Terkini.id, Jakarta – Willy Aditya, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem, menyebut kemungkinan beban utang negara yang disampaikan Presiden PKS Ahmad Syaikhu merupakan hal yang klasik dan tidak pernah terbukti.
Menurut Willy, narasi tersebut terlampau klasik sebab hanya mengulang narasi-narasi sebelumnya, seperti jumlah utang, beban generasi, bangkrut, dan seterusnya. Namun, narasi itu tak pernah terbukti dan masyarakat tetap menjalani hidup seperti biasa.
“Apa yang terjadi kemudian, kehidupan berjalan biasa saja, tidak bangkrut seperti yang diprediksi oleh Syaikhu dkk bertahun-tahun lalu karena pengelolaan yang digariskan Undang Undang,” Ujar Willy, dikutip dari CNN Indonesia, 1 Januari 2022.
Willy mengingatkan Syaikhu bahwa politik bukan sekadar mencari sensasi seperti lewat narasi utang. Masyarakat kata dia perlu diberikan pendidikan politik. Soal utang, lanjutnya, publik juga perlu diedukasi.
Willy tak menampik, pemerintah atau negara memang memiliki beban utang. Namun, kata dia, politik juga perlu menjelaskan penggunaan utang tersebut. Misalnya, untuk apa utang itu digunakan, bagaimana pengelolaannya, apa yang didapat dari utang, hingga berapa produksi nasional.
Menurut Willy, angka utang juga merepresentasikan banyak hal. Ada cerita di balik angka yang perlu disampaikan ke publik.
“Utang untuk menghadapi disrupsi ekonomi, kesehatan, dan proyeksi masa depan saya kira wajar meningkat selama itu semua dilakukan sesuai konstitusi dan untuk kepentingan rakyat,” katanya.
Anggota Komisi XI DPR itu menilai hingga saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang cukup bertahan di tengah badai krisis ekonomi global selama pandemi Covid-19. Sehingga, narasi mencekam dan negatif lainnya soal utang hanya akan memukul optimisme masyarakat.
“Tidak memberdayakan, justru melemahkan. Kalau pilihan politik Syaikhu adalah untuk menularkan mentalitas lemah, murung, penakut, bahkan dekonstruksionis kepada publik, ya mereka akan mendapat apa yang telah dituainya,” tuturnya
Dalam pidato akhir tahunnya, Presiden PKS Ahmad Syaikhu sebelumnya memperkirakan Presiden Joko Widodo akan mewariskan utang hingga Rp7 ribu triliun di akhir masa jabatan.
Anggota Komisi XI DPR tersebut menilai hingga saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang cukup bertahan di tengah badai krisis ekonomi global selama pandemi Covid-19. Sehingga, narasi mencekam dan negatif lainnya soal utang hanya akan memukul optimisme masyarakat.
“Tidak memberdayakan, justru melemahkan. Kalau pilihan politik Syaikhu adalah untuk menularkan mentalitas lemah, murung, penakut, bahkan dekonstruksionis kepada publik, ya mereka akan mendapat apa yang telah dituainya,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu menduga Presiden Joko Widodo akan mewariskan utang yang sangat besar ketika lengser pada 2024 mendatang.
Setuju dengan prediksi para ahli, Syaikhu menyebut warisan utang akan lebih dari Rp7 ribu triliun.
“Artinya, dalam 10 tahun pemerintahan, Presiden Jokowi akan mewariskan tambahan utang negara, lebih dari Rp7 ribu triliun,” katanya di kanal YouTube resmi PKS, Kamis 30 Desember 2021 malam.
Jumlah itu lebih banyak ketimbang saat Susilo Bambang Yudhoyono menyudahi dua periode masa jabatan presiden. Pada 2014 lalu, utang luar negeri Indonesia hanya sekitar Rp2.700 triliun.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
