Petani di Sulsel Lebih Memilih Menjual Gabah ke Tengkulak Ketimbang ke Bulog

Petani di Sulsel Lebih Memilih Menjual Gabah ke Tengkulak Ketimbang ke Bulog

R
Muh Nasruddin
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Sulsel – Sejumlah petani di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) lebih memilih menjual gabah ke tengkulak atau pengumpul ketimbang harus menjual ke pemerintah atau Bulog.

Hal itu dikarenakan, harga yang ditawarkan oleh tengkulak lebih tinggi daripada Bulog. Meskipun selisih harganya cuma Rp300 – Rp500 per kilogram.

Adapun harga dalam bentuk gabah kering panen (GKP) yang ditawarkan pengumpul bagi para petani, antara Rp5.300 hingga Rp5.500 per kilogram.

Ada pun harga pengadaan Bulog dalam rangka pengisian CBP untuk Gabah Kering Panen (GKP) di petani Rp5.000 per kilogram (kg), Gabah Kering Giling (GKG) di penggilingan Rp6.200 per kg, GKG di Gudang Perum Bulog Rp 6.300 per kg, dan beras di Gudang Perum Bulog Rp 9.950 per kg.

Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 62/KS.03.03/K/3/2023 tentang Fleksibilitas Harga Gabah atau Beras dalam Rangka Penyelenggaraan Cadangan Beras Pemerintah (CBP),

Seperti yang terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), petani memilih menjual gabahnya ke tengkulak alias pengumpul, ketimbang kepada bulog, karena harga beli yang ditawarkan lebih tinggi.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Sulsel Muhammad Yunus mengatakan, meski Bulog turun menyerap gabah petani, tapi petani memilih menjual ke swasta.

“Petani-petani sekarang sudah pintar, pasti mereka jualnya ke yang mau beli dengan harga tinggi, mereka jual ke sana. Dan juga, para petani itu sudah mengecek, apakah timbangan yang dipunya swasta itu sudah ditera atau belum. Kalau belum, mereka tidak akan menjul gabah ke sana,” ungkap Yunus, Selasa 14 Maret 2023.

Yunus juga menambahkan, pihaknya sudah menyampaikan kepada para petani, jika ada swasta yang timbangannya belum ditera, itu ada penipuan, dan silahkan lapor polisi.

“Atau lapor ke saya, biar KTNA yang minta polisi untuk menangkapnya, karena itu penipuan,” tambahnya.

Sementara Bulog sendiri, menurut Pemimpin Wilayah Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulawesi Selatan dan Barat, Bakhtiar AS, pihaknya sudah menyerap gabah milik petani, secara bertahap, karena panen baru mulai dan belum massif.

Saat ini yang sudah masuk musim panen baru di wilayah-wilayah sentra seperti Kabupaten Wajo, Bone, Sidenreng Rappang (Sidrap), Soppeng, dan Kota Parepare, Sulsel.

“Pastinya kami membeli sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang berlaku 11 Maret 2023, sesuai Surat Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 62/KS.03.03/K/3/2023 tentang Fleksibilitas Harga Gabah atau Beras dalam Rangka Penyelenggaraan Cadangan Beras Pemerintah (CBP),” jelas Bakhtiar.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.