Terkini.id, Jakarta – Di masa Pandemi covid-19, anak anak mesti mendapat perhatian besar untuk dilindungi dari ancaman wabah ini.
Dalam Seminar Nasional ‘Melindungi Kesehatan Jiwa Anak di Tengah Pandemi COVID-19’ yang digelar Satgas Covid-19, terungkap jumlah anak yang terpapar covid cukup tinggi.
Asisten Deputi Perlindungan Anak Kementerian PPPA, Dra. Elvi Hendrani menjelaskan, urusan melindungi anak bukan cuma tanggungjawab pemerintah, tapi juga orang tua, masyarakat dan semua komponen dalam masyarakat.
Hingga 28 Juni 2021, tercatat, ada total 269 ribu anak terkonfirmasi covid, dari jumlah total kasus covid di Indonesia sebesar 2.135.998.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,9 persen atau 61.943 orang di antaranya adalah anak usia 0-5 tahun, dan 9,7 persen atau 207.191 adalah anak usia 6-18 tahun.
- Jubir Satgas Covid-19: SE Terbaru Pemerintah Menetapkan Bahwa Pelaku Kegiatan Berskala Besar Wajib Menunjukkan Status Vaksinasi Covid-19
- Satgas Umumkan Kasus Covid-19 Bertambah 342 di Hari Senin 6 Juni 2022
- Satgas Sebut Pengurangan Masa Karantina PPLN Bisa Diterapkan Setelah Surat Edaran Keluar
- Pemerintah Cabut Larangan Masuk 14 Negara ke Indonesia Terkait Omicron, Ini Alasannya
- Satgas Resmi Hapus Daftar 14 Negara yang Sempat Dilarang Masuk Indonesia Terkait Omicron
Untuk itu, ada 5 protokol perlindungan anak yang terus disosialisasikan Kementerian PPPA demi memastikan semua pihak bekerja sama dalam upaya perlindungan anak tersebut.
“Pertama protokol perlindungan untuk Anak penyandang disabilitas dalam situasi pandemi, kedua protokol pengelolaan data anak, ketiga protokol, pembebasan anak lewat asimilasi dan integrasi, pembebasan penangguhan dan bebas murni untuk anak yang berhd hukum,” sebutnya dikutip dari YouTube BNPB Indonesia, Jumat 23 Juli 2021.
Keempat, protokol korban tindak kekerasan dalam situasi Pandemi covid, kelima protokol keluarga dalam pengasuhan anak tanpa gejala, anak dalam pemantauan sebagai pasien anak.
Sementara itu, pemerhati anak, Seto Mulyadi mengungkapkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menunjukkan 13 persen anak Indonesia mengalami depresi.
Ini bukan hanya soal keterbatasan ruang gerak mereka yang memang dibutuhkan di usianya, tetapi juga masalah-masalah lain yang terjadi saat pembelajaran di rumah saja.
“Ada anak-anak yang mengalami susah sinyal, ponsel pintar hanya satu dan harus dibagi untuk kakak, adik, atau juga orangtuanya itu sendiri, dan masalah-masalah lain,” terang Kak Seto dalam Seminar Nasional: Melindungi Kesehatan Jiwa Anak di Tengah Pandemi Covid-19, di Youtube BNPB, Jumat 23 Juli 2021.
Dari situasi yang tidak membuat anak bahagia dan sejahtera itu, memberi dampak juga pada orangtuanya. Kak Seto pun mengungkapkan data temuannya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa kekerasan pada anak di masa pandemi Covid-19 cukup banyak terjadi.
Ada 15 catatan KPAI terkait dengan kekerasan anak yang dikemukakan Kak Seto dalam paparan materinya, berikut selengkapnya:
1. 23% : dicubit
2. 9% : dipukul
3. 9% : dijewer
4. 6% : dijambak
5. 5% : ditarik
6. 4% : ditendang
7. 4% : dikurung
8. 3% : ditampar
9. 2% : diinjak
10. 56% : dimarahi
11. 35% : dibandingkan
12. 23% : dibentak
13. 13% : dipelototi
14. 5% : dihina
15. 4% : diancam
Kak Seto sendiri mencoba menyoroti pentingnya membuat suasana di rumah ramah anak. Dari kekerasan terhadap anak yang ditemukan KPAI, Kak Seto coba menyoroti perilaku membentak.
Ini ia sadari betul masih banyak dilakukan orangtua kepada anaknya. Padahal, perilaku itu sangat tidak sehat bagi mental si anak, terlebih di situasi pandemi seperti ini yang amat rentan membuat anak depresi.
“Contoh mudahnya, saat meminta anak untuk mandi, ya, jangan dibentak, tapi bisa dengan memintanya dengan ajakan ramah. Atau soal cuci tangan juga demikian, orangtua harus jadi sahabat anak,” sarannya dikutip via okezone.
Setiap orangtua punya cara terbaiknya dalam mengasuh anak dan upayakan untuk memberikan suasana ramah anak sebagai pilihan cara terbaik tersebut.
Kak Seto juga meminta agar para orangtua berusaha untuk menjadi idola dan sahabat buat anak-anak yang banyak mengalami kebosanan atau kegelisahan terkait belajar di rumah.
Ya, semakin Anda sebagai orangtua dianggap sahabat oleh anak, maka prestasi si anak pun akan baik dan rasa aman-nyaman bakal dirasakan si anak di rumah.
“Jadilah idola dan sahabat buat si anak selama belajar di rumah. Jangan keluarkan sifat otoriter. Buatlah si anak mengidolakan Anda, bukan malah membuat si anak takut berada di rumah,” pesan penting yang ditegaskan Kak Seto.
Saat belajar di rumah, lanjutnya, perbanyak pujian dan waktu bersama dengan anak. “Acungkan jempol, beri bimbingan dengan ramah dan sopan, bahkan beri pelukan atau senyuman ke anak sebelum dan setelah belajar,” tambahnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
