Perjalanan Hidup Moeldoko, Ditangkap Kondektur dan Hampir Mati

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko / Istimewa

Terkini.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menunjuk Jenderal TNI (Purn) Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Republik Indonesia.

Moeldoko lahir di Purwoasri, Kediri, 8 Juli 1957. Sebelum pensiun dari TNI, berikut catatan perjalanan hidup Moeldoko, yang disampaikan dalam beberapa kesempatan :

1.Tidur di Mushola Setiap Malam

Moeldoko lahir dari Ayah bernama Moestaman dan Ibu bernama Masfuah. Moeldoko lahir sebagai anak bungsu dari 12 bersaudara di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, Kediri, Jawa Timur.

Empat saudaranya meninggal sejak dia kecil. Dari delapan bersaudara yang tersisa, terdiri dari lima laki-laki dan tiga perempuan.

“Bapak saya menjadi Jagabaya (perangkat keamanan desa),” kata Moeldoko.

Menjadi aparat desa sekaligus bertani sebenarnya penghasilan sang ayah terbilang cukup. Tapi karena jumlah keluarga yang besar kebutuhan hidup pun membengkak.

“Apalagi saya anak bontot, cuma dapat koret-koretan (sisa-sisa),” kata Moeldoko.

Moeldoko kecil punya kebiasaan rutin. Sepulang sekolah dia langsung digelandang ke sawah. Membantu sekadarnya, layaknya bocah desa lain dia langsung kelayapan di perkebunan tebu dengan teman-teman sebaya.

Saat sungai yang melintas di kampungnya sedang pasang, mereka berlomba renang melawan arus deras. Siapa yang bisa berenang sampai ke seberang dengan jalur paling pendek, dialah pemenangnya.

Menjelang Maghrib, Moeldoko sudah merapat ke mushola dekat rumah. Usai salat dilanjutkan ngaji dan latihan silat. Setelah itu dia tidur di mushola sampai pagi.

“Itu setiap hari. Mungkin karena anaknya banyak, ibu saya juga nggak pernah nyari saya kalau malam,” katanya.

Setiap pukul empat pagi, Moeldoko harus bangun. “Kami, anak-anak yang tidur di mushola dibangunkan Kyai Slamet, disabeti pakai ranting,” kenangnya.

Mereka harus langsung ngaji, dilanjutkan salat Subuh. Setelah itu baru pulang untuk bersiap ke sekolah.

2.Ditangkap Kondektur Kereta Api

Moeldoko melanjutkan sekolah di SMP yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Prestasinya di sekolah terhitung moncer dan selalu masuk jajaran bintang kelas. Namun sifat bandelnya tak pernah surut.

Jauhnya jarak ke sekolah memaksa Moeldoko mencari tumpangan gratis. Dan sasarannya adalah kereta api yang melintas dari Kediri menuju Jombang.

Saat kereta melintas dia langsung mengejar dan melompat, tumpangan gratis sekaligus menu olahraga setiap hari.

“Kadang-kadang apes, ditangkap kondektur,” kata Moeldoko.

Jika itu yang terjadi, sang kondektur akan menyita bukunya lalu ditipkan di stasiun. Yang boleh mengambil buku itu harus Kepala Sekolah.

Jika kebanyakan bocah usia belasan takut melapor ke Kepala Sekolah, tidak demikian bagi Moeldoko. “Pak, jukukno bukuku nang stasiun (Pak, ambilkan buku saya di stasiun),” kata Moeldoko dengan santai.

Karena sudah jadi langganan, Kepala Sekolah pun dengan santai melayani permintaan siswanya itu.

Pernah suatu hari Kepala Sekolah mengajaknya pergi ke pasar. “Saya kira mau diajak belanja atau apa?” pikirnya.

Ternyata sampai di pasar, dia diajak berbelok ke tukang cukur. “Potong rambutnya itu,” kata Kepala Sekolah kepada tukang cukur, karena risih melihat rambut Moeldoko yang terhitung panjang untuk ukuran anak sekolah.

 

3.Kesulitan, Melahirkan Inovasi

Moeldoko melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Jombang. Sekolah yang terletak di kabupaten berbeda dari rumahnya itu, membuat Moeldoko harusmenyandang status sebagai anak kos.

Rumah kos itu terletak tepat di belakang Masjid Agung Kota Jombang. “Jadi, meskipun bandelnya tidak sembuh, tapi salat dan ngaji tidak pernah ketinggalan,” katanya.

Hidup terpisah dengan orangtua, Moeldoko harus pandai-pandai berhemat. Setiap kali usai pulang dari rumah dan kembali ke Jombang, Ibunya selalu membekali Moeldoko dengan orek tempe dalam toples untuk lauk makan.

Cukup dengan nasi, bekal itu dia hemat untuk bisa jadi menu harian. “Kadang baunya sampai tengik, karena sudah berhari-hari,” kata Moeldoko.

Dari rumahnya menuju Jombang, Moeldoko harus naik bus. Perjalanan dengan bus berakhir di sebuah persimpangan jalan. Dari sana dia harus meneruskan naik angkutan umum menuju rumah kos yang jaraknya lumayan jauh.

Masalahnya, jika uang saku dia pakai membayar ongkos angkutan umum, berarti jatah makan berkurang. Tetapi jarak masih cukup jauh.

“Di persimpangan itu, saya sering merenung sampai sejam. Saya merasakan benar, susahnya jadi orang miskin,” kata Moeldoko.

Saat ini, tepat di depan persimpangan itu, berdiri Masjid Moeldoko. Masjid yang dia bangun saat menjabat Panglima TNI. Disana, sebuah papan tertancap dengan tulisan “Jalan Perenungan”.

Sebuah penanda untuk mengingatkan masa-masa kesusahan dalam hidupnya.

Minimnya uang saku itu membuatnya lebih “cerdas”. Pernah suatu saat ada pertunjukan musik di Jombang. Dia menggalang teman-temannya menyediakan tempat parkir sepeda.

Dari situ dia mendapatkan uang dan bisa dipakai untuk jajan lebih istimewa dari hari biasa. “Padahal ya cuma minum es, tapi rasanya dah kayak orang berduit,” katanya.

Tidak cuma itu, saat ada familinya yang mendapat proyek pembangunan plengsengan, dia diminta membantu. Oleh familinya dia diberikan tugas mengatur 21 truk yang mengangkut batu dari Nganjuk menuju Kertosono.

Dia punya anak buah para sopir untuk memastikan pasokan batu tidak terlambat, dan proyek berjalan lancar. “Tapi ibu saya mengingatkan, hati-hati sekolahmu jangan putus,” katanya. Sehingga usai proyek itu dia kembali sekolah.

4.Mendaftar Transmigran Malah Jadi Tentara

Menjadi tentara, tidak pernah terlintas dalam cita-cita Moeldoko. Tapi dia ingat saat kelas 5 SD, ada seorang tentara yang seringkali melintas di desanya dengan menggunakan vespa. Sang tentara itu bukan sedang bertugas, tetapi ke kampung Moeldoko hanya untuk mendatangi seorang gadis yang menjadi bunga desa.

Saat itu dia langsung mendatangi Ibunya yang sedang masak di dapur. “Bu, aku kepingin jadi tentara,” Moeldoko mengingat kembali sambil terbahak.

Moeldoko sadar betul orangtuanya tidak akan mampu membiayai jika dia melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Dia mencari akal untuk bisa langsung bekerja selepas SMA.

Belum lagi lulus, Moeldoko mendatangi kantor transmigrasi setempat. “Saya mau mendaftar berangkat transmigrasi,” katanya.

Sampai di kantor transmigrasi, petugas yang menerimanya malah tersenyum melihat pemuda tanggung yang ngotot berangkat transmigrasi.

“Kamu masuk tentara saja. Sekolahnya gratis, langsung kerja dan dibayar,” kata sang petugas.

Saran dari pegawai transmigrasi itu ternyata sangat berkesan bagi Moeldoko. Saat ada pendaftaran taruna militer, dia berangkat ke Surabaya.

“Saya berempat mendaftar. Kami berdua diterima, sisanya gagal,” kata Moeldoko.

Setelah lolos seleksi di daerah, maka 97 orang calon taruna diberangkatkan dengan dua bus menuju ke Magelang. Tetapi naas menimpa di perjalanan.

Baru sampai di  Caruban, saat hendak melintasi jembatan, bus berpapasan dengan truk dari arah berlawanan. Di jembatan sempit itu, dua bus dan truk bersenggolan. Bus yang mengangkut calon taruna jatuh berguling di jurang.

Mereka semua langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Madiun untuk mendapat perawatan, tidak terkecuali Moeldoko.

“Saya lupa berapa yang meninggal. Seingat saya 18 orang gagal masuk Akabri akibat kecelakaan itu. Kalau saya yang ikut mati, ya gak pernah ada Panglima bernama Moeldoko,” kenangnya.

 

5.Target Karir Nyaris Tak Meleset

Moeldoko lulus Akademi Militer di Magelang dengan meraih Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama pada 1981. Artinya, dia menjadi lulusan terbaik bukan hanya untuk matra Angkatan Darat, tetapi juga untuk ketiga matra.

Selepas lulus Akademi, Moeldoko memulai karirnya di militer. Saat masih berpangkat Letnan Satu, dia ingat mengambil kertas kosong dan menggambarkan garis lurus. Pada garis itu dia menuliskan angka-angka tahun.

Dia menuliskan target karir yang harus dicapai pada tahun-tahun tersebut. Mulai dari Komandan Batalyon, Pangdam  dengan ujung garis dia tuliskan jabatan Panglima TNI.

“Untuk seorang prajurit yang tidak punya background, tanpa beking, tidak ada siapa-siapa yang membantu, menjadi Panglima itu kayak orang bermimpi,” kata Moeldoko.

Hebatnya, semua target itu berhasil dia capai persis dan nyaris tidak meleset. “Yang saya tidak duga, pada 2011 saya diminta Presiden SBY menjadi Wakil Gubernur Lemhanas,” kata Moeldoko.

Saat itu Presiden memintanya membantu pembenahan tata kelola di Lemhanas. Salah satu pembenahan dilakukan pada penataan kurikulum. Bahkan kurikulum baru itu, seringkali disebut sebagai Kurikulum Moeldoko.

Gaya kepemimpinan di Lemhanas bukan tanpa kritik. Kebiasaan Moeldoko menerapkan disiplin militer diantaranya masuk paling pagi, sempat membuat risih pegawai Lemhanas.

“Di lift pagi-pagi saya temukan tulisan : Ini bukan militer,” kata Moeldoko sambil tersenyum.

Namun saat purna tugas, banyak yang merasakan manfaatnya. Renumerasi naik, kapasitas meningkat, hingga banyak yang merasakan perbaikan di Lemhanas.

Kebiasaan membuat inovasi tak pernah surut dalam diri Moeldoko. Saat bertugas sebagai Panglima Daerah Siliwangi, Gunung Bohong di Cimahi, Jawa Barat yang biasa menjadi arena latihan menembak dilihatnya gersang dan tidak produktif.

Moeldoko menyulap kawasan itu dengan membuat lima lapangan sepakbola, joging trek, dan arena motocross.

Arena balap motor di Gunung Bohong dibuat untuk mengurangi banyaknya genk motor. “Setelah arena jadi, saya ancam. Kalau ada anak tentara yang ketahuan masih ikut genk motor, karir bapaknya saya habisin,” kenang Moeldoko.

Ternyata, hasilnya mengejutkan. Genk motor langsung hilang. Bahkan arena tersebut kini menjadi arena Kejurnas Motocross.

Kemampuan Moeldoko berinovasi dengan menghasilkan substitusi ini terbukti selalu menjadi solusi yang ampuh.

 

6.Kembali Bertani Saat Pensiun

Purnatugas sebagai Panglima TNI, Moeldoko kembali pada hasratnya pada bidang pertanian. Moeldoko membangun perusahaan riset pertanian hingga menghasilkan bibit-bibit unggul. Sudah ada dua bibit padi unggul yang dihasilkan, M70D dan M400.

Keunggulan bibit M70D, hanya membutuhkan 70 hari padi siap panen. Sehingga setahun bisa empat kali panen.

Sementara M400 merupakan bibit unggul dimana dari satu tangkai, bisa berisi 400 bulir padi. Inisial M di depan nama bibit unggul itu, merupakan inisial dari Moeldoko. Selain bibit padi unggul, perusahaan juga menghasilkan bibit unggul jagung dan kentang.

Moeldoko mengaku pilihan terjun ke bidang pertanian karena dua alasan. Pertama, dia mengaku sedih melihat nasib petani. Setiap kali cuti dan pulang ke kampungnya di Kediri, seringkali hasil panen tidak maksimal. Alasan kedua berkaitan dengan cara berfikirnya sebagai militer.

Dalam strategi militer, Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau besar harus punya kemampuan untuk bertahan dan tidak saling tergantung dengan pulau lain. Jadi, jika sebuah pulau direbut lawan, maka pulau lain harus mampu bertahan setidaknya dalam kebutuhan pangan.

“Kemandirian logistik akan membuat Indonesia bertahan jika terjadi perang berkepanjangan,” kata Moeldoko.

Selain di bidang pertanian, Moeldoko juga berfikir melompat ke depan dalam menghadapi teknologi. Sekitar tiga tahun lalu, dia mulai membangun bisnis kendaraan listrik. Perusahaan yang didirikannya diberi nama PT Mobil Anak Bangsa (MAB). Perusahaannya itu kini menghasilkan bus listrik.

“Nantinya kendaraan listrik harganya akan makin terjangkau. Dan ini energi yang bersih buat lingkungan,” kata Moeldoko.

Berita Terkait
Komentar
Terkini