-masing.

Baca Juga: Plt Gubernur Sulsel Dapat Bantuan 20 Unit Oksigen Konsentrator

“Perlu ditekankan, syarat kasus positif yang dapat melakukan isolasi mandiri adalah hanya untuk kasus yang tidak menunjukkan gejala atau gejala ringan,” terang Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam keterangan persnya secara virtual, Kamis 15 Juli 2021.

Menurut Wiku, terdapat sejumlah prosedur yang harus diperhatikan, baik sebelum dan saat prosedur isolasi mandiri dilakukan.

“Pertama, mempersiapkan stok obat-obatan dasar seperti Vitamin C, D, Zn atau jenis obat-obatan lain sesuai anjuran dokter. Mempersiapkan alat-alat kesehatan dasar seperti termometer atau pengukur suhu dan oxymeter atau pengukur saturasi oksigen,” imbuhnya.

Baca Juga: Plt Gubernur Sulsel Dapat Bantuan 20 Unit Oksigen Konsentrator

Wiku menambahkan, yang tidak kalah pentingnya dan wajib dilakukan adalah mempersiapkan masker dan cairan desinfektan yang dapat terbuat dari air dengan sabun ataudetergen dalam jumlah cukup.

Selain itu, ia juga menekankan perlunya penyediaan ruangan terpisah yang tidak terakses anggota keluarga lainnya. Untuk itu, Wiku mengatkan penting mempersiapkan daftar kontak orang terdekat dan terpercaya maupun hotline penting guna perbantuan saat darurat.

Selanjutnya, hal yang harus diperhatikan dalam menjalani prosedur isolasi mandiri adalah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, juga berolahraga tiga hingga lima kali seminggu, makan makanan bergizi seimbang, serta mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas.

Pengelolaan sampah dan limbah harian juga harus menjadi catatan jika menjalani isolasi mandiri. Ini dianggap urgensial agar keluarga ataupun pendamping pasien corona tidak turut tertular. Hal itu, sebut Wiku, perlu dilakukan dengan hati-hati para pendamping si pasien, minimal menggunakan alat pelindung diri (APD).

“Barang habis pakai harus disimpan dalam wadah tertutup sedangkan barang tidak habis pakai harus dibersihkan terpisah dengan barang yang digunakan oleh anggota keluarga lainnya,” imbuhnya.

Wiku juga mengingatkan, perlu dilakukan disinfektan rutin khususnya terhadap alat-alat rumah tangga yang sering disentuh. Contohnya, gagang pintu, keran, toilet, wastafel, saklar, meja, dan kursi. Sirkulasi udara dan pencahayaan juga harus diperhatikan.

“Sebisa mungkin melakukan pencatatan mandiri terkait perkembangan setiap gejala dan kondisi tubuh seperti suhu tubuh, laju napas, maupun saturasi oksigen per harinya dengan alat kesehatan yang dimiliki,” imbaunya.

Wiku mengatakan, hal itu guna memudahkan proses pencatatan yang akurat bagi petugas Puskesmas yang mengawasi. Ia juga mengimbau agar pasien corona memastikan menjalani isolasi mandiri minimal 10 hari untuk kasus tanpa gejala dan 10 hari untuk kasus dengan gejala ringan, dengan tambahan tiga hari dalam keadaan tanpa gejala.

Jika terjadi kondisi memburuk yang umumnya ditandai dengan gejala demam, batuk, sesak, napas cepat dengan frekuensi di atas 30 kali per menit, Wiku menegaskan agar pasien segera menghubungi nomor darurat dan layanan dokter atau petugas Puskesmas setempat.

“Pastikan protokol kesehatan saat memobilisasi pasien ke Puskesmas atau rumah sakit agar diterapkan secara ketat, menggunakan ambulans milik pemerintah setempat dengan petugas yang mengenakan APD secara lengkap,” tegas Wiku.

Sebelumnya, saat ditemui di Kota Kupang belum lama ini, dokter paru di RSUD Siloam Kupang dr Oka Wijaya mengatakan, pasien yang teridentifikasi tertular Covid-19 harus terus memantau kondisinya.

Pemantauan itu harus dilakukan secara cermat, baik oleh si pasien sendiri maupun yang dilakukan pendamping terpercaya, yang sigap membantu dalam kondisi terburuk.

“Selalu ada akses yang terhubung baik kepada para medis, entah dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Yang pasti, penerapan protokol kesehatan tetap harus dipatuhi selain tentu saja obat-obatan pendukung kesembuhan lainnya,” kata Oka.

Jika melakukan isolasi mandiri di rumah, ayah dua putra itu menyebut harus didukung lingkungan yang baik pula.

“Saat menjalani isolasi mandiri di rumah, usahakan kondisi ruangan mendukung penyembuhan seperti harus berjendela, minimal berventilasi. Ini tujuannya agar udara dapat bersikulasi dengan baik. Khawatirnya jika tidak, udara bersih dan sehat dari luar ruangan rumah tidak bisa masuk menggantikan udara di dalam ruangan,” imbau Oka.

Bagikan